Senin, 19 November 2018

In Memoriam Charles Hutagalung

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta:Setelah tiga tahun menderita stroke, Charles Hutagalung, menghembuskan nafas terakhirnya pukul 07.53 WIB, Senin (7/5). Menurut putra pertamanya, Immanuel Hutagalung, kepada Antara, Charles meninggal dalam perjalanan menuju Rumah Sakit Pusat Pertamina Jakarta. Dia akan dimakamkan hari Rabu (8/5) di Pemakaman Joglo, Jakarta Barat. "Papa minta saya menjaga mama," ujar Immanuel tentang pesan terakhir ayah empat anak itu.

    Vokalis sekaligus pemain organ grup musik The Mercy's ini, mengidap stroke sejak tahun 1998. Penyakit itu membuatnya tidak seproduktif ketika The Mercy's masih berkibar di blantika musik nasional tahun 1969 hingga tahun 1978. Meski demikian, sampai akhir hayatnya, Charles tidak pernah berhenti berkarya. Suami dari Deli Sriati ini masih menciptakan beberapa lagu-lagu daerah Manado.

    Masyarakat mengenal Charles ketika dia mulai bergabung dengan The Mercy's yang dibentuk di Medan tahun 1969. Waktu itu, grup musik dan vokal ini masih digawangi Rinto Harahap (bas), Erwin Harahap (gitar melodi), Reynold Panggabean (drum), Rizal Arsyad (gitar pengiring) dan Boen (organ). Boen kemudian mengundurkan diri, dan Charles mengambil alih posisinya. Pada tahun pertama terbentuk, The Mercy's masih berpetualang dari satu klub malam ke klub malam yang lain, mulai dari Medan hingga ke Penang, Malaysia.

    Tahun 1972, The Mercy's hijrah ke Jakarta dan masih tampil di beberapa klub malam, membawa lagu-lagu yang mereka ciptakan sendiri. Kemudian, mereka merekam lagu-lagunya di Studio rekaman Remaco. Tercatat sudah 30 album yang dihasilkan The Mercy's, mulai dari album pop, keroncong, dan rohani.

    Pasang surut yang melanda blantika musik Indonesia juga dirasakan oleh The Mercy's sejak memasuki dunia rekaman. Rizal Arsyad kemudian meneruskan sekolahnya ke Jerman. Albert Sumlang kemudian bergabung sebagai peniup saksofon. Tahun 1978, The Mercy's melakukan rekamannya yang terakhir. Sejak itu, anggota The Mercy's kemudian mulai terlibat dengan kegiatannya sendiri-sendiri. Erwin Harahap memilih di jalur produser rekaman dan mendirikan perusahaannya sendiri. Rinto Harahap menjadi penyanyi solo dan pencipta lagu. Demikian pula dengan Charles Hutagalung, lebih dikenal kemudian sebagai penyanyi Solo dan pencipta lagu.

    Sebagai pencipta lagu, Charles Hutagalung tergolong sukses menciptakan lagu-lagu yang terkenal saat itu. "Kisah Seorang Pramuria" adalah salah satu buah karyanya yang masih terkenal hingga saat ini. Bahkan beberapa lagu ciptaannya, seperti "Dalam Kerinduan" dirilis ulang dan dinyanyikan oleh Dewi Yull. Demikian pula dengan lagu "Hidupku Sunyi", direkam kembali dan dibuatkan video klipnya oleh Tantowi Yahya yang menyertakan puluhan MC (master of Ceremony) terkenal. Hasil penjualan lagu ini menurut Tantowi Yahya ditujukan untuk membantu biaya pengobatan Charles. Album-album lama The Mercy's juga belakangan dirilis ulang dalam bentuk VCD maupun VCD karaoke.

    Sejak menderita stroke, Charles tetap mendapat perhatian dan bantuan dari sesama artis. Tanggal 16 Desember 2000 yang lalu, Charles, secara pribadi mendapat bantuan Rp 50 juta untuk biaya pengobatannya, dalam sebuah acara amal yang dimotori oleh Benny Panjaitan, vokalis Panbers, grup musik seangkatan The Mercy's. Pada bulan yang sama, bersama 100 artis lainnya, dia mendapat santunan dari Yayasan Paramawidya Artis Indonesia, pimpinan Ratna Djuwita, aktris terkenal tahun 1970-an.

    Namun pada akhirnya, semua itu tidak dapat menghentikan kehendak Yang Di Atas. Pada pagi hari yang cerah hari ini, dunia musik Indonesia kembali kehilangan maestronya. (Deddy Sinaga)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Agar Merpati Kembali Mengangkasa

    Sebelum PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) berpotensi kembali beroperasi, berikut sejumlah syarat agar Merpati Airlines dapat kembali ke angkasa.