Marzuki Kill The DJ, 5 Sepak Terjangnya di Ranah Sosial-Politik

Reporter:
Editor:

Tulus Wijanarko

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Marzuki, dari Kill The DJ tampil dalam konser Svara Bumi di Rollingstone Cafe, Jakarta, Selasa malam 30 September 2014. TEMPO/Nurdiansah

    Marzuki, dari Kill The DJ tampil dalam konser Svara Bumi di Rollingstone Cafe, Jakarta, Selasa malam 30 September 2014. TEMPO/Nurdiansah

    TEMPO.CO, Jakarta - Marzuki Mohammad alias Marzuki Kill The DJ, 42 tahun, tengah menjadi perhatian publik karena reaksi kerasnya terhadap pendukung calon presiden Prabowo yang ia tuding mencuri karyanya, berjudul Jogja Istimewa.

    Kegeraman Marzuki Kill The DJ tercermin di akun Twitter miliknya saat mengomentari sebuah video yang menampilkan lagu ciptaannya itu diganti dengan lirik yang mengandung unsur dukungan untuk pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno.

    Marzuki Kill The Di adalah musisi hip-hop Yogyakarta dan bersama rekan-rekannya pernah mempelopori musik hip-hop berbahasa Jawa sejak tahun 2000an. Marzuki mendirikan Jogja Hip Hop Foundation (JHF) yang merupakan wadah kreasi musisi hip-hop Yogyakarta. JHF terdiri dari tiga grup, yakni Kill The DJ, Rorta dan Jahanam.

    Marzuki Kill The DJ dikenal juga mempunyai perhatian terhadap isu-isu sosial politik. Tak jarang ia ikut terjung langsung dlama berbagai aksi di lapangan. Berikut lima diantaranya.

    2009

    Marzuki menulis lagu untuk merespon kisruh antara KPK dengan Polisi yang kerap disebut dengan Cicak Vs Buaya.  Masyarakat menunjukkan dukungan yang bergelombang terhadao KPk, termausk Marzuki yang menulis lagu Ono Cicak Nguntal Boyo. Salah satu bait lagu itu berbunyi Ono Cicak Nguntal Boyo/ Boyo coklat nyekel godo/ Ojo seneng nguntal negoro/ Mundak rakyatmu dadi sengsoro

    2010

    Marzuki meluncurkan lagu Jogja Istimewa dan dinyanyikan saat unjuk rasa besar mendukung penetapan Gubernur dan Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta di Yogya. Lagu ini seperti ditahbiskan banyak orang sebagai lagu rakyat, penciri kota budaya itu. "Bukan semata-mata kami mendukung monarki. Tapi agar Jogja menjadi kebanggaan Indonesia," kata Marzuki saat konser di menjelaskan.

    2012

    Marzuki terlibat dalam aksi memprotes penyerangan diskusi dengan penulis buku Allah, Love and Liberty, Irshad Manji, di LKIS Yogyakarta. Dia terlibat langsung dalam perencanaan aksi yang menyatukan warga Yogyakarta untuk menolak aksi kekerasan. Kemudian disepa­kati aksi itu dinamakan Gerayak atau Gerakan Rakyat Yogyakarta Anti Kekerasan. Ia pun gencar bercuap-cuap di akun Twitter-nya. ”Jika Anda mendukung kebinekaan, cinta damai, dan kebebasan berekspresi, ulurkan tangan Anda, dan kita bergerak bersama.”

    2014 

    Marzuki Mohamad meluncurkan  karyanya berjudul Bersatu Padu Coblos No 2 yang meenunjukkan dukungan dia kepada Joko Widodo – Jusuf Kalla dalam Pilpres tahun itu, di kanal youtube. Dalam video tersebut, rapper Jawa ini memakai kemeja putih dan sekilas memang mirip Jokowi.

    2014

    Kelompok musik JHF merilis lagu baru secara digital berjudul Jogja Ora Didol (Jogja Tidak Dijual). Liriknya tidak hanya mengandung kritik atas kebijakan penataan kota yang justru membuat Yogyakarta semrawut. Tapi juga kritik atas penanganan kasus premanisme dan kekerasan berkedok agama yang anti-kebinekaan.  

    Lagu itu diluncurkan bertepatan dengan ulang tahun ke-10 JHF, 20 Juni, pukul 00.00. Mereka menyertakan tiga tuntutan. "Kami tuntut terciptanya daerah sebagai rumah yang memanusiakan manusia. Dan pemerintah punya kebijakan nyata untuk melindungi seluruh warga secara jasmani dan rohani," kata pentolan JHF Marzuki Kill The DJ, melalui siaran pers.

    TEMPO.CO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.