Warga NU Yogya Datangi Makam KH Ali Ma'sum

Reporter

Editor

Jumat, 14 Mei 2004 20:59 WIB

TEMPO Interaktif, Yogyakarta:Sekitar 100 warga Nahdlatul Ulama (NU) dari kalangan pesantren dan mahasiswa, mendatangi makam KH Ali Ma'sum di Dusun Dongkelan, Kelurahan Krapyak, Yogyakarta, Jumat (14/5) sore. Kedatangan mereka untuk 'mengadu' karena sejumlah petinggi NU dinilai telah mengkhianati Khittah 1926 dengan terjun ke politik praktis. Prosesi mirip upacara kematian ini diawali dari depan kantor Yayasan Korps Dakwah Mahasiswa (Kodama) di Jalan Ali Ma'sum 04 Krapyak, sekitar pukul 15.00. Prosesi diawali oleh Gus Mu'thasim Billah dari Ponpes Pandanaran, Sleman, dengan pembacaan tahlil. Rombongan kemudian berjalan kaki menuju kompleks makam KH Ali Ma'sum di Dusun Dongkelan. Rombongan berhenti di depan makam untuk menyampaikan orasi dan maksud diselenggarakannya acara ini. Rombongan kemudian memasuki kompleks makam dan kemudian digelar acara tahlilan yang dipimpin oleh KH Abdul Muhaimin dari Ponpes Nuruh Umahat, Kotagede. Tahlil dilakukan tepat di depan makam KH Ali Ma'sum. Para peserta duduk secara takzim, dan diakhiri dengan tabur bunga ke pusara KH Ali Ma'sum.Usai acara tahlil, dibacakan pernyataan sikap di luar kompleks makam. Pembacaan pernyataan sikap dilakukan oleh Gus Mu'thasim Billah yang juga cucu KH Munawwir, pendiri Ponpes Al Munawwir, Krapyak.Dalam pernyataan sikapnya, warga NU Yogya yang tergabung dalam Komite Bersama Warga NU Penyelamat Khittah 1926 ini meminta semua pihak yang ada di dalam keluarga besar NU, terlebih yang berada di dalam struktur kepengurusan NU, harus tetap konsisten mempertahankan Khittah NU 1926 dan menolak segala upaya memutarbalikkan makna khittah untuk mendukung ambisi politik perorangan atau kelompok dengan berlindung di balik ketiadaan aturan formal organisasi."Keterlibatan Ketua Umum PBNU sebagai calon wakil presiden akan menjadi preseden buruk bagi citra NU ke depan," tegas Gus Mu'tashim Billah yang disambut teriakan 'hidup NU' oleh para peserta aksi.Mereka juga mendesak kepada siapapun yang berada dalam struktur kepengurusan NU, mulai dari tingkat pusat (PBNU) hingga ranting yang jelas-jelas bergerak dalam politik praktis, agar meletakkan jabatannya. Mereka juga mendukung pernyataan Rais Am Syuriah NU, KH Sahal Mahfudz, bahwa NU tidak memiliki kapasitas untuk terlibat dalam urusan capres dan cawapres. KH Abdul Muhaimin saat ditemui seusai acara menegaskan, tahlilan ini merupakan bentuk kekhawatiran dan keresahan warga NU atas dikhianatinya Khittah 1926. "Aksi ini adalah semata-mata untuk kemurnian Khittah NU. Kalau ada yang menuduh kegiatan ini dibiayai kelompok tertentu, saya justru curiga orang yang menuduh itu yang dibiayai kelompok tertentu," ujarnya.Heru CN - Tempo News Room

Berita terkait

Vonis 7 Anggota Nonaktif PPLN Kuala Lumpur Lebih Rendah daripada Tuntutan Jaksa, Ini Hal-hal yang Meringankan

38 hari lalu

Vonis 7 Anggota Nonaktif PPLN Kuala Lumpur Lebih Rendah daripada Tuntutan Jaksa, Ini Hal-hal yang Meringankan

Hakim juga menjatuhkan pidana denda kepada seluruh terdakwa PPLN Kuala Lumpur itu masing-masing sebesar Rp 5 juta.

Baca Selengkapnya

Ricuh di Bawaslu Papua Karena Dugaan Kecurangan Suara, Wakapolres Yalimo Terkena Lemparan Batu

58 hari lalu

Ricuh di Bawaslu Papua Karena Dugaan Kecurangan Suara, Wakapolres Yalimo Terkena Lemparan Batu

Sekelompok massa menyerang Kantor Bawaslu Papua karena mereka menduga ada kecurangan suara saat rapat pleno di Distrik Abenaho.

Baca Selengkapnya

Tim Advokasi Peduli Pemilu: Pemilu 2024 Jadi Pementasan Nepotisme di Panggung Demokrasi Indonesia

58 hari lalu

Tim Advokasi Peduli Pemilu: Pemilu 2024 Jadi Pementasan Nepotisme di Panggung Demokrasi Indonesia

Tim Advokasi Peduli Pemilu melakukan uji materi terhadap UU Pemilu agar penguasa tidak lagi sewenang-wenang saat pemilu.

Baca Selengkapnya

Pemilu 2024 Tingkatkan Kecemasan dan Depresi, Begini Rinciannya

28 Februari 2024

Pemilu 2024 Tingkatkan Kecemasan dan Depresi, Begini Rinciannya

Penelitian menemukan Pemilu 2024 berpengaruh terhadap meningkatnya risiko gangguan kesehatan mental seperti kecemasan dan depresi pada masyarakat.

Baca Selengkapnya

Bukan Hanya Komeng, Perolehan Suara Sejumlah Artis Kalahkan Politisi Berpengalaman. Siapa Saja Mereka?

20 Februari 2024

Bukan Hanya Komeng, Perolehan Suara Sejumlah Artis Kalahkan Politisi Berpengalaman. Siapa Saja Mereka?

Sejumlah artis pendatang baru di politik ungguli politisi pengalaman. Ada Komeng, Verrell Bramasta dan lainnya.

Baca Selengkapnya

Tugas dan Wewenang Komeng Jika jadi Anggota DPD

16 Februari 2024

Tugas dan Wewenang Komeng Jika jadi Anggota DPD

Perolehan suara Komeng melesat di pemilihan DPD. Apa saja tugas dan fungsinya jika terpilih?

Baca Selengkapnya

Tren Mantan Atlet Jadi Caleg di Pemilu 2024, Ini Kata Menpora Dito Ariotedjo

14 Februari 2024

Tren Mantan Atlet Jadi Caleg di Pemilu 2024, Ini Kata Menpora Dito Ariotedjo

Apa kata Menpora Dito Ariotedjo soal kehadiran sejumlah mantan atlet Tanah Air sebagai calon anggota legislatif di Pemilu 2024?

Baca Selengkapnya

Jika Pemilih Sakit di Rumah dan Tak Bisa ke TPS Apakah Hak Suaranya Gugur? Ini Jawabnya

12 Februari 2024

Jika Pemilih Sakit di Rumah dan Tak Bisa ke TPS Apakah Hak Suaranya Gugur? Ini Jawabnya

Jika calon pemilih tiba-tiba sakit, yang tidak memungkinnya menuju TPS. Apakah hak pilihnya hangus? Tidak

Baca Selengkapnya

Terpopuler: Dirty Vote Bongkar Politik Gentong Babi Jokowi, TKN Prabowo-Gibran Tantang Pembuktian Pelanggaran Pemilu

12 Februari 2024

Terpopuler: Dirty Vote Bongkar Politik Gentong Babi Jokowi, TKN Prabowo-Gibran Tantang Pembuktian Pelanggaran Pemilu

Film Dirty Vote membongkar politik gentong babi Presiden Jokowi, TKN Prabowo-Gibran menantang pembuktian pelanggaran Pemilu.

Baca Selengkapnya

Pemilu 14 Februari 2024, Simak Tata Cara Pencoblosan di TPS

9 Februari 2024

Pemilu 14 Februari 2024, Simak Tata Cara Pencoblosan di TPS

Pemungutan suara dalam Pemilu 2024 akan dilaksanakan pada Rabu, 14 Februari 2024 pukul 07.00-13.00 waktu setempat. Ini tata cara pencoblosan di TPS.

Baca Selengkapnya