Teroris di Bima, Kapolri Tito: Belajar Bikin Bom dari Bahrun Naim

Senin, 19 Juni 2017 | 13:25 WIB
Teroris di Bima, Kapolri Tito: Belajar Bikin Bom dari Bahrun Naim
Bahrun Naim, terduga tokoh dibalik teror bom Sarinah jalan MH Thamrin, Jakarta. Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Tito Karnavian mengungkapkan Bahrun Naim punya hasrat menjadi pemimpin ISIS di Asia Tenggara. bahrunnaim.co

TEMPO.COJakarta – Kepala Kepolisian RI Jenderal Tito Karnavian mengatakan dua orang terduga teroris yang ditangkap di Bima, Nusa Tenggara Barat, belajar langsung dari Bahrun Naim . Kedua terduga, NH dan KW, belajar secara online

"Rupanya di Bima juga sama belajar dari online juga, melalui Bahrun Naim," kata Tito saat ditemui setelah memimpin apel gelar pasukan operasi kepolisian terpusat Ramadaniya 2017 di lapangan Monumen Nasional, Senin, 19 Juni 2017.

Baca:
Densus 88 Tangkap Dua Terduga Teroris di Bima
Soal Dana Penanganan Terorisme, Wiranto: Dibagi Secara Merata

Dari tangan kedua terduga pelaku, ditemukan bom berjenis triacetone triperoxide (TATP) buatan yang sudah jadi. Sama dengan rencana serangan lain, kata Tito, bom ini pun rencananya akan digunakan untuk menyerang polisi. 

"Rencananya yang di Bima akan menyerang Polsek Woha," katanya. Tito mengatakan di Bima memang ada beberapa kejadian anggota polisi yang meninggal dan ditembak dalam beberapa tahun terakhir.

Hal ini, kata Tito, serupa dengan aksi pelaku pengeboman di Terminal Kampung Melayu, Jakarta Timur. Keduanya juga belajar pembuatan bom secara online

Simak juga: Polisi Tangkap Pelaku Teror Bom di Malang, Motif Utang Rp 5.000?


Tito menegaskan kedua terduga teroris ini tergabung dalam kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD). "Semua peristiwa sekarang dilakukan sel JAD, termasuk di Kampung Melayu dan Jalan Thamrin," kata Tito.

Pada Sabtu, 17 Juni 2017, pukul 20.25 Wita, Detasemen Khusus 88 Antiteror menangkap KW dan NH. Kedua terduga teroris ditangkap di Pertigaan, Paruga Nae, Kecamatan Woha, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat. 

EGI ADYATAMA






 

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan