Warga Cirebon Mulai Makan Aking

Reporter

Editor

Senin, 17 Juli 2006 00:18 WIB

TEMPO Interaktif, Cirebon:Dampak kekeringan telah menyulitkan kehidupan sebagian warga Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Sejumlah buruh tani mengaku terpaksa mengonsumsi nasi aking atau nasi basi yang telah dikeringkan. Dalam kondisi normal nasi aking biasa diberikan untuk ternak.Berdasarkan pantauan, penduduk di dua desa yaitu Desa Karangkendal dan Desa Pegagan di Kecamatan Kapetakan, mulai makan aking dan gaplek, ketela pohon yang dikeringkan. Mereka umumnya buruh tani yang menganggur akibat persawahan tak bisa ditanami. "Majikan tak membayar saya karena memang tidak ada sawah yang bisa digarap," kata Saidi, warga Karangkendal, Kapetakan. Dia mengaku, memperoleh nasi aking dengan cara membeli Rp 1.000 per kilogram.Jika bekerja, upah Saidi berkisar Rp 15 ribu-20 ribu per hari. Jumlah itu, menurutnya, pas-pasan untuk kebutuhan hidup bersama istri dan tiga anaknya. Jatah beras dari pemerintah sebanyak 3,3 kilogram per bulan cuma bisa dimakan selama 4 hari.Darija, buruh tani yang lain dari Desa Pegagan, hampir sebulan tak ada majikan yang memintanya bekerja. Nasi aking dan gaplek terpaksa dibeli untuk istri dan lima anaknya. "Kata orang tidak ada gizinya," katanya lirih.Wakil Ketua RT 02/05 Desa Karangkendal, Tasija, warganya yang menjadi buruh tani memang kehilangan pekerjaan. Bantuan belum ada. "Kami hanya bisa membagi 3,3 kilogram beras jatah untuk setiap satu keluarga miskin," katanya. Berdasarkan catatan kantor Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon sedikitnya 19.110 hektare lahan pertanian mengalami kekeringan.Kekeringan juga menyulitkan peternak sapi perah di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, untuk mendapatkan rumput. Sapi mereka terpaksa diberi makan pelepah pisang dan batang papaya. ''Batang papaya dan singkong dicacah-cacah kemudian dicampur dengan air. Cara ini untuk mengganti susahnya mencari rumput," ungkap Arjo Tanoyo, warga Desa Jemowo, Kecamatan Musuk, kemarin.Kecamatan Musuk merupakan sentra sapi pedaging dan sapi perah di Kabupaten Boyolali. Ribuan sapi dipeliharan warga di kecamatan ini. Selain batang pepaya dan pelepah pisang, peternak memberi makan sapinya dengan bekatul dan konsentrat. "Akibatnya produksi susu sapi menurun," kata Supomo peternak yang lain.Mengadapi bencana kekeringtan, Pemerintah Provisi Banten menyiapkan dana Rp 12 miliar untuk diberikan kepada petani di empat kabupaten yang tanamannya mengalami puso."Masing-masing daerah akan mendapatkan Rp 3 miliar," kata pelaksana tugas Gubernur Banten Ratu Atut Chsiyah kepada Tempo di Serang, kemarin.Lahan yang mengalami kekeringan di provinsi ini mencapai 13.479 hektare persawahan, sebanyak 243 hektare di antaranya dinyatakan puso. Menurut Atut, dana itu untuk menambah jumlah pompa air dan memperbaiki sarana pengairan yang rusak. "Sistimnya padat karya, jadi petani dan masyarakat yang mengerjakan dan mendapat upah," katanya. Ivansyah | Anas Syahirul | Faidil Akbat

Berita terkait

KJRI Kuching Minta Malaysia Bebaskan 8 Nelayan Natuna yang Ditangkap

7 hari lalu

KJRI Kuching Minta Malaysia Bebaskan 8 Nelayan Natuna yang Ditangkap

KJRI mengatakan, APPM mengatakan 3 kapal nelayan Natuna ditangkap karena melaut di dalam perairan Malaysia sejauh 13 batu dari batas perairan.

Baca Selengkapnya

Tiga Kapal Nelayan Tradisional Indonesia Kembali Ditangkap Otoritas Malaysia

10 hari lalu

Tiga Kapal Nelayan Tradisional Indonesia Kembali Ditangkap Otoritas Malaysia

Tiga kapal nelayan Indonesia asal Natuna ditangkap oleh penjaga laut otoritas Malaysia. Dituding memasuki perairan Malaysia secara ilegal.

Baca Selengkapnya

Pantau Pemanfaatan Kuota BBL, KKP Manfaatkan Sistem Canggih

10 hari lalu

Pantau Pemanfaatan Kuota BBL, KKP Manfaatkan Sistem Canggih

Kementerian Kelautan dan Perikanan melalui Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap, menyiapkan sistem informasi pemantauan elektronik yang memuat hulu-hilir pengelolaan pemanfaatan BBL.

Baca Selengkapnya

Asal-usul Tradisi Lomban Setiap Bulan Syawal di Jepara

14 hari lalu

Asal-usul Tradisi Lomban Setiap Bulan Syawal di Jepara

Tradisi Lomban setiap bulan Syawal di jepara telah berlangsung sejak ratusan tahun lalu.

Baca Selengkapnya

Polisi Gagalkan Penyelundupan Sabu dari Malaysia, Pelaku yang Menyamar Nelayan Diupah Rp 10 Juta per Kg

15 hari lalu

Polisi Gagalkan Penyelundupan Sabu dari Malaysia, Pelaku yang Menyamar Nelayan Diupah Rp 10 Juta per Kg

Bareskrim Polri menangkap lima tersangka tindak pidana narkotika saat hendak menyeludupkan 19 kg sabu dari Malaysia melalui Aceh Timur.

Baca Selengkapnya

Walhi dan Pokja Pesisir Kaltim: Teluk Balikpapan Rusak akibat Pembangunan IKN

21 hari lalu

Walhi dan Pokja Pesisir Kaltim: Teluk Balikpapan Rusak akibat Pembangunan IKN

Walhi dan Pokja Pesisir Kalimantan Timur sebut kerusakan Teluk Balikpapan salah satunya karena efek pembangunan IKN.

Baca Selengkapnya

Sejumlah Permasalahan Perikanan Jadi Sorotan dalam Hari Nelayan Nasional

25 hari lalu

Sejumlah Permasalahan Perikanan Jadi Sorotan dalam Hari Nelayan Nasional

Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (Kiara) mengungkap sejumlah permasalahan nelayan masih membutuhkan perhatian serius dari pemerintah.

Baca Selengkapnya

Tidak Ditenggelamkan, Dua Kapal Illegal Fishing Diserahkan ke Nelayan Banyuwangi

33 hari lalu

Tidak Ditenggelamkan, Dua Kapal Illegal Fishing Diserahkan ke Nelayan Banyuwangi

Menteri KKP Wahyu Sakti Trenggono menyerahkan dua kapal illegal fishing ke nelayan di Banyuwangi, Jawa Timur.

Baca Selengkapnya

Kominfo Siapkan Jaringan dalam World Water Forum, Harapkan Solusi Pengelolaan Air

38 hari lalu

Kominfo Siapkan Jaringan dalam World Water Forum, Harapkan Solusi Pengelolaan Air

Kominfo bertugas memastikan jaringan telekomunikasi di Forum Air Sedunia pada 18-25 Mei 2024 di Bali.

Baca Selengkapnya

Transmigrasi Swakarsa Mandiri Hadir di Kabupaten Banyuasin

42 hari lalu

Transmigrasi Swakarsa Mandiri Hadir di Kabupaten Banyuasin

Transmigrasi dilakukan dengan biaya sendiri, namun berdasarkan bimbingan dan juga fasilitas yang diberikan oleh pemerintah

Baca Selengkapnya