Prabowo Gabung Koalisi Jokowi, FPI Pilih Jaga Jarak

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Prabowo Subianto bersama Sandiaga Uno melambaikan tangan saat menghadiri upacara pelantikan Presiden dan Wakil presiden periode 2019-2024 Joko Widodo dan Ma'ruf Amin di Gedung Nusantara, kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Ahad, 20 Oktober 2019. ANTARA

    Prabowo Subianto bersama Sandiaga Uno melambaikan tangan saat menghadiri upacara pelantikan Presiden dan Wakil presiden periode 2019-2024 Joko Widodo dan Ma'ruf Amin di Gedung Nusantara, kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Ahad, 20 Oktober 2019. ANTARA

    TEMPO.CO, Jakarta - Front Pembela Islam menyatakan akan menjaga jarak dengan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto yang sudah memutuskan bergabung dengan koalisi Joko Widodo-Ma'ruf Amin. Juru bicara FPI Munarman mengatakan, organisasinya sudah mengantisipasi hal tersebut sehingga melakukan Ijtima Ulama IV beberapa waktu lalu.

    "Sikap kami yang dihasilkan melalui Ijtima Ulama IV waktu itu, pertama menolak kekuasaan yang zalim, serta mengambil jarak dengan kekuasaan tersebut," kata Munarman kepada Tempo, Selasa, 22 Oktober 2019.

    Poin berikutnya hasil Ijtima Ulama IV itu adalah menolak putusan hukum yang tidak sesuai prinsip keadilan. Dia menjelaskan, hal itu berkaitan dengan sengketa pemilu dan perkara yang dituduhkan kepada para demonstran aksi 21 dan 22 Mei, 25 dan 30 September, dan kasus lainnya.

    Menurut Munarman, poin pertama itu dibuat dengan mempertimbangkan dan mengantisipasi kejadian bergabungnya Prabowo dengan koalisi Jokowi. Ijtima Ulama IV digelar tak lama setelah Prabowo dan Jokowi menggelar pertemuan MRT 13 Juli lalu.

    "Kami berusaha konsisten dengan apa yang sudah disepakati," ujarnya.

    FPI merupakan salah satu barisan pendukung Prabowo-Sandiaga Uno di pemilihan presiden 2019. Selain FPI, ada pula Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Ulama.

    Namun setelah Prabowo bertemu Jokowi, para tokoh Ijtima Ulama ini juga balik badan. Kemarin, Prabowo secara resmi menyatakan partainya bergabung ke koalisi Jokowi. Bekas calon presiden 2014 dan 2019 itu juga menyatakan dirinya diminta menjadi menteri Jokowi di bidang pertahanan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menunggu Dobrakan Ahok di Pertamina

    Basuki Tjahaja Purnama akan menempati posisi strategis di Pertamina. Ahok diperkirakan akan menghadapi banyak masalah yang di BUMN itu.