3 Serangan Teror Ini Diperintahkan Bachrun Naim Lewat Telegram

Senin, 17 Juli 2017 | 09:41 WIB
3 Serangan Teror Ini Diperintahkan Bachrun Naim Lewat Telegram
Pelaku teroris menembaki warga dan petugas polisi dikawasan Sarinah, Thamrin, Jakarta, 14 Januari 2016. Tepat setahun yang lalu terjadi bom bunuh diri dan penembakan terjadi di jalan Thamrin dan cafe Starbucks. dok.Tempo/ Aditia Noviansyah

TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Joko Widodo atau Jokowi akhirnya memberikan keterangan soal pemblokiran layanan chat Telegram nonaplikasi karena menampung percakapan kelompok kelompok radikal. Kepada awak media, ia menyampaikan bahwa hal itu sudah dipertimbangkan lewat berbagai pemantauan.

Telegram menjadi media komunikasi dalam jaringan terorisme, dudah lama ditengarai oleh pemerintah. "Pemerintah kan sudah lama mengamatinya," ujar Presiden Joko Widodo saat dicegat awak media di kampus Akademi Bela Negara milik Partai NasDem, Ahad, 16 Juli 2017.

Baca juga:
Jokowi: Pemblokiran Telegram Sudah Lama Dipertimbangkan

Langkah pemerintah Indonesia membekukan beberapa akun media sosial yang dianggap memuat konten radikalisme, tak menyurutkan akal Bachrun Naim, orang Indonesia yang kini berada di Suriah dan didaulat menjadi komandan ISIS Asia Tenggara.

Perintah Bachrun itu kemudian memakai pola baru, masih melalui media komunikasi dengan pengikutnya. Setelah Facebook, Twitter, dan blog mereka dibekukan, Bachrun memakai Telegram. Aplikasi percakapan di telepon seluler buatan Rusia ini relatif aman karena tak bisa disadap polisi. Percakapan di dalamnya yang terlindungi enkripsi membuat pesan hanya bisa dibaca pengirim dan penerimanya.

Baca pula:
Telegram Diblokir, Ini Kata Jokowi Soal Penanganan Chat Radikal

Seorang polisi mengatakan Bachrun Naim membuat channel di Telegram yang beranggotakan pengikutnya. “Channel Telegram Bachrun Naim auto-reply,” ujarnya. “Jadi, orang mau tanya apa, jawabannya otomatis.”

Setidaknya, diketahui tiga serangan teror yang perintah maupun perancangannya melalui Telegram ini. Pertama, teror bom Jalan Thamrin atau dikenal dengan Bom Sarinah Bom. Bom yang meledak di pos polisi Jalan M.H. Thamrin, Jakarta Pusat, pada Kamis 14 Januari 2016. Pasca teror bom di salah satu jalan protokol di Jakarta ini, Mabes Polri mengaku telah menangkap sedikitnya 40 terduga teroris, meski tidak semua pelaku yang ditangkap terlibat langsung dengan teror  bom Thamrin. Polisi pun mrngungkapkan aliran dana terkait aksi teror di Jalan Thamrin Januari itu mencapai US$ 900 ribu.

Silakan baca:
Heboh Telegram, Kapolri Tito: Dari Bom Thamrin hingga Falatehan

Kemudian, teror bom Kampung Melayu pun , menurut perwira polisi itu juga dirancang melalui Telegram. Bom Kampung Melayu yang terjadi pada Rabu, 24 Mei 2017, sekitar pukul 21.00. Bom tersebut menyasar polisi yang tengah menjaga pawai obor jelang Ramadan di Kampung Melayu. Sebanyak 15 orang menjadi korban ledakan, lima di antaranya anggota kepolisian. Tiga anggota Polri yang gugur akibat bom bunuh diri di Kampung Melayu adalah Bripda Imam Gilang asal Klaten, Bripda Ridho Setiawan dari Lampung, dan Bripda Taufan asal Bekasi. 

Kemudian, teror ketiga yang diyakini diorder melalui Telegram adalah serangan di Kepolisian Sumatera Utara, tepat di hari pertama Idul Fitri, 25 Juni 2017. Ardial Ramadhan dan Syawaluddin Pakpahan melakukan penusukan kepada aparat kepolisian di pos jaga. Inspektur Satu Martua Sigalingging tewas, menjadi korban aksi brutal teror ini.

Bom Jalan Thamrin, bom bunuh diri Kampung Melayu, dan penusukan aparat kepolisian di di pos jaga kantor Kepolisian Daerah Sumatera Utara merupakan tiga aksi teror yang perintahnya dilakukan melalui sarana komunikasi Telegram.

GADI MAKITAN  I  SAHAT SIMATUPANG  I  S. DIAN ANDRYANTO

Video Terkait:
Telegram, Aplikasi Favorit Teroris







Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan