Lebaran Tanpa Pelukan Bagi Petugas Pemeriksa Swab Pasien Covid

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dokter dan tenaga medis memastikan kenyamanan dan keamanan Alat Pelindung Diri (APD) sebelum memasuki ruang isolasi di Rumah Sakit Darurat (RSD) Covid-19 Wisma Atlet Jakarta, Jumat 15 Mei 2020. Dokter dan tenaga medis harus dipastikan keamanan APD, mulai dari memakai hingga melepas melalui prosedur yang ketat untuk menghindari tertular virus Covid-19, selain itu petugas medis juga memerlukan usaha yang besar karena harus menahan panas hingga buang air kecil selama kurang lebih 8 jam lamanya. TEMPO/Nurdiansah

    Dokter dan tenaga medis memastikan kenyamanan dan keamanan Alat Pelindung Diri (APD) sebelum memasuki ruang isolasi di Rumah Sakit Darurat (RSD) Covid-19 Wisma Atlet Jakarta, Jumat 15 Mei 2020. Dokter dan tenaga medis harus dipastikan keamanan APD, mulai dari memakai hingga melepas melalui prosedur yang ketat untuk menghindari tertular virus Covid-19, selain itu petugas medis juga memerlukan usaha yang besar karena harus menahan panas hingga buang air kecil selama kurang lebih 8 jam lamanya. TEMPO/Nurdiansah

    TEMPO.CO, Belitung - Teguh Aprian Maulana Gultom (27) seorang Ahli Teknologi Laboratorium Medik di RSUD Marsidi Judono Belitung, Bangka Belitung, mesti mengubur keinginannya untuk berkumpul dengan keluarga di hari Lebaran.

    "Memang tahun ini agak sedih biasanya kumpul sama keluarga lalu berkunjung ke rumah saudara," katanya ketika dihubungi Antara di Tanjung Pandan, Ahad, 24 Mei 2020.

    Pria 27 tahun ini harus berdiam di rumah singgah bagi tenaga kesehatan maupun tenaga medis yang menangani Covid-19.

    Sebagai petugas pemeriksa sampel swab tenggorokan pasien Covid-19, Ia selalu kontak erat dengan beberapa pasien sehingga berpotensi terpapar virus berbahaya tersebut.

    Sadar, berada di posisi yang paling beresiko, ia memilih tetap berada di rumah singgah dan memilih untuk tidak pulang berlebaran bersama keluarga pada tahun ini.

    Dia memang sempat pulang ke kediamannya yang juga tidak jauh dari tempat bertugas. Namun itu tidak lama dan baginya belum cukup melepaskan dahaga kerinduan bersama orang tua.

    Selain tidak bisa berjabat tangan, Teguh juga tidak bisa memeluk orang tuanya seperti ketika berlebaran sebelum pandemi Covid-19.

    "Tadi saya menyempatkan pulang, sekarang sudah balik lagi. Pulang cuma sebentar ketemu keluarga inti tidak bisa lama-lama dan ada makanan dari keluarga agar ada suasana lebaran meskipun di rumah singgah," ujarnya.

    Lebaran tahun ini baginya menjadi pengalaman berbeda. Berada di fasilitas rumah singgah bersama tim Covid-19 seperti dokter dan perawat seperti menemukan keluarga baru.

    "Tidak terlalu sepi masih bisa mengobrol, berbincang dan bercanda mengisi waktu luang ketika berada di fasilitas rumah singgah," katanya.

    Guna melepas kerinduan, ia memilih untuk bersilaturahmi secara virtual dengan keluarga maupun teman-temannya di momentum Idul Fitri 1441 Hijriah. "Paling lewat video call saja nanti," ujarnya.



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Maria Pauline Lumowa, Pembobol Bank BNI Diekstradisi dari Serbia

    Tersangka kasus pembobolan Bank BNI, Maria Pauline Lumowa diekstradisi dari Serbia. Dana Bank BNI senilai Rp 1,7 triliun diduga jadi bancakan proyek.