Kartini: Saya Adalah Anak Buddha

Kamis, 20 April 2017 | 23:28 WIB
Kartini: Saya Adalah Anak Buddha
Kartini, Feminis dari Balik Tembok

TEMPO.CO, Jakarta - Di antara 115 surat-surat Raden Ajeng Kartini ternyata ternyata ada beberapa surat yang  kontroversial. Salah satunya adalah suratnya yang soal Buddha. Surat itu terkena sensor dan tak diterbitkan dalam buku Door Duisternis Tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang) pada 1911. Majalah Tempo pernah menurunkan edisi khusus Kartini beberapa waktu lalu.

Pengakuan Kartini yang menyebut dirinya sebagai anak Buddha bermula saat Kartini kecil sakit keras. Badannya menggigil. Dokter yang didatangkan ayahnya, Bupati Jepara Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, tak sanggup mengobati anak tujuh tahun itu. Lalu datanglah seorang Cina yang sedang dihukum pemerintah Hindia Belanda bertamu ke rumahnya.

Baca juga:Surat Kontroversial Kartini, dari yang Intim hingga Soal Cina

Laki-laki Cina itu sudah dikenal oleh tiga anak Sosroningrat. Dia menawarkan bantuan dengan meminta Kartini meminum air yang dicampur abu lidi shio dari sebuah kelenteng di Welahan, kecamatan di Jepara, Jawa Tengah, tempat terdapat banyak rumah ibadah umat Konghucu. Ajaib. Demam Raden Ajeng turun dan ia sembuh.

Cerita itu kemudian ia tulis dalam surat untuk Nyonya Rosa Abendanon-Mandri, istri Direktur Pendidikan, Agama, dan Industri Hindia Belanda. Dalam surat bertarikh 27 Oktober 1902, Kartini berapi-api menceritakan pengalaman itu. "Apa yang tak berhasil dengan obat-obatan kaum terpelajar ternyata berhasil dengan obat tukang jamu," katanya.

Baca juga: Dian Sastro: Kartini Itu Buandel

Cerita itu ada dalam surat Kartini kepada Abendanon. Oleh Abendanon, surat-surat itu kemudian dikumpulkan. Surat itu diterbitkan dalam judul Door Duisternis Tot Licht pada 1911, tujuh tahun setelah Kartini meninggal. Secara harfiah, kalimat Belanda itu berarti "Dari Kegelapan Menuju Cahaya". Penerbit Balai Pustaka pada 1922 menerjemahkannya menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang.

Ada beberapa surat Kartini yang berkisah tentang Buddha. Kartini bahkan tak segan menyebut diri "anak Buddha" karena sudah meminum air shio saat sakit itu. "Ketahuilah, Nyonya," tulisnya kepada Abendanon, "bahwa saya anak Buddha, dan itu sudah menjadi alasan mengapa saya tak makan daging." Seperti nada dalam seluruh surat, kalimat Kartini terasa tulus, tanpa pretensi dan motif ketika bercerita tentang apa saja.

Setahun sebelum menulis surat itu, ia mengunjungi Welahan, kampung tempat tabib yang mengobati Kartini. "Bagaimanapun, saya mesti belajar kenal dengan bapak saya yang besar itu," ujarnya tentang Santik-kong, arwah leluhur orang Welahan yang disucikan di kelenteng tersebut. Di sana ia menyaksikan upacara memperingati ulang tahun arwah.



 



Santik-kong terkenal sebagai dewa penyembuh. Setiap ada wabah yang berjangkit, patungnya diarak berkeliling desa agar asap dupanya menyebar menangkal virus. Dan desa itu biasanya terhindar dari kuman. Kartini mencoba memberikan pemahaman yang logis kepada Abendanon, yang tak percaya kepada takhayul.

TIM TEMPO

Simak Film Kartini: Seorang Kartini yang Lincah, Terbuka dan Cerdas 







Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan