Aktivis Lingkungan Emmy Hafild Mundur dari Greenpeace  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Direktur Eksekutif Greenpeace Asia Tenggara, Emmy Hafild di kantornya, Jakarta, 19 Desember 2007. Dok TEMPO/ Arnold Simanjuntak

    Direktur Eksekutif Greenpeace Asia Tenggara, Emmy Hafild di kantornya, Jakarta, 19 Desember 2007. Dok TEMPO/ Arnold Simanjuntak

    TEMPO.CO, Jakarta - Aktivis lingkungan Emmy Hafild mundur sebagai Direktur Eksekutif Greenpeace Asia Tenggara. Emmy memilih keluar dari Greenpeace karena mengaku kecewa dengan strategi Greenpeace Indonesia yang bekerja sama dengan perusahaan yang diduga merusak hutan.

    Forest Political Campaigner Greenpeace Indonesia Muhammad Teguh Surya membenarkan kabar mundurnya Emmy Hafild dari Greenpeace. Menurut dia, pengunduran diri pengurus adalah hal wajar dalam organisasi.

    "Perbedaan pendapat dan kritik atas penegakan adalah sesuatu yang wajar, tidak ada persoalan di situ," ujar Teguh, Kamis, 29 Oktober 2015. Menurut dia, wajar jika dalam perjalanannya, Greenpeace mengalami banyak cobaan.

    Sebelumnya dikabarkan Emmy Hafild berhenti sebagai suporter Greenpeace Indonesia karena mengaku kecewa dengan strategi constructive engagement Greenpeace dalam mengadvokasi perusahaan besar, seperti Sinar Mas, APRIL, APP, dan WILMAR, yang terlibat dalam kebakaran lahan gambut.

    "Kami tidak mengenal istilah strategi constructive engagement. Kami hanya kampanye kreatif,” ujar Teguh. Perwakilan Greenpeace mengatakan tidak ada kerja sama atau penandatanganan MOU dengan perusahaan-perusahaan tersebut. Greenpeace Indonesia hanya membantu niat perusahaan itu untuk menjaga hutan dan tidak lagi merusaknya.

    Menurut Teguh, Greenpeace Indonesia merupakan satu-satunya non-governmental organization (NGO) di dunia yang tidak menerima dana dari pemerintah atau perusahaan lain. Dengan demikian, menurut perwakilan Greenpeace, mustahil jika pihaknya menjalin kerja sama dengan perusahaan tersebut.

    Keluarnya anggota Greenpeace Indonesia, menurut Teguh, akan menjadi bahan koreksi penting bagi organisasi untuk memajukan gerakan lingkungan. Selama ini, Greenpeace Indonesia mendorong pemerintah dan perusahaan untuk berhenti melakukan praktek-praktek yang merusak lingkungan dan ikut mengimplementasikan praktek bisnis yang tidak lagi merusak lingkungan.

    "Jika perusahaan itu menolak, akan kami kritisi. Namun, jika mereka mau membantu, kami dengan senang hati akan mengawasi tujuan mereka itu di lapangan," kata Teguh.

    ARIEF HIDAYAT


     

     

    Lihat Juga