ASI Ekslusif Rendah, Tingkat Kematian Anak Tinggi

Reporter

Editor

Rabu, 1 Agustus 2012 13:22 WIB

frugalbabytips.com

TEMPO.CO, Semarang – Lembaga swadaya masyarakat Plan Indonesia mendesak penguatan gerakan menyusui air susu ibu (ASI) eksklusif. Sebab, persentase pemberian ASI tanpa makanan atau minuman lainnya untuk bayi berusia 0-6 bulan itu masih jauh dari harapan. ”Semua kepala daerah harus membuat kebijakan dan program yang mendukung menyusui eksklusif,” kata Manajer Program Kesehatan dan Perkembangan Anak Plan Indonesia, Khrisna Maruti, Rabu, 1 Agustus 2012 berkaitan dengan peringatan Pekan ASI Sedunia.

Menurut Khrisna, jika persentase menyusui masih rendah, maka hal ini bisa mengancam upaya pemerintah untuk menekan tingkat kematian bayi sesuai tujuan pembangunan milenium (MDGs). Pada 2015, angka kematian anak Indonesia ditargetkan turun dari kondisi terakhir, yakni 41 per 1.000 kelahiran hidup menjadi 32 per 1000 kelahiran hidup.

Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar 2010, di Indonesia hanya 15,3 persen anak yang mendapatkan ASI Eksklusif. Angka ini masih jauh di bawah angka ASI eksklusif global yang juga rendah, yaitu sebesar 32,6 persen.

Di daerah, pemberian ASI ekslusif mulai meningkat. Di Grobogan, misalnya, persentase bayi yang mendapat ASI eksklusif terus meningkat. Pada 2011, bayi yang mendapatkan ASI eksklusif adalah sebanyak 38,6 persen dari populaso dan tahun ini hingga Juli mencapai 46,4 persen. “Tapi tetap saja masih di bawah 50 persen,” kata Khrisna.

Plan Indonesia mengapresiasi terbitnya Peraturan Pemerintah No 33 Tahun 2012 tentang ASI Eksklusif. Dengan PP tersebut, hak bayi untuk mendapatkan ASI lebih terlindungi dan hak ibu untuk menyusui juga lebih terjamin,” kata Khrisna. Plan mendesak kepada daerah untuk menjadikan PP tersebut sebagai payung hukum dalam gerakan ASI ekslusif.

PP itu juga menegaskan larangan bagi tenaga kesehatan, penyelenggara fasilitas pelayanan kesehatan, penyelenggara satuan pendidikan kesehatan, organisasi profesi di bidang kesehatan, dan termasuk keluarganya untuk menerima hadiah atau bantuan dari produsen atau distributor susu formula bayi karena dapat menghambat keberhasilan program ASI Eksklusif.

”UU Kesehatan juga memberi ancaman pidana bagi setiap orang yang dengan sengaja menghalangi program pemberian ASI eksklusif,” kata Krishna.

ROFIUDDIN

Berita Terpopuler:

Djoko Susilo ''Menghilang''

Kristen Stewart Tak Selingkuh Sendiri

Begini Cara Robert Pattinson Lampiaskan Sakit Hati

Pengakuan Kristen Stewart Bisa Hancurkan Kariernya

Polisi Dinilai Hambat Tugas KPK

Dilepas City, Mancini Pindah ke Klub Spanyol

Djoko Susilo Sudah Dicegah ke Luar Negeri

24 Jam Lebih, Petugas KPK Tertahan di Korlantas

Pelapor Korupsi Simulator SIM Siap Buka-bukaan

Suhu Dieng Tembus Minus 5 Derajat Celcius

Berita terkait

Apa Itu Sistem KRIS yang Bakal Menggantikan Kelas BPJS Kesehatan?

1 hari lalu

Apa Itu Sistem KRIS yang Bakal Menggantikan Kelas BPJS Kesehatan?

KRIS merupakan sistem baru dalam mengatur rawat inap yang melayani pengguna BPJS Kesehatan.

Baca Selengkapnya

Sistem Kelas BPJS Kesehatan Diubah, Iuran Harus Pertimbangkan Finansial Masyarakat

4 hari lalu

Sistem Kelas BPJS Kesehatan Diubah, Iuran Harus Pertimbangkan Finansial Masyarakat

Pemerintah mewacanakan penghapusan sistem kelas BPJS Kesehatan dan menggantikannya dengan sistem KRIS sejak tahun lalu

Baca Selengkapnya

4 Vaksin Wajib Bagi Jamaah Haji 2024, Dua Jamaah dari Provinsi Ini Ada Tambahan Vaksin Polio

8 hari lalu

4 Vaksin Wajib Bagi Jamaah Haji 2024, Dua Jamaah dari Provinsi Ini Ada Tambahan Vaksin Polio

Jamaah Haji 2024 wajib menerima 3 vaksin, namun khusus jamaah dari Jawa Timur dan Jawa Tengah, ada penambahan vaksin polio.

Baca Selengkapnya

Ini Pesan Jokowi ke Prabowo untuk Lanjutkan Program di Bidang Kesehatan

11 hari lalu

Ini Pesan Jokowi ke Prabowo untuk Lanjutkan Program di Bidang Kesehatan

Presiden Jokowi menyoroti urgensi peningkatan jumlah dokter spesialis di Indonesia. Apa pesan untuk pemimpin baru?

Baca Selengkapnya

Kemenkes: Waspada Email Phishing Mengatasnamakan SATUSEHAT

16 hari lalu

Kemenkes: Waspada Email Phishing Mengatasnamakan SATUSEHAT

Tautan phishing itu berisi permintaan verifikasi data kesehatan pada SATUSEHAT.

Baca Selengkapnya

Netizen Serbu Akun Instagram Bea Cukai: Tukang Palak Berseragam

19 hari lalu

Netizen Serbu Akun Instagram Bea Cukai: Tukang Palak Berseragam

Direktorat Jenderal Bea dan Cuka (Bea Cukai) mendapat kritik dari masyarakat perihal sejumlah kasus viral.

Baca Selengkapnya

Kilas Balik Kasus Korupsi APD Covid-19 Rugikan Negara Rp 625 Miliar

21 hari lalu

Kilas Balik Kasus Korupsi APD Covid-19 Rugikan Negara Rp 625 Miliar

KPK masih terus menyelidiki kasus korupsi pada proyek pengadaan APD saat pandemi Covid-19 lalu yang merugikan negara sampai Rp 625 miliar.

Baca Selengkapnya

Bantu Warga Terdampak Gunung Ruang, Kementerian Kesehatan Salurkan 13 Ribu Masker

25 hari lalu

Bantu Warga Terdampak Gunung Ruang, Kementerian Kesehatan Salurkan 13 Ribu Masker

Kementerian Kesehatan membantu warga terdampak Gunung Ruang di Kabupaten Sitaro, Sulawesi Utara dengan penyediaan masker.

Baca Selengkapnya

Alasan Pusat Krisis Kemenkes Mengirim Tim ke Lokasi Banjir Musi Rawas Utara

25 hari lalu

Alasan Pusat Krisis Kemenkes Mengirim Tim ke Lokasi Banjir Musi Rawas Utara

Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes mengirimkan tim khusus ke area banjir Musi Rawas Utara. Salah satu tugasnya untuk antisipasi penyakit pasca banjir.

Baca Selengkapnya

Hipertensi Jadi Penyakit Paling Banyak di Pos Kesehatan Mudik

35 hari lalu

Hipertensi Jadi Penyakit Paling Banyak di Pos Kesehatan Mudik

Kementerian Kesehatan mencatat hipertensi menjadi penyakit yang paling banyak ditemui di Pos Kesehatan Mudik Idulfitri 1445 H/2024 M.

Baca Selengkapnya