Antisipasi ISIS, BNPT Desak Revisi Aturan Ormas  

Reporter

Editor

Grace gandhi

Minggu, 22 Maret 2015 16:39 WIB

Ilustrasi penjahat bersenjata atau terorist. TEMPO/Subekti

TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Saud Usman Nasution mendesak agar aturan tentang kebebasan berpendapat dan keormasan segera direvisi. Dua beleid tersebut, menurut Saud, memberi peluang berkembangnya paham kelompok militan ISIS di Indonesia.

"Kedua aturan tersebut perlu dievaluasi karena tak ada sanksi jelas," kata Saud dalam diskusi tentang radikalisme di Jakarta Pusat, Ahad, 22 Maret 2015.

Saud mencontohkan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1998 tentang Kebebasan Berpendapat yang membebaskan semua orang bicara apa saja tanpa batasan. Bila ada yang menghambat aspirasi tersebut, justru diberi sanksi. "Misalnya ada orang yang ngomong dia ISIS, kita tak bisa beri sanksi karena ada undang-undang yang menjamin," ujar Saud.

Begitu pula dengan aturan keormasan. Menurut Saud, pemerintah hanya mengatur ormas yang terdaftar. Bila di antara ormas yang terdaftar itu ada yang melanggar aturan, sanksinya hanya pencabutan izin. "Bagaimana dengan ormas yang tak terdaftar?" tanya Saud. "Bahkan tak ada sanksi untuk mereka."

Revisi beleid tersebut, menurut Saud, harus segera dilakukan agar aparat punya pegangan hukum yang kuat untuk menjerat warga Indonesia yang terindikasi menjadi pendukung ISIS. Saud mendesak anggota Dewan Perwakilan Daerah yang turut hadir dalam diskusi untuk segera mewujudkan aspirasi tersebut.

Anggota Komite I DPD RI asal Sulawesi Selatan, Iqbal Parewangi, mengatakan reaksi terhadap ancaman radikalisme ISIS berlebihan. Menurut dia, respons terhadap ISIS menggambarkan sikap paranoid. "Kita bangsa besar, jangan mau diposisikan begitu lemah oleh ISIS," kata Iqbal.

Iqbal bahkan menyebut isu ISIS kemungkinan hanya diembuskan untuk mengalihkan perhatian masyarakat.

Teror ISIS makin meluas setelah terungkap banyak WNI yang bergabung dengan kelompok tersebut. Modusnya bermacam-macam, mulai dari menumpang paket tur wisata, sekolah, hingga umrah.

MOYANG KASIH DEWIMERDEKA

Berita terkait

Prabowo Terima Telepon Menteri Pertahanan AS, Berikut Profil Lloyd Austin

6 hari lalu

Prabowo Terima Telepon Menteri Pertahanan AS, Berikut Profil Lloyd Austin

Presiden terpilih Prabowo Subianto menerima telepon dari Menhan AS. Berikut jenjang karier dan profil Lloyd Austin.

Baca Selengkapnya

Tajikistan Bantah Tudingan Rusia bahwa Ukraina Merekrut Warganya sebagai Tentara Bayaran

25 hari lalu

Tajikistan Bantah Tudingan Rusia bahwa Ukraina Merekrut Warganya sebagai Tentara Bayaran

Tajikistan membantah tuduhan Rusia bahwa kedubes Ukraina di ibu kotanya merekrut warga untuk berperang melawan Rusia

Baca Selengkapnya

Iran Tangkap Anggota ISIS, Diduga Rencanakan Bom Bunuh Diri Menjelang Idul Fitri

26 hari lalu

Iran Tangkap Anggota ISIS, Diduga Rencanakan Bom Bunuh Diri Menjelang Idul Fitri

Polisi Iran telah menangkap beberapa anggota ISIS yang diduga merencanakan aksi bunuh diri menjelang Idul fitri.

Baca Selengkapnya

Rusia Klaim Punya Bukti Nasionalis Ukraina Terhubung dengan Serangan Moskow

35 hari lalu

Rusia Klaim Punya Bukti Nasionalis Ukraina Terhubung dengan Serangan Moskow

Rusia mengatakan menemukan bukti bahwa pelaku yang membunuh lebih dari 140 orang di gedung konser dekat Moskow terkait dengan "nasionalis Ukraina."

Baca Selengkapnya

Rusia Mengaku Tak Percaya ISIS Lakukan Penembakan Moskow

35 hari lalu

Rusia Mengaku Tak Percaya ISIS Lakukan Penembakan Moskow

Rusia menaruh kecurigaan bahwa Ukraina, bersama Amerika Serikat dan Inggris, terlibat dalam penembakan di Moskow.

Baca Selengkapnya

2 Pelaku Penembakan Moskow Bebas Lewat Turki-Rusia, Pejabat Turki: Tak Ada Surat Penangkapan

37 hari lalu

2 Pelaku Penembakan Moskow Bebas Lewat Turki-Rusia, Pejabat Turki: Tak Ada Surat Penangkapan

Warga negara Tajikistan, Rachabalizoda Saidakrami dan Shamsidin Fariduni dapat melakukan perjalanan dengan bebas antara Rusia dan Turki

Baca Selengkapnya

Putin Akui Belum Ada Bukti Keterlibatan Ukraina dalam Serangan Teroris Moskow

37 hari lalu

Putin Akui Belum Ada Bukti Keterlibatan Ukraina dalam Serangan Teroris Moskow

Presiden Rusia Vladimir Putin mengakui bahwa sejauh ini belum ada tanda-tanda keterlibatan Ukraina dalam penembakan di gedung konser Moskow

Baca Selengkapnya

Serangan Moskow Terjadi, Apakah Pengganti KGB telah Kehilangan Tajinya?

38 hari lalu

Serangan Moskow Terjadi, Apakah Pengganti KGB telah Kehilangan Tajinya?

Serangan Moskow menimbulkan pertanyaan tentang ketajaman FSB, pengganti KGB, badan intelijen yang kerap dianggap momok bagi Barat.

Baca Selengkapnya

Macron Sebut Intelijen Prancis Konfirmasi ISIS di Balik Serangan Konser Rusia

38 hari lalu

Macron Sebut Intelijen Prancis Konfirmasi ISIS di Balik Serangan Konser Rusia

Prancis bergabung dengan AS dengan mengatakan bahwa intelijennya mengindikasikan bahwa ISIS bertanggung jawab atas serangan di konser Rusia

Baca Selengkapnya

Rusia Pertanyakan Klaim ISIS sebagai Dalang Serangan: Ini Upaya AS Lindungi Ukraina!

38 hari lalu

Rusia Pertanyakan Klaim ISIS sebagai Dalang Serangan: Ini Upaya AS Lindungi Ukraina!

Rusia menantang pernyataan Amerika Serikat bahwa ISIS menjadi dalang penembakan di sebuah gedung konser di luar Moskow yang menewaskan 137 orang

Baca Selengkapnya