Rabu, 18 September 2019

Pidato Lengkap Prabowo Soal Indonesia Punah Jika Kalah Pilpres

Reporter:

Budiarti Utami Putri

Editor:

Syailendra Persada

Selasa, 18 Desember 2018 09:14 WIB

Calon Presiden no urut 02 Prabowo Subianto (tengah) menyampaikan sambutan dalam Kopi Darat (Kopdar) Ojek Online (Ojol) Menuju Perubahan Indonesia 9 (Kompi 9) di lapangan parkir Sirkuit Internasional Sentul, Bogor, Ahad, 16 Desember 2018. Kopdar ini digelar sebagai bentuk dukungan untuk Prabowo Subianto - Sandiaga Uno dalam Pemilihan Presiden 2019. ANTARA/Arif Firmansyah

TEMPO.CO, Jakarta - Calon Presiden Prabowo Subianto lagi-lagi menjadi sorotan gara-gara pidatonya. Kali ini, Ketua Umum Partai Gerindra ini mengatakan Indonesia akan punah jika ia dan Sandiaga Uno kalah dalam Pemilihan Presiden atau Pilpres 2019.

Baca: Prabowo: Saya Dituduh Islam Garis Keras, Besoknya Dibilang Zionis

"Karena itu kita tidak bisa kalah. Kita tidak boleh kalah. Kalau kita kalah, negara ini bisa punah," kata Prabowo dalam acara Konferensi Nasional Partai Gerindra di Sentul International Convention Center, Bogor, Jawa Barat, Senin, 17 Desember 2018.
 
Ketua Umum PPP Romahurmuziy mengatakan pidato Prabowo tersebut sebagai semprotan kebohongan ala Presiden Amerika Serikat Donald Trump. "Ini kan lagu lama. Saya selalu menyampaikan, strategi yang dilakukan Prabowo - Sandiaga diadopsi dari Donald Trump, saya istilahkan semprotan kebohongan atau firehose of the falsehood," ujar Rommy saat ditemui usai menghadiri rapat evaluasi TKN di kediaman Jusuf Kalla, Senin malam, 17 Desember 2018.
 
Berikut pidato lengkap Prabowo dalam acara tersebut:

Assalamualaikum wr wb, salam sejahtera, shalom, om swastiastu, namo bodhaya,

Advertising
Advertising

Saudara-saudara sekalian, marilah kita sebagai insan bertakwa, sebagai pejuang marilah kita tidak henti-hentinya memanjatkan puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT.

Kita masih diberi nafas, masih diberi kesehatan untuk berkumpul pada siang hari ini dalam Konferensi Nasional Partai Gerindra. Saya menyapa dan menyambut tokoh-tokoh dari partai koalisi yang hadir di sini, para ulama juga yang hadir yang tidak akan disebut satu-satu karena tadi semua sudah disebut.

Karena saya tahu, saudara-saudara sudah agak lapar? Betul? Masih kuat? Bener? Baik saya minum kopi dulu. Kalian tahu risikonya, satu cangkir kopi, tiga jam ceramahnya.

Saudara sekalian, Konferensi Nasional ini kita lakukan sebelum kita melaksanakan suatu pekerjaan yang sangat besar. Dua tahun lalu, kita juga melakukan pertemuan kader Gerindra seluruh Indonesia. Waktu kita menghadapi pemilihan gubernur DKI. Waktu itu juga pekerjaan besar. Kenapa? Karena pemilihan gubernur waktu itu, menjadi pertarungan antara kekuatan yg membela kebenaran dan keadilan dengan kekuatan yang ingin memperpanjang keadaan yang tidak benar dan tidak adil.

Yang membuat pertarungan waktu itu begitu besar adalah justru mereka yang merasa bisa mengabaikan perasaan dan pikiran rakyat banyak. Karena itu, waktu itu, mereka menertawakan kita, mereka menganggap bahwa kita bisa kalah dengan kekuatan uang.

Saudara, saat itu saya kumpulkan Partai Gerindra di padepokan pencak silat. Dan Gerindra adalah partai yang lama berdiri dari bawah, dari sejak lama kita tidak pernah kita beri uang ke daerah-daerah. Betul? (Betul). Ternyata Partai Gerindra, tanpa uang masih kompak, masih setia dan masih berjiwa militan.

Saudara-saudara bahkan saya memanggil kalian ke sini, justru saya mau meminta uang ke kalian. Kalian ke sini biaya sendiri. Betul? (Betul). Bahkan yang bukan Gerindra, tapi simpatisan Gerindra, juga datang kesini. Garda metal, relawan-relawan, emak-emak, yang paling gawat emak-emak itu. Kalau ada pihak lain ngumpulin anggotanya harus dikasih uang, kalau Gerindra terbalik. Gerindra minta uang dari kalian semua ini. Betul? (Betul).

Saudara2, saya tidak akan panjang lebar, tapi saya katakan, bahwa saya memanggil di Konferensi Nasional ini, sebelum kita melaksanakan pekerjaan yang besar yaitu saya menganggap Konferensi Nasional ini adalah taklimat sebelum kita maju ke medan laga menyelamatkan bangsa dan negara.

Baca kelanjutannya: Prabowo mulai menyinggung Indonesia Punah jika ia kalah

<!--more-->

Jadi saudara, sudah dikatakan, kita merasakan getaran rakyat, kita merasakan rakyat ingin perubahan, rakyat ingin perbaikan, rakyat ingin pemerintah yang bersih dan tidak korupsi. Betul? (Betul). Karena itu kita tidak bisa kalah. Kita tidak boleh kalah. Kalau kita kalah, negara ini bisa punah. Karena elite Indonesia selalu mengecewakan, selalu gagal menjalankan amanah dari rakyat Indonesia.

Sudah terlalu lama elite yang berkuasa puluhan tahun, susah terlalu lama mereka memberi arah keliru. Sistem yang salah. Dan saya katakan, bahwa sistem ini kalau diteruskan akan mengakibatkan Indonesia lemah. Indonesia semakin miskin, dan semakin tidak berdaya bahkan bisa punah.

Saudara sekalian, saya hanya ingin memberi satu analisa, untuk meyakinkan kalian tugas kita sangat penting. Saudara sekalian, para ahli mengatakan, bahwa penghasilan kita per kapita adalah sekitar 4.000 dollar per tahun. Tapi dari 4.000 itu, sekitar 49 persen, setengahnya dikuasai oleh satu persen rakyat kita. Jadi kalau kita cabut yang satu persen, kekayaan penghasilan kita setahun tinggal setengahnya yaitu 1.900. Itu kata penasehat saya Pak Fuad Bawazier.

Jadi kalau kita cabut yang satu persen tinggal setengahnya. Kita perkapita bukan 3.800 dolar, tapi setengahnya, 1.900 kurang lebih. 1.900 dolar per kapita, artinya dibagi rata. Tapi 1.900 dipotong lagi utang, iya, kita semua punya utang. Bahkan anakmu baru lahir, punya utang. Utangnya kurang lebih, 600 dolar. Jadi iya, utang kamu itu 600 dolar. Kurang lebih 600 dolar itu, berapa ya? Ya sekitar 9 juta. Anakmu baru lahir, utang sudah 9 juta. Jadi kekayaan kita sebenarnya hanya 1.300 dolar per kapita.

Mari kita lihat siapa negara yang setingkat dengan kita 1.300 dollar. Kita setingkat dengan Rwanda, Afghanistan yang perang sampai sekarang. Chad, Ethiophia, Chad sampai sekarang masih perang, Burkina Faso, laut aja enggak punya. Yah. Ini. Teman-teman, kita setelah 70 tahun merdeka kita tetap kacau. Saudara-saudara, ini yang tidak pernah diakui oleh elite kita. Karena itu tidak ada jalan lain kita harus memenangkan pemilihan 2019.

Saudara-saudara sekalian saya menerima amanah dan tugas sebagai calon presiden bersama Sandiaga Uno sebagai wakil. Tapi ini mungkin karena pengorbanan kawan-kawan kita terutama PKS dan PAN. Karena itu saya minta--juga pengorbanan Partai Demokrat--karena itu jangan sekali-sekali kita lupa kawan-kawan kita yang sebenarnya.

Karena itu saya sampaikan di sini bahwa mungkin ada janji saya di sini, yang perlu diingat Prabowo Subianto tidak pernah lupa janji yang diberikan, karena itu saya berjuang keras agar kawan-kawan koalisi ini harus juga bisa berhasil dalam pemilu yang akan datang. Karena itu saya minta saudara cawapres Sandiaga Uno supaya kampanye dengan PKS, PAN, Demokrat untuk sama-sama bantu kawan-kawan kita. Juga Berkarya tentunya. Hanya waktu itu maaf Berkarya belum punya kursi, tidak apa-apa mudah-mudahan menyusul.

Tapi saya punya pemikiran, apapun terjadi kita tidak akan tinggalkan kawan-kawan kita. Dan kalau perlu, kita tawarkan mari kita lakukan fusi menjadi satu kekuatan. Ini baru pemikiran, belum tentu masuk akal, boleh kan pemikiran boleh. Kenapa, kita satu jiwa satu perjuangan.

Dan maaf Pak Amien, kita sama-sama juga sudah semakin tua, Pak Syarief iya kan, iya. SBY saya itu satu angkatan, tapi saya bandel jadi saya turun satu angkatan. Tapi jangan disebarluaskan, waduh ada wartawan yah. Tapi ini media yang baik yah, jangan-jangan wartawan datang nunggu saya salah bicara.

Jadi saudara-saudara, kita terima amanah karena negara dalam keadaan sulit, dalam arah yang tidak benar. Ada yang selalu mengatakan, "enggak, semua baik, negara baik ekonomi bagus, siapa bilang harga-harga tidak terjangkau oleh rakyat". Kalian yang tahu keadaan sebenarnya. Betul.

Saudara-saudara, kita merasakan arus perubahan, saya menghargai kedatangan saudara-saudara dari tempat yang jauh, tanpa dibantu oleh kita kalian datang sendiri. Saya tidak tahu dari mana uangnya, urunan, ojek, ojek terimakasih. Hei kalian elite partai kalau kalian tidak nyumbang kelewatan kalian. Ini tukang ojek aja ngirim penghasilannya kepada dana kita.

Jadi saudara-saudara sekalian kalian bangga atau tidak kita setingkat Burkina Faso. Bahkan saya yakin itu jendaral-jenderal purnawirawan letak Burkina Faso pun tidak tahu. Bukan kita membanggakan diri tapi tidak pantas negara terbesar keempat yang begtu kaya, tidak pantas rakyatnya banyak yang miskin.

Saudara-saudara sekalian, kalau saya bersama tim saya kalau kami tidak yakin kita bisa perbaiki keadaan negara ini dengan cepat, kita tidak akan maju jadi capres. Saya siap maju karena saya yakin kita dapat perbaiki keadaan negara dalam waktu singkat. Karena itu kalian datang ke sini karena kalian laksanakan tugas kalian sebagai warga negara, kalian punya kesadaran politik. Sebuah negara modern adalah negara di mana warga negaranya punya kesadaran untuk mengabdi dan saudara-saudara telah memutuskan untuk mengabdi di bidang politik.

Saudara mengabdi di bidang politik berarti saudara berkorban, teman-temanmu sekarang ada di rumah masing-masing, saudara di sini dari jam 5 pagi persiapan berkumpul dan saudara mendengarkan sambutan demi sambutan dari tokoh-tokoh politik kita. Saya yakin bahwa saudara capek mendengarkan. Betul. Kalian capek atau tidak capek? Kalau saya sudah seumur begini saya butuh kopi. Kopi saya mantap.

Saudara-saudara, tugas warga negara adalah ikut bertanggung jawab atas jalannya negara tersebut. Saudara masuk politik saya yakin saudara ingin tentukan baik buruknya negara kita. Saudara berpolitik karena saya yakin saudara ingin nasib anak cucu lebih baik dari nasibmu sendiri.

Kau bekerja, kau kaum ojek, kau banting tulang mencari sesuap nasi untuk anak istrimu. Masa kau rela anakmu tidak lebih baik nasib dari dirimu sendiri. Apa kau tidak bermimpi suatu saat anakmu bisa jadi dokter dan insinyur atau pengusaha. Apa kau tidak mimpi suatu saat anakmu jadi pemilik perusahaan, bukan karyawan.

Apakah salah kita ingin rakyat kita hidup sejahtera. Kenapa kita harus tunduk-tunduk, kenapa harus diam diintimidasi, kenapa ulama-ulama kita ditakut-takuti. Habieb Rizieq difitnah, negara macam apa. Mbak Neno diserang oleh preman-preman, tapi preman-preman itu ada yang membekingi, mobil beliau dibakar di depan rumah, apa negara ini yang kita inginkan.

Saudara-saudara sekalian, kita telah memilih demokrasi sebagai jalan terbaik. Demokrasi artinya rakyat yang berkuasa, demokrasi artinya rakyat menentukan pemimpin-pemimpinnya. Demokrasi berarti rakyat berhak menganti pemimpinnya kalau rakyat menghendaki. Kenapa, harus ribut ganti pemimpin. Kalau pilot pesawat sudah kelihatan kurang handal kan lebih baik pikirku diganti. Kalau pengemudi taksi kelihatannya salah jalan terus, apa enggak lebih baik diganti. Ganti camat, ganti bupati biasa.

Saudara-saudara, proklamator kita, pendiri bangsa kita Bung Karno, tahun 65 kalau dia mau terus bertahan Indonesia bisa perang saudara. Beliau memilih turun, demi rakyat bisa selamat. Kita di sini banyak angkatan 66 di sini, Pak Amien Rais semua. Kita saksi sejarah bahwa pada saat itu rakyat masih banyak sekali yang cinta dengan Bung Karno. Kalau Bung Karno egois, kalau Bung Karno hanya memikirkan kekuasaan, bisa saja beliau katakan pilih Soeharto atau Sukarno. Dan bangsa kita bisa pecah.

Sama tahun 1998, Pak Harto juga demikian, Pak Harto mengatakan tidak ingin berkuasa dengan senjata. Saya saksinya. 
Satu minggu demonstrasi beliau langsung turun. Apa yang saya katakan, saudara-saudara, para elite janganlah memaksakan kehendak melawan kehendak rakyat. Marilah kita hormati kehendak rakyat apa pun keputusan rakyat.

Saya sudah buktikan tahun 2014 sebetulnya pihak kami merasa diperlakukan dengan tidak benar. Hakim-hakim MK tidak mau buka bukti-bukti yang kami bawa. Tapi kami mengalah kami terima bahkan saya datang pada pelantikan lawan saya. Ada yang enggak pernah datang kalau lawannya dilantik. Kasih tangan aja enggak mau.

Saudara-saudara, demokrasi wujudnya adalah nyoblos surat suara dimasukkan ke kotak. Itu demokrasi. Jadi Pak Gubernur bicara sepak bola. Kalau kita diajak main sepak bola, kita sudah tahu wasitnya berpihak, hakim garisnya berpihak, untuk apa kita ikut.

Tapi saya terima kasih sekjen-sekjen partai koalisi dan timnya, kalian berjuang keras bolak balik menghadap KPU dan Bawaslu. Kita patut juga menghargai KPU dan Bawaslu yang sekarang. DPT yang tadinya kita khawatir puluhan juta nama-nama hantu ternyata sekarang sudah agak dibersihkan. Saya terima kasih, saya hormat sama partai-partai koalisi yang membersihkan DPT dan mereka KPU masih mengizinkan kita untuk terus membersihkan dan mempelajari DPT itu.

Karena itu tugas kita sekalian semuanya pulang dari Konferensi Nasional ini periksa DPT di RT RW masing-masing. Insya Allah kita ulangi kembali peristiwa di DKI.

Mereka punya anggaran yang luar biasa, mereka punya uang. Kita sampaikan ke rakyat kalau dikasih uang, terima uang itu, terima uang itu karena itu uang rakyat sendiri. Kalau sudah terima uang silakan coblos sesuai hati nurani masing-masing.

Saudara-saudara sekalian demikian intisari daripada pidato saya. Saya ingin mengucapkan khususnya kepada umat yang ada di sini. Saya merasa besar hati saya didatangi dengan keluarganya, tiga keluarga pendiri NU datang ke saya. Keluarga Tebuireng, keluarga Tambak Beras dan keluarga Denanyar datang ke rumah saya malam-malam, untung Pak Sandi yang bawa mereka dan mereka menyatakan berada bersama kita. Saya terima kasih keberpihakan tokoh-tokoh NU yang masih setia kepada khittah 1926.

Dan saya terima kasih kepada tokoh-tokoh Ijtima Ulama, GNPF Ulama, yang walaupun saya tidak mampu melaksanakan rekomendasi mereka masih tetap setia mendukung kita. Saya terharu dengan dukungan sahabat kita yang sekarang masih jauh di tanah suci, tapi insya Allah beliau akan kita jemput bersama. Dan terima kasih atas pembelaan dari tokoh-tokoh semua, baik dari semua agama.

Suatu hari saya dituduh Islam garis keras, besoknya saya dituduh zionis. Yang mana? Gue bingung juga nih. Saya datang ke Boyolali dengan maksud baik, bukan untuk mengejek tampang Boyolali, bukan. Justru saya membela rakyat Boyolali. Sampeyan Boyolali? Ya.

Baca terusannya: Prabowo menyinggung Reuni 212

<!--more-->

Jadi ada upaya selalu mencari-cari kesalahan. Suatu saat saya dibilang Islam garis keras, besoknya saya dibilang kurang Islam. Saya enggak bisa jadi imam salat katanya. Ya saya merasa tahu diri. Betul? Yang jadi imam ya harus orang yang lebih tinggi ilmunya. Betul? Saya tidak takut mengakui saya merasa tidak pantas saya menjadi imam salat. Lebih baik saya ikuti imam yang lebih tinggi ilmunya dari saya. Untuk apa saya bohong? Untuk apa saya pura-pura pada kalian?

Saya kalau enggak mengerti saya tanya, pak ustaz gimana ini? Beliau menjelaskan. Pak ustaz apakah Islam ini agama yang radikal? Oh tidak benar. Mereka ajarkan Islam kita Islam yang rahmatan lil alamin. Islam kita adalah Islam yang melindungi semua dalam alam semesta. Islam kita bukan Islam yang menebar kebencian. Islam kita ingin sejuk dan damai.

Buktinya waktu mereka Reuni 212, Ustaz Slamet Maarif di Jatim minta saya datang, saya tanya ustaz gimana aman enggak nanti? Insya Allah aman. Kemudian saya tanya bagaimana kalau Reuni 212 yang datang sedikit? Tidak, insya Allah 500 ribu, ternyata yang datang belasan juta orang. Dan marilah kita bertanya apakah ada kekacauan? Bahkan rumput aja enggak ada yang diinjak.

Bahkan Saudara Dahnil itu, yang berjonggot itu, coba berdiri. Pak Dahnil ini karena begitu gigih menjadi jubir kita sekarang sering dipanggil-panggil. Bahkan Pak Dahnil ini jadi tukang kebersihan, beliau ini yang bersihkan plastik-plastik, dia yang pimpin kebersihan. Sekian belas juta, aman damai, tertib, saudara-saudara.

Di Perancis sekarang, di Paris hanya 40 ribu orang. Kalian coba buka berita internasional. Lihat enggak apa yang terjadi di Paris? Lihat? Jawabannya lemes berarti kalian enggak lihat, enggak nonton. Tampang-tampang kalian nontonnya dangdut aja. Betul? Apalagi garda metal ini.

Kemarin saya di tengah kawan-kawan dari ojol, tahu-tahu ada dua penyanyi dangdut. Namanya Dua Serigala. Gawat. Serigala. Kemudian minta foto dengan saya. Jadi ada serigala sini (tunjuk ke kiri), serigala sini (tunjuk ke kanan). Saya tanya kamu gigit enggak? Dia bilang, enggak pak kami serigala jinak. Serigala jinak. Ada serigala yang jinak atau tidak? Di Indonesia ada. Ini ojol maunya Serigala.

Saudara-saudara sekalian, di Perancis 40 ribu orang sampai sekarang belum terkendali, kita belasan juta orang tertib. Saya ini bolak balik mau minta maaf dengan para ulama dan para kyai 212 dan GNPF, dengan guru saya Pak Amien Rais. Karena saya sering, kadang-kadang saya agak ragu dengan insting-insting mereka. Ternyata insting mereka itu yang tepat.

Saya mengatakan kepada temen2 dari GNPF, aduh nanti bagaimana? Reuni kok yang datang sedikit. Tenang, mereka katakan 'tidak Pak, minimal 500 ribu, bisa-bisa satu juta'. Ternyata yang datang 13 juta lebih. Yang aneh bin ajaib banyak sekali media-media kita yang tidak melihat 13 juta orang itu. Mata mereka mungkin ada di dengkul mereka itu loh. Eh ini kau dari mana ini (sembari menunjuk seseorang). Media dari mana? Ya terserahlah, lu mau liput silakan lu enggak liput silakan. Kalau 13 juta mereka enggak lihat mungkin mereka ingin melihat 30 juta mungkin. Bagaimana? Ya tergantung itu antum-antum yang ada di atas ini.

Saudara-saudara sekalian, angin dukungan ke kita tapi kita jangan euforia, kita jangan sombong, kita jangan angkuh, percaya Tuhan selalu membela pihak yang benar. Kita berada di jalan yang benar, kita ingin menyelamatkan masa depan bangsa kita. Kita memiliki pemahaman, kita memiliki tenaga-tenaga ahli, kita yakin kita akan perbaiki bangsa dan negara ini dan kita tegas mengatakan apabila kita menerima mandat dari rakyat kita akan bentuk pemerintahan yang terbaik yang kita bisa bentuk.

 Kita akan memilih putra-putri terbaik dari mana pun asalnya. Asal mereka commit tidak akan melakukan korupsi, saudara-saudara sekalian. Korupsi adalah penyakit, yang harus kita basmi. Korupsi ini yang menghabiskan kekayaan kita, korupsi yang membuat rakyat kita selalu menerima gaji dan upah yang kecil bahkan tidak ada pembangunan yang dirasakan di Indonesia. Pembangunan di Indonesia ialah pembangunan di Indonesia bukan pembangunan untuk rakyat Indonesia.

Saya kira demikian sambutan saya, (hadirin meneriakkan agar Prabowo terus berpidato)

Baca:Ketua Timses Prabowo Sebut Markas di Solo Merupakan Posko Taktis

Oke kalau begitu saya tawarkan begini, ini kasihan banyak tokoh-tokoh partai lain. Banyak ulama-ulama, ya jadi saya juga ada teman-teman saya dari luar negeri hadir di sini. Saya tidak undang, mereka minta datang dari beberapa negara. Bagaimana kalau kita jeda sebentar, para tokoh ulama bukan kita usir Pak Amien, ya ini udah mau waktu sembahyang. Udah lewat ya? Aku enggak ditegur soalnya. Jadi kita jeda, kita persilakan tamu-tamu keluar nanti kalo kalian belum puas saya akan melayani kalian. Karena masih banyak cerita yang saya ingin cerita kepada kalian.

Simak berita seputar Prabowo dan Pilpres 2019 di Tempo.co