Tes HIV Bisa Dilakukan Secara Mandiri, Praktis, dan Akurat

Oleh:
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tes HIV Bisa Dilakukan Secara Mandiri, Praktis, dan Akurat

    Tes HIV Bisa Dilakukan Secara Mandiri, Praktis, dan Akurat

    INFO BISNIS - Yang umum diketahui, kalangan pekerja tunasusila dan gay termasuk kelompok yang paling rentan terjangkit HIV(Human Immunodeficiency Virus). Namun, ternyata ibu rumah tangga dan bayi pun juga memiliki resiko tertular. Cara penularan HIV/AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome), yaitu melalui hubungan seksual, berbagi jarum suntik, transfusi darah dan penerima donor organ tubuh, serta ibu hamil positif HIV ke bayinya. Penularan kepada bayi bisa terjadi saat janin masih berada di dalam rahim.

    Di Indonesia, menurut data dari Kementerian Kesehatan, jumlah kumulatif infeksi HIV yang dilaporkan sampai Juni 2018 sebanyak 301.959 jiwa. Angka ini hanya 47 persen dari estimasi jumlah orang dengan HIV/AIDS (ODHA) pada 2018 sebanyak 640.443 jiwa. Stigma HIV sebagai aib membuat pengidapnya menutup diri dari masyarakat. Karena stigma ini pula, membuat orang-orang yang berpotensi dan punya kemungkinan terjangkit virus enggan melakukan tes HIV.

    Padahal, semakin cepat terdeteksi dan ditangani, risiko terkena AIDS bisa ditekan. HIV bisa dikendalikan sedini mungkin sehingga bisa menekan peluang timbulnya AIDS dengan menjalani pengobatan AntiRetroViral (ARV). Jadi penting untuk melakukan tes HIV sejak dini. Setiap orang yang aktif secara seksual perlu menjalani tes apabila telah melakukan hubungan seks berisiko. Pasangan yang merencanakan pernikahan dan kehamilan serta wanita hamil juga perlu menjalani tes.

    Untuk mengetahui apakah terinfeksi HIV, bisa dilakukan melalui tes darah di dokter atau klinik yang memiliki laboratorium khusus. Dengan kemajuan teknologi, telah beredar alat screening HIV secara mandiri seperti ONESTEP HIV TEST. “Alat ini dapat membaca status HIV melalui sample darah dalam 10-15 menit,” ujar Yoevan Wiraatmaja, Presiden Direktur PT Danpac Pharma, distributor tunggal ONESTEP di Indonesia.

    Untuk akurasi hasil, disarankan melakukan tes pertama minimal setelah tiga bulan melakukan aktivitas seksual berisiko. Hasil negatif tes pertama bukan berarti terbebas dari HIV, tubuh umumnya mulai membentuk antibodi sekitar tiga minggu sampai tiga bulan setelah terjangkit. Periode ini disebut dengan periode jendela yang bisa bertahan hingga 42 hari. “Seberapa cepat tubuh membentuk antibodi bisa berbeda antar satu orang dengan yang lainnya,” kata Yoevan.

    Untuk memastikan hasilnya direkomendasikan menjalani tes lanjutan setiap tiga bulan sebanyak dua kali. Adapun jika terbukti negatif maka bukan berarti bisa terus melakukan perilaku berisiko. “Biasakan gaya hidup sehat dan  hindari perilaku seksual berisiko,” ujar Yoevan. Adapun bila hasil tes mandiri ini positif, perlu dipastikan kembali dengan uji laboratorium untuk kemudian berkonsultasi dengan dokter dan dapat mengakses pengobatan ARV.

    ONESTEP HIV TEST yang telah lulus evaluasi reagensia HIV oleh RSCM dan izin edar dari Kemenkes banyak tersedia di penjualan online atau apotek-apotek. “Di dalam kemasannya kami juga telah melengkapi dengan buku panduan yang menjelaskan bagaimana cara pakai. Kami juga menyediakan kontak dengan customer service yang siap membantu,” kata Yoevan. (*)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.