Close

Penyerangan LP Sleman, 'Hidup Kopassus'  

Rabu, 27 Maret 2013 | 11:42 WIB

Penyerangan LP Sleman, 'Hidup Kopassus'  
Kapolres Sleman, AKBP Hery Sutrisman mengkoordinir petugas kepolisian untuk berjaga di depan Lapas IIB Cebongan, kabupaten Sleman, Yogyakarta (23/3). TEMPO/Suryo Wibowo

TEMPO.CO, Yogyakarta - Temuan penyidik Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Mimin Dwi Hartono soal 31 tahanan di penjara Cebongan, Sleman, Yogyakarta, yang dipaksa bertepuk tangan oleh eksekutor, memang cukup menggemparkan. 

Tepuk sorai itu dilakukan 31 tahanan usai seorang eksekutor menembak mati empat tahanan titipan Kepolisian Daerah Yogyakarta yang berada di satu sel dengan mereka di Blok A5 (Anggrek Nomor 5).

Namun, sumber Tempo di penjara Sleman mengungkapkan pada Selasa, 26 Maret 2013, ada kesaksian lain yang tak kalah mengejutkan. Saat ke-31 tahanan itu bertepuk tangan, menurut sumber, ada salah seorang tahanan yang meneriakkan, "Hidup Kopassus!" 

Teriakan tersebut keruan saja membuat eksekutor naik pitam. "Siapa yang teriak? Saya tembak kamu!" kata sumber ini menirukan hardikan sang eksekutor. Untunglah, itu hanya gertakan semata.

Segerombolan orang bersenjata api laras panjang, pistol, dan granat menyerang Lembaga Pemasyarakatan Cebongan, Sleman, pada Sabtu dinihari, 23 Maret 2013. Kelompok ini diperkirakan berjumlah 15 hingga 20 orang. Namun, hanya satu orang yang menjadi ekskutor.

Empat tahanan yang ditembak mati adalah Hendrik Angel Sahetapy alias Deki, Adrianus Candra Galaja alias Dedi, Yohanis Juan Manbait, dan Gameliel Yermiyanto Rohi Riwu (Adi).

Mereka diduga dihabisi terkait dengan kasus pembunuhan bekas anggota Komando Pasukan Khusus TNI AD, Sersan Satu Santoso, di Hugo's Cafe, Yogyakarta, tiga hari sebelumnya.

Kepala Penerangan Kopassus Mayor Susilo berjanji akan menindak tegas anggotanya jika terlibat penyerangan Penjara Cebongan. Hingga kini, Kopassus mengklaim belum ada bukti keterlibatan mereka. "Kami menunggu hasil penyelidikan kepolisian," katanya.

TIM TEMPO

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan