Senin, 22 Oktober 2018

Pencemaran, Banyuwangi Tunggu Hasil Penelitian Kementerian Lingkungan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pelabuhan Muncar, Banyuwangi. TEMPO/Ika Ningtyas

    Pelabuhan Muncar, Banyuwangi. TEMPO/Ika Ningtyas

    TEMPO.CO, Banyuwangi - Pemerintah Kabupaten Banyuwangi meminta Kementerian Lingkungan Hidup mengeluarkan hasil penelitian terkait dengan dugaan pencemaran merkuri di perairan Lampon, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi. "Kami butuh data dari Kementerian LH sebagai pembanding," kata Pelaksana Tugas Kepala Badan Lingkungan Hidup Banyuwangi Husnul Khotimah, Senin, 15 September.

    Kementerian Lingkungan Hidup, kata Husnul, sebenarnya pada Oktober 2013 telah meneliti tingkat pencemaran merkuri di Kecamatan Pesanggaran. Kementerian meneliti 50 pengolah tambang emas rakyat dengan mengambil sampel rambut, darah, dan kuku jari tangan serta kaki.(Baca : Peneliti Temukan Merkuri Cemari Pantai Banyuwangi)

    Selain meneliti penambang rakyat, Kementerian juga memeriksa limbah padat, air, dan udara di sekitar lokasi pertambangan. "Tapi hampir setahun hasil penelitiannya belum kami terima," kata Husnul.

    Menurut Husnul, surat untuk menagih hasil penelitian Kementerian Lingkungan dikirim pihaknya pekan lalu. Surat tersebut dilayangkan setelah pemerintah Banyuwangi mengetahui hasil penelitian dosen Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi, Susintowati. Penelitian Susintowati itu menyebutkan merkuri masih mencemari perairan Lampon, bahkan telah masuk ke tubuh teripang laut. "Kalau ada data pembanding kami bisa bergerak untuk mengatasi pencemaran," katanya.

    Sebelumnya, dalam penelitian berjudul "Efek Patologi Merkuri Terhadap Profil Protein dan Spikula Holothuroidea di Lampon, Banyuwangi" itu, Susintowati menemukan kadar merkuri pada teripang hitam (Holothuria leucospilota) melebihi baku mutu, yakni 4,45-47,83 ppb (part per billion/bagian per miliar).

    Sungai Lampon, yang bermuara langsung di laut selatan, pada 2007-2010 dipakai sebagai tempat pembuangan limbah tambang yang mengandung merkuri. Akumulasi merkuri pada muara Pantai Lampon mencapai 0,45 ppb hingga 634,19 ppb. Padahal, menurut Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 51 Tahun 2004, kadar merkuri secara alamiah di alam hanya 0,1 ppb.(Baca : Pemerintah Banyuwangi Teliti Pencemaran Merkuri)

    Selain mencemari teripang, merkuri telah masuk ke tubuh siput dan kerang di muara Lampon. Pada siput mangrove (Terebralia sulcata), kandungan merkuri sudah mencapai 3,1 ppb. Dalam tubuh siput pantai (Nerita argus) hingga 3,03 ppm. Sedangkan jenis Patella intermedia, siput yang sering ditemukan di pantai berbatu, mengandung 0,44 ppb merkuri.

    IKA NINGTYAS

    Berita Terpopuler

    SBY Bingung Disalahkan Soal RUU Pilkada
    Soal RUU Pilkada, Amir: SBY Berpihak pada Akal Sehat
    3 Kemesraan Ahok-Lulung Setelah Cekcok Panjang 
    Suryadharma: Ketua PPP Mendatang Harus ke Prabowo  


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hak Asasi Binatang Diperingati untuk Melindungi Hewan

    Hak Asasi Binatang, yang diperingati setiap 15 Oktober, diperingati demi melindungi hewan yang sering dieksploitasi secara berlebihan, bahkan disiksa.