Selasa, 24 September 2019

Begini Kesaksian Warga Soal Kerusuhan Manokwari, Papua Barat

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Massa membakar ban saat kerusuhan di pintu masuk Jl. Trikora Wosi Manokwari, Senin, 19 Agustus 2019. ANTARA

    Massa membakar ban saat kerusuhan di pintu masuk Jl. Trikora Wosi Manokwari, Senin, 19 Agustus 2019. ANTARA

    TEMPO.CO, Jakarta - Suasana mencekam menyelimuti Kota Manokwari Papua Barat, Senin 19 Agustus 2019. Yan Christian Warinussy, seorang advokat di Kota Manokwari mengisahkan situasi yang terjadi di kota itu.

    Menurut Yan, pagi itu ia hendak ke Pengadilan Negeri Manokwari untuk mengecek jadwal persidangan.

    "Saya mau masuk pengadilan, mengecek persidangan, tapi gedung pengadilan itu tutup," kata dia saat dihubungi Senin 19 Agustus 2019.

    Massa sudah terlihat membludak di jalanan. Mereka memblokir jalan utama dan membakar ban.

    Demonstrasi warga Manokwari ini dikabarkan dipicu atas insiden penangkapan dan persekusi mahasiswa asal Papua di Surabaya akhir pekan lalu.

    Yan menuturkan massa sudah turun ke jalan sejak pukul 04.00 WIT. Tiga jam kemudian, kata dia, kerumunan justru bertambah banyak. Akibatnya kota Manokwari lumpuh, tak ada kegiatan ekonomi karena toko-toko tutup.

    Ia mengaku hanya menyaksikan kebakaran gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Papua Barat lewat siaran langsung di televisi. Namun menurutnya sebelum terbakar kantor DPRD direncanakan menjadi tempat dialog antara masyarakat dengan pemerintah Provinsi, Kabupaten, dan anggota DPRD.

    "Tapi dalam perjalanan massa ke sana, ada massa lain yang sudah duluan dan terbakar kedua gedung itu. Sehingga penyampaian aspirasi tidak bisa terlaksana," ucap dia.

    Yan bercerita menurut kesaksian istrinya, massa tumpah ke jalan akibat dua kejadian yang melibatkan mahasiswa asal Papua di Surabaya dan Malang. Menurut dia, banyak pernyataan yang kadung membuat warga Papua geram, termasuk ungkapan rasisme seperti panggilan monyet pada mereka.

    "Tadi ada pernyataan kalau kami dikatakan monyet, sekarang monyet ngamuk siapa yang bisa halangi," ujar Yan meniru ungkapan massa aksi.

    Lain dengan Udin, yang sehari-hari bekerja sebagai supir sewaan, ia mengaku sejak pagi kesulitan pergi dari rumah karena akses jalan tertutup. Menurut kesaksian Udin, terdapat kios milik orang Jawa yang dirusak massa.

    "Saya lihat tadi kios-kios milik orang Jawa, banyak yang diacak-acak," ujar Udin saat dihubungi terpisah.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Chip Smart SIM Catat Data Forensik dan Pelanggaran Lalu Lintas

    Berbeda dari kartu SIM sebelumnya, Smart SIM memiliki tampilan baru dan sejumlah fitur tambahan. Termasuk menjadi dompet elektronik.