Munaslub Golkar, Pemilihan Ketua Umum Diperkirakan Molor  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Panitia Pengarah Munaslub Partai Golkar, Nurdin Halid, memimpin Rapat Pleno Munaslub di Kantor DPP Partai Golkar, Jakarta, 6 Mei 2016. TEMPO/M IQBAL ICHSAN

    Ketua Panitia Pengarah Munaslub Partai Golkar, Nurdin Halid, memimpin Rapat Pleno Munaslub di Kantor DPP Partai Golkar, Jakarta, 6 Mei 2016. TEMPO/M IQBAL ICHSAN

    TEMPO.CONusa Dua - Ketua Pimpinan Sidang Musyawarah Nasional Luar Biasa Partai Golkar Nurdin Halid mengatakan pemilihan calon Ketua Umum Golkar bisa molor. Akibatnya, kata dia, acara munaslub, yang dijadwalkan selesai pada 17 Mei nanti, akan mundur hingga 18 Mei.

    Nurdin melanjutkan, panitia pun sudah memperpanjang masa sewa hotel hingga 18 Mei. "Kita lihat dinamikanya nanti, pemilihannya kapan," katanya di Bali Nusa Dua Convention Center, Senin, 16 Mei 2016.

    Dinamika itu, ucap Nurdin, dilihat dari pandangan umum para pemilik suara guna menyikapi laporan pertanggungjawaban DPP Golkar. Rapat-rapat komite, kata dia, menentukan pemilihan dengan cara tertutup atau terbuka hingga waktu pemilihan.

    Nurdin menambahkan, jadwal pemilihan ketua umum yang seharusnya digelar hari ini pun bisa berubah. "Bisa tengah malam atau besok," tuturnya.

    Ketua Bidang Humas dan Publikasi Munaslub Partai Golkar Meutya Hafid menjelaskan, awal molornya rangkaian acara ini adalah saat pandangan umum DPD kemarin malam. "Sampai sekarang masih berlangsung," katanya. "Seharusnya sekarang rapat komite."

    Meutya melanjutkan, seharusnya setelah komite adalah pemilihan pimpinan komisi, rapat-rapat komisi, dan laporan setiap komisi dalam paripurna. Setelah itu, barulah masuk tahapan syarat dan tata cara pemilihan ketua umum. "Lalu pemilihan," ucapnya.

    HUSSEIN ABRI YUSUF


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Anggota Kabinet Indonesia Maju yang Disusun Jokowi - Ma'ruf

    Presiden Joko Widodo mengumumkan para pembantunya. Jokowi menyebut kabinet yang dibentuknya dengan nama Kabinet Indonesia Maju.