Beda Gaya Komunikasi Politik Jokowi dan Prabowo versi Pengamat

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dua calon presiden, Joko Widodo alias Jokowi dan Prabowo Subianto, menyapa hadirin dalam acara Deklarasi Kampanye Damai di halaman Tugu Monumen Nasional (Monas), Jakarta, Ahad, 23 September 2018. Dua pasangan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) tampil kompak mengenakan pakaian adat. REUTERS/Darren Whiteside

    Dua calon presiden, Joko Widodo alias Jokowi dan Prabowo Subianto, menyapa hadirin dalam acara Deklarasi Kampanye Damai di halaman Tugu Monumen Nasional (Monas), Jakarta, Ahad, 23 September 2018. Dua pasangan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) tampil kompak mengenakan pakaian adat. REUTERS/Darren Whiteside

    TEMPO.CO, Jakarta - Pengamat politik dari UIN Syarif Hidayatullah, Gun Gun Heryanto menilai munculnya istilah politikus sontoloyo, genderuwo, hingga tampang Boyolali menunjukkan adanya perbedaan gaya komunikasi politik masing-masing calon presiden. "Gaya Pak Jokowi dan Prabowo beda," kata Gun Gun dalam diskusi Populi Center, Jakarta, Kamis, 15 November 2018.

    Gun Gun mengatakan calon presiden nomor urut 01 Joko Widodo atau Jokowi memiliki gaya equalitarian style. Sedangkan calon presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto memiliki gaya dynamic style. Gaya tersebut berpengaruh dalam mengkontruksikan pesan politik yang mereka sampaikan.

    Baca: Jubir Prabowo Sebutkan Kebohongan Jokowi Selama 4 Tahun

    Untuk equalitarian style, kata Gun Gun, biasanya bersifat turun ke bawah dan merangkul. Gaya tersebut menekankan pada kesederajatan. Dilihat dari gaya tersebut, Jokowi dinilai jarang menggunakan diksi yang sulit.

    Meski bukan orator yang baik, Gun Gun menyebut Jokowi sebagai komunikator politik yang sangat baik karena mampu mengelola kekuatan di sekitarnya tanpa menggunakan bahasa yang tinggi.

    Gun Gun mengatakan orang equalitarian juga kerap membingkai pesan dengan mencoba untuk harmoni. Ia mencontohkan istilah politikus genderuwo yang disampaikan Jokowi tidak diketahui ditujukan ke siapa. Jokowi bahkan tidak menyebut siapa-siapa.

    Baca: Survei Alvara: Prabowo Berlebihan Pencitraan Ketimbang Jokowi

    "Tapi orang membaca meta komunikasinya menduga-duga diarahkan ke siapa. Di situ warna warni komunikasinya hidup. Karena orang bermain dalam imajinasi. Sehingga diskursus publik juga jalan," kata Gun Gun.

    Adapun Prabowo dengan dynamic style merupakan tipe yang eksplisit, to the point, dan menggunakan bahasa lugas. Biasanya, Gun Gun menuturkan, orang dengan dynamic style yang selalu bicara apa adanya memiliki resiko dimaknai berbeda.

    Dalam konteks tampang Boyolali, misalnya, Prabowo sesungguhnya berbicara dalam konteks ketimpangan sosial untuk menyerang calon presiden inkumben. Tetapi, akhirnya malah menjadi serangan balik untuk Prabowo.

    Baca: Kubu Jokowi Pertanyakan Resep Prabowo - Sandi Kurangi Kemiskinan

    "Ini bahasa mungkin sebenarnya intensinya statements yang attacking karena soal ketimpangan sosial ke petahana. Tapi bisa backfire ketika orang ramai membincang tampang Boyolali sebagai bullying, merendahkan," kata Gun Gun.

    Equalitarian dan dynamic, kata Gun Gun, menjadi satu hal yang berpengaruh dalam manajemen pesan kampanye. Misalnya, calon wakil Prabowo, Sandiaga Uno, dominan dengan equalitarian style seperti Jokowi. Sehingga, Sandiaga pun lebih cair ketika bertemu sebuah komunitas. "Dibanding Prabowo datang ke komunitas, dibanding Ma'ruf ke komunitas di luar pesantren," kata dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.