Close

Gus Solah: Saatnya FPI Introspeksi

Minggu, 12 Februari 2012 | 16:10 WIB

Gus Solah: Saatnya FPI Introspeksi
ANTARA/HO-Ridhwan Siregar

TEMPO.CO, Jakarta - Salahuddin Wahid, tokoh hak asasi manusia, mengatakan Front Pembela Islam (FPI) seharusnya introspeksi diri setelah kejadian penolakan ratusan warga suku Dayak di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Sabtu, 11 Februari 2012. Menurut Gus Solah--panggilan akrabnya--FPI tidak bisa memaksakan diri.

“Kejadian itu menunjukkan di beberapa tempat ada penolakan. Mestinya FPI introspeksi dan belajar dari situ,” kata Gus Solah, saat dihubungi Tempo, Minggu, 12 Februari 2012.

Menurut adik mantan Presiden Gus Dur itu, aksi penolakan FPI juga pernah terjadi di Jombang, Jawa Timur. Pada saat itu, Gerakan Pemuda Ansor dan sekitar 15 organisasi massa di Kabupaten Jombang siap menghadang pasukan FPI ke kabupaten setempat, April 2011. Barisan Ansor Serbaguna (Banser) pasang badan menghadapi FPI.

“Saat itu masyarakat Jombang lapor ke polisi, FPI hanya diizinkan menggelar pengajian, tapi tidak sampai mendirikan cabang FPI,” kata Gus Solah.

Pada peristiwa penghadangan rombongan FPI di Bandara Cilik Riwut, Palangkaraya kemarin, Gus Solah menangkap adanya keterlibatan polisi. Kepolisian setempat, menurut dia, mendukung aksi masyarakat yang terusik dengan kedatangan FPI di wilayahnya. “FPI memang punya hak di mana pun, tapi kalau masyarakat terusik, mestinya sadar diri dan tidak memaksa,” ujarnya.

Menurut Gus Solah, masyarakat menolak FPI karena dianggap organisasi yang suka kekerasan. Adanya kejadian di Palangkaraya, kata dia, "Sebaiknya menjadi bahan introspeksi karena Islam berarti keselamatan atau perdamaian, bukan kekerasan."

RINA WIDIASTUTI

Berita Terkait:

Habib Rizieq: Ada yang Ingin Adu Domba FPI

Dikira FPI, Akbar Faisal Disergap Warga Dayak

Warga Dayak Tolak Ketua FPI Habib Rizieq
Rizieq Tak Ikut Rombongan FPI ke Palangkaraya

Alasan Warga Dayak Tolak FPI
Tokoh FPI Habib Rizieq Salahkan Gubernur Kalteng

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan