Penyebab Hoaks Tak Pengaruhi Elektabilitas Calon Presiden

Dua pasangan calon presiden dan wakil presiden Joko Widodo - Maruf Amin dan Prabowo Subianto - Sandiaga Uno menaiki panggung jelang ikuti sesi debat perdana capres - cawapres di Pilpres 2019 di Jakarta, Kamis 17 Januari 2019. TEMPO/Subekti.

TEMPO.CO, Jakarta - Penyebaran berita bohong atau hoaks dinilai tak banyak berpengaruh pada elektabilitas Joko Widodo - Ma’ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Salahuddin Uno pada pemilihan presiden tahun ini.

Berita terkait: Menangkan Jokowi di Madura, Samawi Fokus Tangkal Hoaks

 

Peneliti senior lembaga survei Indikator Politik Indonesia, Rizka Halida, mengatakan hoaks hanya ramai menjadi perbincangan di kalangan pendukung calon presiden. “Hoaks laku di kalangan pendukung, tapi tak menggoyang ‘iman’ politik pendukung pasangan calon lain,” kata Rizka di Jakarta, Selasa, 5/3.

Rizka mengatakan kecenderungan tersebut muncul setelah sejumlah survei tak menunjukkan perubahan di tengah kabar hoaks yang semakin gencar. Menurut dia, hal ini dipengaruhi beberapa faktor. Misalnya, faktor keterbukaan selektif publik untuk menentukan mana yang harus diperhatikan dan mana yang harus diabaikan (selective exposure).

Faktor lain adalah kecenderungan untuk memperhatikan informasi yang mendukung hal-hal yang dipercaya benar (confirmation bias). “Kalau ada hoaks yang menimpa calonnya, mereka akan curiga bahwa hoaks itu disebarkan lawan. Kalau hoaks menimpa lawan, mereka cenderung percaya,” ujarnya.

Kecederungan ini tertangkap dalam survei Indikator Politik Indonesia yang dirilis pada awal Januari lalu. Dalam survei Media Sosial, Hoaks, dan Sikap Partisan dengan 1.220 responden dan tingkat kesalahan 2,9 persen.

Peneliti dari Departemen Politik dan Perubahan Sosial Center for Strategic and International Studies, Arya Fernandes, mengatakan hal senada. Menurut dia, penyebaran hoaks lebih berpengaruh pada pemilih yang belum menentukan sikap. “Hoaks lebih berpengaruh pada tingkat partisipasi dan meningkatkan angka golput,” ujarnya. Arya berpendapat bahwa keberadaan hoaks cenderung mengikis tingkat kepercayaan kalangan milenial yang tak terafiliasi dengan kelompok politik praktis.

Efek kabar kibul kembali menjadi sorotan setelah Jokowi mengeluhkan penurunan elektabilitas sebesar 8 persen di Jawa Barat beberapa waktu lalu.

Direktur Relawan Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma’ruf, Maman Imanul Haq, mengatakan timnya telah mengerahkan relawan seperti Timsus 1901, Milenial Muslim, Relawan Santri KMA (Kiai Ma’ruf Amin), dan Anak Republik untuk menangkal kabar hoaks. “Mereka bergerak sistematis, masif, dan militan menjaga suara,” ujarnya.

Adapun juru bicara Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandi, Andre Rosiade, mengatakan hal serupa. Sambil memantau percakapan di media sosial, ia menjelaskan, Badan Pemenangan meminta para calon legislator, relawan, dan simpatisan memberi pesan positif tentang Prabowo kepada publik. “Masyarakat mulai obyektif dan rasional dan stigma negatif mulai terkikis,” tuturnya.

DEWI NURITA






CekFakta #175 Tantangan Mengantisipasi Hoaks di Tahun Politik

3 hari lalu

CekFakta #175 Tantangan Mengantisipasi Hoaks di Tahun Politik

Trusted Media Summit APAC 2022 Sesi Indonesia berfokus pada upaya membaca tren hoaks di tahum politik dan masa depan jurnalisme


Peretas Meki Unggah Kebocoran 26 Juta Data Polri, Divisi Humas: Data Usang

4 hari lalu

Peretas Meki Unggah Kebocoran 26 Juta Data Polri, Divisi Humas: Data Usang

Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Dedi Prasetyo mengatakan, data yang dibocorkan oleh peretas itu adalah data usang.


Indonesia Dilaporkan Gelar Pembicaraan Rahasia dengan Israel, Kemlu: Hoaks!

7 hari lalu

Indonesia Dilaporkan Gelar Pembicaraan Rahasia dengan Israel, Kemlu: Hoaks!

Kementerian Luar Negeri RI membantah kabar ini sebagai pola lama dari media Israel untuk mengejar keuntungan.


CekFakta #174 BBM Naik, Waspada Hoaks Soal Bansos

9 hari lalu

CekFakta #174 BBM Naik, Waspada Hoaks Soal Bansos

Isu harga BBM naik dan kebijakan bansos dari pemerintah memicu hoaks beranak secara luas.


Tim Siber Polri Tangkap Penjual Es di Madiun Terduga Bjorka, Apa Tugas Siber Polri?

10 hari lalu

Tim Siber Polri Tangkap Penjual Es di Madiun Terduga Bjorka, Apa Tugas Siber Polri?

Tim siber Polri sempat tangkap penjual es di Madiun terduga peretas Bjorka, meski menjadi tersangka kemudian dipulangkan. Apa saja tugas Siber Polri?


BCA Bantah Biaya Transaksi Naik Jadi Rp 150 Ribu per Bulan: Penipuan

12 hari lalu

BCA Bantah Biaya Transaksi Naik Jadi Rp 150 Ribu per Bulan: Penipuan

BCA menemukan adanya indikasi penipuan dari beredarnya pengumuman pembaruan biaya transaksi BCA Mobile dan internet banking.


Pengenalan Mahasiswa Baru Politeknik Tempo, Redaktur Tempo Ajak Mahasiswa Perangi Hoaks

13 hari lalu

Pengenalan Mahasiswa Baru Politeknik Tempo, Redaktur Tempo Ajak Mahasiswa Perangi Hoaks

Para Mahasiswa baru Politeknik Tempo angkatan 2022/2023 mengikuti Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) hari kedua pada Selasa, 13 September 2022.


CekFakta #173 Beda Perilaku Tiap Generasi Hadapi Hoaks

15 hari lalu

CekFakta #173 Beda Perilaku Tiap Generasi Hadapi Hoaks

netizen Indonesia, kini semakin lihai mengecek fakta. Namun, semakin sungkan mengingatkan orang lain yang menyebarkan hoaks


Deolipa Yumara Belum Ada Jadwal Klarifikasi Laporan Balik soal Kasus Brigadir J

16 hari lalu

Deolipa Yumara Belum Ada Jadwal Klarifikasi Laporan Balik soal Kasus Brigadir J

Eks pengacara Bharada E, Deolipa Yumara, dilaporkan ke polisi oleh Aliansi Advokat Anti Hoax perihal ucapannya dalam kasus Brigadir J dan Ferdy Sambo


Ramai Kabar Soal Data Pentingnya Bocor, BIN: Hoaks Itu

18 hari lalu

Ramai Kabar Soal Data Pentingnya Bocor, BIN: Hoaks Itu

Belakangan ini ramai terdengar kabar bahwa data penting milik Badan Intelijen Negara atau BIN bocor. Benarkah?