Cerita Komjen Anang Iskandar yang Larang Rambo Jadi Polisi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Pol Anang Iskandar menyampaikan pandangannya ketika menjadi pembicara dalam diskusi yang mengangkat tema Indonesia Darurat Narkoba di Jakarta, 16 Mei 2015. Dalam diskusi itu Kepala BNN menyatakan sebanyak empat juta orang atau lebih dari 2 persen penduduk indonesia melakukan penyalahgunaan narkoba. ANTARA/Wahyu Putro

    Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Pol Anang Iskandar menyampaikan pandangannya ketika menjadi pembicara dalam diskusi yang mengangkat tema Indonesia Darurat Narkoba di Jakarta, 16 Mei 2015. Dalam diskusi itu Kepala BNN menyatakan sebanyak empat juta orang atau lebih dari 2 persen penduduk indonesia melakukan penyalahgunaan narkoba. ANTARA/Wahyu Putro

    TEMPO.CO, Mojokerto - Di mata keluarga, Kepala Badan Reserse dan Kriminal Mabes Polri terpilih Komisaris Jenderal Anang Iskandar merupakan pribadi yang tegas dan pekerja keras. Meski sudah menjadi perwira tinggi, Anang ternyata tak ingin anak-anaknya mengikuti jejaknya sebagai polisi.

    Menurut Rambo, 29 tahun, alasan Anang enggan mengarahkan anak-anaknya menjadi polisi mungkin karena tantangan dan risiko yang berat. "Papa tidak merekomendasikan anaknya jadi polisi,” kata anak kedua Anang, Rambo Garudo, ditemui di rumahnya di Kota Mojokerto, Jawa Timur, Jumat, 4 September 2015.

    Komjen Buwas Dicopot

    Pencopotan Waseso, Luhut: Prajurit Tak Boleh Ancam Atasan
    Kapolri: Buwas Mau Dicopot Saat Adu Mulut dengan Buya Syafii

    Anang merupakan pria kelahiran Kota Mojokerto, 57 tahun lalu. Ibu dan salah satu anaknya tinggal di Jalan Empu Nala, Kelurahan Kedundung, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto. Anang adalah anak kedua dari enam bersaudara putra pasangan almarhum Suyitno dan Raunah. Raunah kini tinggal bersama Rambo di Mojokerto.

    Dari istri pertamanya yang juga asli Mojokerto, almarhumah Ike Yuni Candra Dewi, Anang dikaruniai tiga anak yakni Suryo Gading, Rambo Garudo, dan Tiara Ila Dewi. Sepeninggal istri pertamanya, Anang menikahi Budi Tri Yuliarto, perempuan asal Jawa Tengah, dan memiliki dua anak, yakni Tajasa dan Alolita.

    Menurut Rambo, papanya lebih mendukung anak-anaknya menjadi dokter daripada anggota polisi. Ketiga anak dari istri pertamanya yang sudah wafat menekuni bidang kedokteran. Putra sulung Anang, Suryo, saat ini menempuh program S2 Kedokteran di Universitas Udayana, Bali.

    Berita Menarik
    Alumnus UI Tewas, Jejak Kaki di Balkon Ungkap Kejanggalan
    Dibunuh di Kota Wisata: Karena Nurdin Kesal Nungki Main HP

    Anak keduanya, Rambo, menjadi dokter umum di Rumah Sakit Kamar Medika, Kota Mojokerto. Adik Rambo, Tiara, masih kuliah di Fakultas Kedokteran Unair, Surabaya. "Kakak saya memang diarahkan papa untuk jadi dokter. Saya sendiri ingin jadi dokter karena melihat profesi kakak saya,” ujar Rambo.

    Ia berharap papanya bisa menjalankan amanah sebagai Kepala Bareskrim dengan baik. Semoga Papa bisa menjalankan amanah dengan baik karena Indonesia butuh penyelamatan,” ujar Rambo, yang kini tengah mengejar gelar strata 2 di bidang kedokteran di Universitas Airlangga, Surabaya.

    Anang, yang sebelumnya menjabat Kepala Badan Narkotika Nasional, kini diangkat sebagai Kepala Badan Reserse dan Kriminal Marbes Polri. Anang akan bertukar posisi dengan Komisaris Jendral Budi Waseso yang menjadi Kepala BNN.

    Di mata ibunya, Raunah, Anang adalah pribadi yang hormat pada orang tua. “Kalau ada tugas di Jawa Timur, Mas Anang pasti mampir,” ujar Raunah. Ia berharap Anang sukses dengan jabatan barunya. "Setiap habis salat saya mesti berdoa agar dia selamat dan sukses," kata Raunah.

    Anang lahir dari keluarga sederhana di Mojokerto, Jawa Timur. Ayahnya, almarhum Suyitno, dulu bekerja sebagai tukang cukur rambut di Pasar Tanjung Anyar, Kota Mojokerto. Sedangkan ibunya membuka warung nasi kecil-kecilan di rumah untuk menopang ekonomi keluarga.

    ISHOMUDDI

    Berita Lainnya
    Tak Kuat Bukti, Polisi Lepas Artis AS dalam Kasus Narkoba
    Soal Jawaban 'Yes', Ini Kata Setya Novanto


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Donald Trump dan Para Presiden AS yang Menghadapi Pemakzulan

    Donald Trump menghadapi pemakzulan pada September 2019. Hanya terjadi dua pemakzulan terhadap presiden AS, dua lainnya hanya menghadapi ancaman.