Setya Novanto Tersangka, Golkar di Daerah Tenangkan Kader  

Selasa, 18 Juli 2017 | 07:11 WIB
Setya Novanto Tersangka, Golkar di Daerah Tenangkan Kader  
Ketua Umum Partai Golkar, Setya Novanto bersama pengurus DPP menggelar konferensi pers di kantor pusat Golkar, Jakarta, 15 Mei 2017. Partai berlambang beringin ini berencana menggelar rapimnas 21 Mei mendatang. TEMPO/Ahmad Faiz.

TEMPO.CO, Yogyakarta - Ketua Dewan Pimpinan Daerah Partai Golkar Bantul Paidi mengatakan penetapan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Setya Novanto sebagai tersangka dugaan korupsi proyek kartu tanda penduduk elektronik (e-KTP) berdampak di daerah, meski tidak signifikan. “Itu urusan DPP (Dewan Pimpinan Pusat--red). Tidak signifikan pengaruhnya,” katanya ketika dihubungi, Senin, 17 Juli 2017.

Paidi mengatakan telah menenangkan kader Golkar lewat telepon. Menurut Paidi, pengurus di daerah akan berkonsolidasi guna memberi masukan kepada pengurus DPP Golkar ihwal ditetapkannya Ketua Umum Golkar Setya Novanto.

Baca juga: Idrus: Setya Novanto Tak Mundur dari Ketum Golkar dan Ketua DPR

Ia menyatakan pengurus daerah prihatin dengan penetapan Setya sebagai tersangka kasus korupsi e-KTP. Tapi pengurus yakin partai berlambang beringin itu mampu keluar dari persoalan tersebut. “Kami menunggu proses hukum. Kami yakin Golkar bisa keluar dari tekanan,” ucapnya.

Menurut Paidi, hingga saat ini belum ada keputusan dari DPP Golkar ihwal posisi Setya. Pengurus di daerah berharap segera ada langkah yang ditempuh DPP Golkar. Di Bantul, terdapat 57 pengurus DPD dengan jumlah kader sebanyak 42 ribu orang. Golkar mendapatkan lima kursi di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Bantul.

Senin malam, Komisi Pemberantasan Korupsi menetapkan Setya Novanto sebagai tersangka dugaan korupsi proyek e-KTP. Setya diduga menyalahgunakan kewenangan sehingga mengakibatkan kerugian negara Rp 2,3 triliun dalam proyek senilai Rp 5,9 triliun itu. 

SHINTA MAHARANI 

Video Terkait:
Setya Novanto Jadi Tersangka, Sekjen Golkar Beri Pernyataan










Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan