Pemerintah Siapkan Pemeriksaan Rapid Test Kit Corona Lewat Darah

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga mengantre untuk melakukan tes corona atau COVID-19 di Poli Khusus Corona RSUA, Surabaya, Senin, 16 Maret 2020. Poli Khusus Corona dibuka pukul 08.00-20.00 WIB dengan batas jumlah pasien 100 orang per harinya, sebagai upaya mengoptimalkan layananan kepada masyarakat.. ANTARA/Moch Asim

    Warga mengantre untuk melakukan tes corona atau COVID-19 di Poli Khusus Corona RSUA, Surabaya, Senin, 16 Maret 2020. Poli Khusus Corona dibuka pukul 08.00-20.00 WIB dengan batas jumlah pasien 100 orang per harinya, sebagai upaya mengoptimalkan layananan kepada masyarakat.. ANTARA/Moch Asim

    TEMPO.CO, Jakarta - Juru Bicara Pemerintah untuk penanggulangan Virus Corona atau COVID-19, Achmad Yurianto mengatakan Kementerian Kesehatan tengah mengkaji rapid test, untuk pemeriksaan seseorang terjangkit Virus Corona atau tidak. Metode ini telah dilakukan di beberapa negara yang juga terserang virus ini.

    "Perlu dipahami, rapid test ini memiliki cara yang berbeda dengan tes yang selama ini kita gunakan. Karena Rapid test kita akan menggunakan spesimen darah, tidak menggunakan apusan tenggorokan atau kerongkongan," kata Yurianto di Kantor BNPB, Jakarta Timur, Rabu, 18 Maret 2020.

    Ia mengatakan salah satu kelebihan dari rapid test, adalah bahwa tes ini tidak membutuhkan sarana pemeriksaan laboratorium pada bio security level 2. Hal ini berarti tes bisa dilaksanakan hampir di semua laboratorium kesehatan yang ada di rumah sakit yang ada di Indonesia.

    Masalahnya, Yurianto mengatakan karena yang diperiksa dalam tes ini adalah adalah imunoglobulin seseorang, maka orang yang dicek, paling tidak harus terinfeksi paling tidak seminggu.

    "Karena kalau belum terinfeksi atau terinfeksi kurang dari seminggu, kemungkinan pembacaan imunoblobulinnya akan berikan gambaran negatif," kata Yurianto.

    Karena itu, ia mengatakan tes ini harus diiringi dengan pemahaman yang di dapatkan oleh masyarakat tentang kebijakan isolasi diri. Karena pada kasus yang positif dengan pemeriksaan rapid test dan tanpa gejala, indikasinya adalah harus melaksanakan isolasi diri dan dilaksanakan di rumah.

    "Tentunya dengan monitoring yang dilaksanakan oleh Puskesmas atau fasilitas kesehatan terdekat yang sudah disepakati bersama," kata Yurianto.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wabah Virus Corona Datang, 13.430 Narapidana Melenggang

    Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly memutuskan pembebasan sejumlah narapidana dan anak demi mengurangi penyebaran virus corona di penjara