Gaya Hidup Disebut Pemicu Naiknya Harga Beras di Jawa Timur  

Reporter

Senin, 2 Maret 2015 15:49 WIB

Seorang warga menaikkan sejumlah kantong beras ke atas becak saat operasi pasar beras di Pasar Wonokromo, Surabaya, 26 Februari 2015. Operasi pasar beras yang di lakukan oleh pemerintah provinsi Jawa Timur bersama Perum Bulog ini untuk mengantisipasi kenaikan harga beras di pasaran. TEMPO/Fully Syafi

TEMPO.CO, Surabaya - Kenaikan harga beras dinilai tak hanya disebabkan oleh faktor cuaca, distribusi, dan musim panen. Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur mengungkap saat ini telah terjadi perubahan (shifting) selera masyarakat di kota besar di wilayah itu ke beras berstandar lebih tinggi.

"Ada perubahan taste konsumen. Demand beras premium oleh kelas menengah di Jawa Timur meningkat," kata Kepala BPS Jawa Timur M. Sairi Hasbullah, Senin, 2 Maret 2015.

Permintaan beras premium yang meningkat itu tidak diringi dengan suplai yang tinggi. Ditambah lagi stok beras yang memang tidak melimpah karena puncak panen masih harus menunggu hingga akhir Maret ini. "Karena itulah terjadi kenaikan harga," ujar Sairi.

Sairi menjelaskan kenaikan harga beras tak banyak berpengaruh terhadap deflasi di Jawa Timur. Dibandingkan dengan provinsi lainnya, kenaikan harga beras di Jawa Timur berkisar lima persen saja dan lebih disebabkan efek psikologis nasional.

"Harga beras di sini relatif terkendali," ujarnya. Sairi lalu memberikan perbandingan, "Tidak setinggi di DKI Jakarta yang lebih dari 10 persen."

BPS Jawa Timur mencatat deflasi sepanjang Februari 2015 sebesar 0,52 persen atau sebesar 0,32 persen berdasarkan laju tahun kalender (Desember 2014-Februari 2015). Namun, selama kurun 13 tahun terakhir, ia mengakui deflasi bulan ini merupakan yang tertinggi.

Deflasi kali ini, menurut Sairi, dipicu oleh beberapa komoditi, antara lain bensin, cabai rawit, cabai merah, angkutan dalam kota, angkutan udara, telur ayam ras, bawang merah, solar, semen, dan kentang. Komoditi bensin dan solar menyumbang deflasi karena rata-rata harganya lebih rendah daripada Januari.

ARTIKA RACHMI FARMITA

BPS

Berita terkait

Wakil Sri Mulyani Harap Pertumbuhan Ekonomi 5,11 Persen Bisa Gaet Investor

12 jam lalu

Wakil Sri Mulyani Harap Pertumbuhan Ekonomi 5,11 Persen Bisa Gaet Investor

Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara angka pertumbuhan ekonomi kuartal pertama 2024 bisa menjadi basis.

Baca Selengkapnya

Rupiah Menguat ke Level Rp 16.025 per Dolar AS

13 jam lalu

Rupiah Menguat ke Level Rp 16.025 per Dolar AS

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menguat dalam penutupan perdagangan hari ini ke level Rp 16.025 per dolar AS.

Baca Selengkapnya

BPS: Pertumbuhan Ekonomi Triwulan I 2024 Tumbuh, Tertinggi Sejak 2015

18 jam lalu

BPS: Pertumbuhan Ekonomi Triwulan I 2024 Tumbuh, Tertinggi Sejak 2015

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pertumbuhan ekonomi Indonesia di triwulan I-2024 yang tercatat 5,11 persen secara tahunan

Baca Selengkapnya

17 Bandara Internasional Turun Status, BPS: Hanya Digunakan 169 Wisatawan Mancanegara

4 hari lalu

17 Bandara Internasional Turun Status, BPS: Hanya Digunakan 169 Wisatawan Mancanegara

BPS mencatat hanya 169 wisatawan mancanegara yang menggunakan 17 Bandara yang kini turun status menjadi Bandara domestik.

Baca Selengkapnya

BPS: Inflasi Indonesia Mencapai 3 Persen di Momen Lebaran, Faktor Mudik

4 hari lalu

BPS: Inflasi Indonesia Mencapai 3 Persen di Momen Lebaran, Faktor Mudik

Badan Pusat Statistik mencatat tingkat inflasi pada momen Lebaran atau April 2024 sebesar 3 persen secara tahunan.

Baca Selengkapnya

Neraca Perdagangan Kita Surplus 47 Bulan Berturut-turut, Apa Penyebabnya?

14 hari lalu

Neraca Perdagangan Kita Surplus 47 Bulan Berturut-turut, Apa Penyebabnya?

Indonesia memperpanjang rekor surplus neraca perdagangan dalam 47 bulan terakhir pada Maret 2024

Baca Selengkapnya

Terkini Bisnis: Putusan MK Pengaruhi IHSG, Bandara Sam Ratulangi Mulai Dibuka

14 hari lalu

Terkini Bisnis: Putusan MK Pengaruhi IHSG, Bandara Sam Ratulangi Mulai Dibuka

Pembacaan putusan sengketa Pilpres di MK memengaruhi IHSG. Perdagangan ditutup melemah 7.073,82.

Baca Selengkapnya

Impor Maret 2024 Turun 2,6 Persen, Impor Bahan Baku Turun tapi Barang Konsumsi Naik

14 hari lalu

Impor Maret 2024 Turun 2,6 Persen, Impor Bahan Baku Turun tapi Barang Konsumsi Naik

BPS mencatat impor pada Maret 2024 turun 2,6 persen secara bulanan. Impor bahan baku dan bahan penolong turun, tapi barang konsumsi naik.

Baca Selengkapnya

BPS: Impor Beras pada Maret 2024 Melonjak 29 Persen

14 hari lalu

BPS: Impor Beras pada Maret 2024 Melonjak 29 Persen

Badan Pusat Statistik atau BPS mengungkapkan terjadi lonjakan impor serealia pada Maret 2024. BPS mencatat impor beras naik 2,29 persen. Sedangkan impor gandum naik 24,54 persen.

Baca Selengkapnya

BPS Sebut Iran dan Israel Bukan Mitra Utama Dagang RI: Dampak Konflik Tak Signifikan

14 hari lalu

BPS Sebut Iran dan Israel Bukan Mitra Utama Dagang RI: Dampak Konflik Tak Signifikan

BPS menilai dampak konflik geopolitik antara Iran dan Israel tak berdampak signifikan terhadap perdangan Indonesia. Begini penjelasan lengkapnya.

Baca Selengkapnya