Terungkap, Penyebab Ratusan Sumur Ambles di Kediri  

Jum'at, 19 Mei 2017 | 06:21 WIB
Terungkap, Penyebab Ratusan Sumur Ambles di Kediri  
Warga mengamati sumur yang baru saja ambles di Dusun Nanas, Desa Manggis, Kecamatan Puncu, Kediri, Jawa Timur, 27 April 2017. Sedikitnya 61 unit sumur warga yang tersebar di tiga dusun yakni Dusun Nanas, Dorok, dan Jambean ambles dan belum diketahui pasti penyebabnya. ANTARA/Prasetia Fauzani

TEMPO.CO, Kediri - Tim Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta melakukan kajian geologi dan geofisika terhadap peristiwa amblesnya ratusan sumur di Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri. Mereka merekomendasikan pemasangan beton pada dinding sumur untuk mencegah amblesan baru. (Baca: Fenomena Sumur Ambles di Kediri, Warga Diminta Tak Konsumsi Air)

Setelah melakukan penelitian selama lima hari di lokasi bencana, tim peneliti, yang terdiri atas dosen dan mahasiswa Program Studi Magister Manajemen Bencana UPN Veteran Yogyakarta, mengklaim mengetahui penyebab amblesnya ratusan sumur warga. “Amblesan ini terjadi karena runtuhnya dinding sumur akibat ketidakstabilan dinding yang jenuh,” kata Eko Teguh Paripurno, peneliti UPN Veteran Yogyakarta dalam siaran pers, Kamis, 18 Mei 2017.

Eko menjelaskan, material dinding sumur menjadi jenuh lantaran naiknya muka air tanah. Penambahan debit air ini pula yang memicu hilangnya ketangguhan dinding sumur hingga membuatnya ambles.

Penelitian ini, kata Eko, dilakukan terhadap 140 sumur yang ambles di Desa Manggis, Kecamatan, Puncu, Kabupaten Kediri. Dari jumlah itu, 130 sumur telah diuruk dan dibuatkan sumur bor di tempat yang sama. Sementara 110 sumur lain menunjukkan tanda-tanda ambles dan tinggal menunggu waktu. (Baca: 58 Sumur Warga Kediri Ambles, Ada Retakan di Lereng Gunung Kelud?)

Penelitian itu dilakukan untuk memberi kepastian atas hipotesis yang disampaikan para pengamat dan ahli kebencanaan di berbagai media massa. “Namun teori dan hipotesis itu perlu mendapat jawaban pasti untuk melakukan upaya mitigasi dengan tepat,” tuturnya.

Dia memastikan metodologi penelitian yang dilakukan bersama mahasiswa dan komunitas Jangkar Kelud ini bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Mereka memeriksa dan mewawancara para pemilik sumur di Dusun Dorok, Nanas, Jambean, Manggis, dan Ringinbagus, yang berlokasi di ketinggian 240-280 meter di atas permukaan laut, serta melakukan pengukuran data-data geofisika. (Baca: Pekan Dayak dan Aksi Bela Ulama di Pontianak, Gubernur: Aman)

Selain menemukan fakta penyebab amblesnya sumur, penelitian ini juga merekomendasikan upaya mitigasi yang dilakukan pemerintah. Di antaranya melakukan pengurukan dan pemadatan terhadap sumur-sumur yang ambles serta memperkuat kestabilan dinding sumur dengan membuat pasangan bata atau buis beton pada seluruh dinding sumur. Selain itu, membuat alternatif sumur pompa dengan pipa pralon.

 HARI TRI WASONO

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan