Kubu Jokowi Dihantui Tingginya Angka Golput

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengendara melintas di depan mural (gambar dinding) tentang Pemilu 2019, di Jalan Samudera, Padang, Sumatera Barat, Selasa 12 Februari 2019. Mural tersebut mengajak warga untuk mensukseskan Pemilu pada 17 April 2019 dengan dengan berpartisipasi dan tidak

    Pengendara melintas di depan mural (gambar dinding) tentang Pemilu 2019, di Jalan Samudera, Padang, Sumatera Barat, Selasa 12 Februari 2019. Mural tersebut mengajak warga untuk mensukseskan Pemilu pada 17 April 2019 dengan dengan berpartisipasi dan tidak "golput". ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra

    TEMPO.CO, Jakarta - Tim Kampanye Nasional Jokowi - Ma'ruf Amin dibayang-bayangi kekhawatiran tingginya golput dalam Pemilhan Presiden atau Pilpres 2019.

    Baca: Pengamat: Korelasi Angka Golput dengan Kekalahan Jokowi Rancu

    Juru bicara TKN Jokowi - Ma'ruf Amin, Ace Hasan Syadzily, menengarai, angka golput kali ini akan cukup tinggi seperti pemilu-pemilu sebelumnya. "Kalau dilihat dari kecenderungan pemilu di era reformasi, rata-rata 30 persen," kata Ace saat dihubungi Tempo pada Selasa malam, 19 Maret 2019.

    Kekhawatiran akan tingginya angka golput tersebut juga menjadi pembahasan dalam acara konsolidasi TKN dengan para kepala daerah dan pimpinan parlemen di Hotel Borobudur, Jakarta pada Ahad malam, 17 Maret 2019.

    Wakil Sekretaris TKN Verry Surya Hendrawan membenarkan bahwa potensi golput menjadi salah satu pembahasan saat memaparkan survei internal terkait elektabilitas Jokowi di sejumlah daerah.

    Tonton: Video Viral Jokowi Yes Yes Yes, Ini Tanggapan Polisi

    "Kemantapan pemilih sudah 80 persen. Namun, yang menjadi kekhawatiran kami untuk saat ini adalah golput," ujar Verry di Hotel Borobudur, Jakarta pada Ahad malam, 17 Maret 2019.

    Hasil sigi teranyar Lingkaran Survei Indonesia (LSI) memprediksi, angka golput pada pilpres kali ini akan meningkat. Prediksi itu berdasarkan hasil sigi LSI yang menunjukkan kurang lebih sebulan menjelang pemilihan presiden 2019, pemilih yang tahu pelaksanaan pilpres akan dilaksanakan pada bulan April 2019 hanya sebesar 65,2 persen.

    Dari mereka yang tahu bahwa pilpres akan dilaksanakan April 2019, sebesar 75,8 persen bisa menjawab dengan benar bahwa tanggal pelaksanaan Pilpres 2019 adalah 17 April 2019. "Artinya jika ditotal secara populasi, hanya 49,4 persen dari pemilih Indonesia yang mendapat informasi dan menjawab dengan benar bahwa pelaksanaan pilpres dan pileg dilangsungkan pada tanggal 17 April 2019," kata Ikrama di kantornya, Jalan Pemuda, Jakarta Timur pada Selasa, 19 Maret 2019.

    LSI menyebut kubu Jokowi yang paling dirugikan jika angka golput di Pilpres 2019 besar. Ikrama Masloman merinci, Jokowi dirugikan jika Golput banyak terjadi di segmen minoritas, milenial, wong cilik, dan muslim moderat. Empat segmen ini dinilai menyumbang banyak suara untuk Jokowi.

    Simak juga: Jerinx SID Pilih Golput untuk Menekan Pemerintah

    "Sementara Prabowo - Sandiaga dirugikan jika Golput banyak terjadi di segmen kalangan terpelajar dan muslim dari FPI, HTI, jaringan PKS," kata Ikrama.

    Survei terbaru lembaga Indikator Politik pada Desember tahun lalu juga menunjukkan indikasi naiknya angka golput. Dalam sigi itu, responden yang secara tegas menyatakan tidak akan memilih mencapai 1,1 persen. Jumlah tersebut naik 0,2 persen dibanding survei dua bulan sebelumnya.

    Direktur Eksekutif Indikator Politik, Burhanuddin Muhtadi, memprediksi jumlah riil golput saat ini bisa di atas 20 persen jika kelompok yang belum memutuskan pilihan (9,2 persen) dan pemilih mengambang (14 persen) ikut-ikutan tidak mencoblos.

    Burhanuddin berpendapat golput bisa menggerus elektabilitas kedua pasangan calon. Siapa yang lebih dirugikan dan yang diuntungkan, itu bergantung pada wilayah dan segmen demografi. Pada 2014, menurut dia, Jokowi unggul 6 persen karena tingkat soliditas pendukung Prabowo lebih rendah.

    “Jadi, golput di kalangan pemilih Prabowo saat itu mendukung kemenangan Jokowi,” katanya. “Bagaimana 2019? Lagi-lagi tergantung wilayah. Plus sekarang banyak pendukung idealis yang mulai berpikir ulang soal dukungannya ke Jokowi.”

    Penelitian lembaga Hicon Law & Policy Strategy--lembaga riset hukum dan kajian politik-- juga memprediksi jumlah golput tahun ini bakal tinggi seperti pada Pemilu 2009 dan 2014, yang mencapai masing-masing 28,3 persen dan 29,01 persen.

    Simak juga: Golput Tinggi Rugikan Jokowi, TKN: Bisa Berubah Sampai Coblosan

    Direktur Komunikasi Politik Tim Kampanye Nasional Jokowi - Ma'ruf, Usman Kansong mengatakan, kubunya terus berupaya mengurangi golput. Kelompok muda menjadi target utama kampanye anti-golput kubu nomor 01. “Kami memberikan imbauan lewat media dan menarik tokoh nasional untuk kampanye anti-golput,” ujar Usman Kansong, beberapa waktu lalu.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.