Cerita Kartini Terenyuh Surat Al Fatihah  

Jum'at, 21 April 2017 | 08:57 WIB
Cerita Kartini Terenyuh Surat Al Fatihah  
Surat dan Pemikiran Kartini

TEMPO.CO, Jakarta -  Semasa hidup, rasa ingin tahun Raden Ajeng Kartini sangat tinggi. Selain berniat belajar ke negeri Belanda, anak Bupati Jepara RM Sosroningrat ini juga rajin mempelajari Al Quran, walaupun ketika itu sulit mendapatkan terjemahan kitab suci tersebut. Kartini  pernah berguru langsung ke Kiai Sholeh atau yang dikenal dengan Kiai Sholeh Darat. Pertama kali yang dipelajari adalah Surat Al Fatihah.

Meskipun anak bupati yang merupakan keturunan terpandang di zaman itu, Kartini tidak gampang mendapatkan literatur atau buku-buku, termasuk Al Quran yang belum diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa maupun Belanda, bahasa yang digunakan masyarakat Jawa pada era sebelum 1900 itu.

Baca juga: Kartini: Saya Adalah Anak Buddha



Al Quran sudah banyak dibaca di masjid dan surau atau musala, namun hanya sebatas dibaca. Bila seseorang ingin mengetahui makna Al Quran, harus datang ke ulama atau kiai. Kiai Sholeh adalah ulama yang merintis terjemahan Al Quran dengan bahasa Jawa yang ditulis dengan huruf Arab.



Cara berlajar Al Quran dengan bertemu kiai juga ditempuh oleh Kartini. Dalam Film Kartini yang kini diputar di bioskop-bioskop, terdapat adegan Kartini mengaji ke Kiai Sholeh. Pertama kali yang dipalajari Kartini adalah makna dari Al Fatihah, surat pembuka dalam Al Quran.

Saat itu Kartini menghadiri pengajian di rumah Bupati Demak Pangeran Ario Hadiningrat, yang juga pamannya. Dalam pengajian, Kiai Sholeh menguraikan kandungan surat Al Fatihah. Di situlah hati Kartini terenyuh dan membuatnya sangat ingin tahu tentang isi surat-surat lain dalam Al Quran.

Baca: Hari Kartini, Begini Perajin Sanggul Brebes Beroleh Berkah



Dalam dialog dengan Kiai Sholeh, Kartini menanyakan apakah dalam Al Quran ada perintah bahwa setiap orang, termasuk kaum perempuan, boleh belajar ilmu pengetahuan.  Dalam film tersebut, Kiai Sholeh lantas membacakan Iqra, surat ke-96 dalam Al Quran yang artinya Bacalah. Makna dari surat itu, kata Kiai Sholeh, umat Islam baik laki-laki maupun perempuan harus belajar ilmu pengetahun.

Mendengar penjelasan Kiai Sholeh, Kartini semakin bersemangat belajar, termasuk mendirikan sekolah khusus untuk kaum perempuan. Masih alam percakapan dengan Kiai Sholeh di film karya Hanung Bramantyo tersebut, Kartini yang diperankan artis Dian Sastrowardoyo, mendorong Kiai Sholeh menerjemahkan Al Quran ke bahasa Jawa.

Hanung Bramantyo dalam wawancara dengan Tempo mengatakan, dalam Film Kartini ia berusaha mengaktualisasikan riset. "Riset banyak, otentik semua. Film adalah realitas yang diciptakan. Apakah cerita Kartini dalam film Hanung benar? Film bukan untuk meletakkan benar dan salah," kata Hanung. Wawancara selengkapnya klik di sini.

Baca ini: Misteri Kematian Kartini pada 30 Menit Terakhir, karena Diracun?

Bahkan di buku-buku sejarah, Kartini disebutkan ikut mendistribusikan terjemahan Al Quran ke masyarakat. Kisah ini juga dapat dilihat dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang, kumpulan curahan hati  RA Kartini kepada sahabat penanya di Belabda, Stella Zeehandelaar. Surat-surat Kartini tertanggal 6 November 1899.



Berikut ini bunyinya. "Mengenai agamaku, Islam, aku harus menceritakan apa? Islam melarang umatnya mendiskusikan ajaran agamanya dengan umat lain. Lagi pula, aku beragama Islam karena nenek moyangku Islam. Bagaimana aku dapat mencintai agamaku, jika aku tidak mengerti dan tidak boleh memahaminya?"



Berikutnya, "Alquran terlalu suci, tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apa pun agar bisa dipahami setiap Muslim. Di sini tidak ada orang yang mengerti bahasa Arab. Di sini, orang belajar Alquran tapi tidak memahami apa yang dibaca. Aku pikir, adalah gila orang diajar membaca tapi tidak diajar makna yang dibaca. Itu sama halnya engkau menyuruh aku menghapal bahasa Inggris, tapi tidak memberi artinya. Aku pikir, tidak jadi orang soleh pun tidak apa-apa, asalkan jadi orang baik hati. Bukankah begitu Stella?"



TIM TEMPO

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan