Probosutedjo Tolak Bertanggungjawab atas Pengembalian Dana Reboisasi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta:Probosutedjo, pengusaha yang didakwa melakukan korupsi dana reboisasi, menyatakan tidak bertanggung jawab atas pengembalian pinjaman senilai lebih dari Rp 100 miliar itu. Pernyataan itu dikuatkan dengan keterangan Direktur PT. Hutan Rindang Benua, Svante Thorov Nytors, yang menjadi saksi dalam sidang lanjutan perkara itu, di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Kamis (16/1). Menurut Svante, dengan dijualnya PT. Menara Hutan Buana milik Probosutedjo ke Shining Spring Resources Ltd dan Androff Singapore Ltd tahun lalu, maka seluruh kewajiban utang-piutang perusahaan yang bergerak di bidang kehutanan itu beralih. Kami yang sekarang bertanggung jawab atas pengembalian dana reboisasi, kata Svante, pria Finlandia yang kini bermukim di Jakarta itu. Androff Singapore Ltd sendiri, menurut keterangan Svante, berkantor pusat di Kepulauan Mauritius. Tapi, Ketua Majelis Hakim Mohammad Saleh tidak begitu saja menerima keterangan Svante. Apakah ada bukti hukum yang menyatakan demikian? tanya Saleh. Saksi kemudian menyerahkan selembar surat dari Androff Singapore Ltd untuk Bank Mandiri yang menegaskan kesaksiannya. Tapi, ini kan bukan akte hukum? tanya Saleh lagi, yang dibenarkan saksi. Sementara saksi sebelumnya, Hendra Siswanto menjelaskan perihal penjualan PT. Menara Hutan Buana. Siswanto sendiri adalah kuasa hukum Shining Spring Resources Ltd yang membeli 2, 7 juta lembar saham PT. Menara Hutan dengan harga total Rp 2, 7 miliar. Pada majelis hakim, Siswanto mengaku pernah bekerja menjadi General Manager PT. Menara Hutan pada 1998 lalu. Ketika Jaksa Ketut Murtika menanyakan, apakah Departemen Kehutanan mengetahui proses penjualan itu, saksi mengaku tidak tahu. Jadi, bagaimana pengembalian dana reboisasi di Menara Hutan Buana? tanya Murtika lagi. Saksi lagi-lagi menjawab tidak tahu. Usai sidang, Probosutedjo kembali menegaskan dirinya tidak bertanggung jawab lagi atas hutang dana reboisasi PT. Menara Hutan Buana. Perusahaan itu memang sudah dijual. Jadi, saya tidak ada kaitannya dengan dana reboisasi, kata Probo kepada Tempo News Room. Probosutedjo mengaku menjual Menara Hutan Buana karena biaya operasional perusahaan itu mencapai Rp 1, 2 miliar per bulannya. Demi kelangsungan hidup ribuan karyawan di sana, ya, sudah saya jual saja, katanya sambil tersenyum. Sementara, jaksa pendamping, Endang Sukesih, menilai pengakuan para saksi soal penjualan PT. Menara Hutan Buana justru makin membuktikan tindak pidana korupsi yang dilakukan Probosutedjo. "Sudah jelas sekarang. Terdakwa sudah mengkorupsi dana reboisasi. Lalu, untuk mengalihkan tanggung jawab, dia menjual perusahaannya," kata Endang, yakin. (Wahyu Dhyatmika Tempo News Room)

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Fatwa MUI Nyatakan Vaksin Covid-19 Sinovac Berstatus Halal, Ini Alasannya

    Keputusan halal untuk vaksin Covid-19 itu diambil setelah sejumlah pengamatan di fasilitas Sinovac berikut pengawasan proses pembuatan secara rinci.