Dosen UGM Bantah Bikin Tulisan Soal Jalur Penghafal Kitab Suci

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kampus UGM,Bulaksumur, Yogyakarta. (ugm.ac.id)

    Kampus UGM,Bulaksumur, Yogyakarta. (ugm.ac.id)

    TEMPO.CO, Jakarta - Beredar tulisan soal sikap civitas muslim Universitas Gadjah Mada yang menolak sikap Rektorat UGM soal jalur khusus penghafal kitab suci. Tulisan itu disebut dibuat Nanung Danardono. Namun, dosen Fakultas Peternakan UGM itu membantahnya.

    "Itu bukan saya yang menulis," kata Nanung saat dikonfirmasi Tempo, Minggu, 5 November 2017. Ia mengatakan dia juga mendapat pesan tersebut, tapi tak tahu siapa yang menulis pertama kalinya. "Itu anonymous," ujar Nanung.

    Dalam tulisan yang beredar itu, tertulis soal sikap civitas muslim UGM perihal siaran pers Hubungan Masyarakat UGM. Dengan mengatasnamakan dosen, karyawan, mahasiswa, dan alumnus, mereka mengaku berkeberatan atas pernyataan Humas UGM soal penolakan Rektorat UGM atas usulan penerimaan mahasiswa melalui jalur khusus penghafal kitab suci.

    Baca juga: UGM Tolak Usulan Jalur Prestasi Penghafal Kitab Suci

    Tulisan itu memaparkan tiga poin keberatan. "Pertama, kami berkeberatan dengan pernyataan Humas UGM yang mengesankan menghafal Al-Quran adalah bertentangan dengan Pancasila, UUD 1945. "Pernyataan sebagaimana pada paragraf pertama siaran pers tersebut bukan hanya mencerminkan ketidakhati-hatian, melainkan juga kekeliruan cara berpikir yang sangat jauh dari nilai-nilai Pancasila, NKRI, dan UUD 1945."

    Kedua, mereka berkeberatan dengan pembocoran surat Dekan FEB UGM Nomor 5447/UN1/EB/KL/2017 yang seharusnya bersifat internal. Humas UGM dinilai tidak seharusnya merespons surat internal yang semestinya tertutup dengan siaran pers yang bersifat terbuka. Hal itu dipandang sangat tidak dibenarkan dari sudut etika komunikasi dan administrasi mana pun.

    Ketiga, mereka berkeberatan dengan keputusan sepihak yang diambil Rektorat UGM yang dianggap tergesa-gesa tanpa melalui forum permusyawaratan dan kajian ilmiah sebagaimana seharusnya. "Atas dasar hal itu, kami civitas muslim UGM menuntut Rektorat UGM untuk segera menarik kembali siaran pers tersebut."

    Baca juga: Jalur Penghafal Kitab Suci, Kemenristekdikti: Kebijakan Kampus

    Rektorat UGM, kata tulisan tersebut, harus melakukan klarifikasi sebagaimana mestinya pada masyarakat. Rektorat juga harusnya membuka pintu diskusi untuk menyerap aspirasi penerimaan mahasiswa baru melalui berbagai jalur yang selama ini dilakukan, seperti prestasi olahraga, seni-budaya (PBOS), dan prestasi akademik (PBUB). Analogi jalur tersebut semestinya termasuk prestasi dalam seni membaca dan menghafal kitab suci, serta lainnya.

    Meski membantah sebagai pembuat tulisan tersebut, Nanung mengatakan secara pribadi dia setuju ada jalur khusus untuk penghafal kitab suci. "Jika membaca tulisan Dekan FEB, yang beliau usulkan adalah yang hafal kitab suci, tidak spesifik Al-Quran. Sehingga, kalau ada yang hafal kitab suci yang lain juga bisa ikut seleksi," kata Nanung.

    Apalagi calon mahasiswa jalur khusus tersebut tidak otomatis diterima sebagai mahasiswa. "Tidak otomatis yang hafiz terus diterima. Ada tahapan seleksi lebih lanjut," ujar Nanung menambahkan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aturan Baru E - Commerce yang Tertuang dalam PP PMSE

    Pemerintah resmi menerbitkan regulasi tentang e-commerce yang tertuang dalam PP PMSE. Apa yang penting dalam aturan baru tersebut?