Di Hari Buku Nasional, Jokowi: Saya Suka Gundala Putra Petir  

Kamis, 18 Mei 2017 | 18:09 WIB
Di Hari Buku Nasional, Jokowi: Saya Suka Gundala Putra Petir   
Presiden Jokowi dan Komik Gundala Putra Petir. Setpres/Says.com

TEMPO.COJakarta - Gundala Putra Petir karya komikus Hasmi dan berjilid-jilid cerita silat karya Asmaraman S. Kho Ping Hoo diakui Presiden Joko Widodo sebagai bacaannya saat masih kecil. "Banyak sekali, saya dulu kalau baca komik ya Gundala Putra Petir, kemudian (cerita silat karya) Kho Ping Hoo," kata Presiden Jokowi di halaman tengah Istana Merdeka, Jakarta, Rabu, 17 Mei 2017, saat digelar acara Gemar Membaca dalam rangka Hari Buku Nasional bersama Presiden RI.

Presiden Jokowi dalam kesempatan itu mendongeng untuk siswa-siswa dari sejumlah sekolah di Jakarta yang diundang ke Istana secara khusus untuk mengikuti rangkaian kegiatan Hari Buku Nasional tersebut. 

Baca juga:
Hari Buku Nasional, Jokowi Mendongeng Lutung Kasarung di Istana
Kisah Jokowi Kecil yang Suka Baca Kho Ping Hoo dan Petruk Gareng

Jokowi kemudian mengaku juga menyukai cerita-cerita wayang, termasuk cerita Petruk dan Gareng yang jenaka. "Cerita-cerita wayang banyak sekali juga, selalu saya baca Petruk Gareng, saya ingat selalu baca itu," ujarnya.

Terkait dengan dongeng, Jokowi mengaku tidak pernah secara khusus belajar mendongeng, tapi ia mengatakan sering didongengi kakeknya. "Dulu sering didongengi oleh kakek saya, sering diberikan dongeng-dongeng seperti yang saya ceritakan tadi," tutur Jokowi yang dalam kesempatan tersebut mendongeng cerita Lutung Kasarung di depan anak-anak yang hadir.

Baca pula: 
Jokowi Gratiskan Pengiriman Buku ke Daerah Tiap Tanggal 17

Presiden Jokowi sekaligus menekankan pentingnya meningkatkan budaya baca anak-anak Indonesia pada Hari Buku Nasional itu. Ia mengaku selalu menyempatkan diri untuk membaca. "Selalu saya sempatkan waktu luang di pesawat, di mobil, saya gunakan untuk membaca," ucapnya.

S. DIAN ANDRYANTO | ANTARA



 

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan