LRT Palembang Bermoncong Jet, Gubernur Alex: Jangan Seperti Bus  

Selasa, 21 Maret 2017 | 11:37 WIB
LRT Palembang Bermoncong Jet,  Gubernur Alex: Jangan Seperti Bus  
Gubernur Sumsel Alex Noerdin dan Dirut KAI Edi Sukmoro menunjukkan design dan warna interior LRT Palembang. TEMPO/PARLIZA HENDRAWAN

TEMPO.CO, Palembang - Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin memastikan bodi kereta api ringan (light rail transit/LRT) Palembang akan tampil lebih gagah dan modern. Alex menambahkan, kereta ringan dari Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II-Jakabaring itu akan memiliki moncong lebih panjang layaknya pesawat jet.

"Harus ada moncongnya, jangan tampak seperti bus," kata dia, Selasa, 21 Maret 2017.

Baca: Pembangunan LRT Palembang Mencapai 40 Persen

LRT atau dikenal orang Palembang sebagai "sepor dipucuk" ini bakal menggunakan dominan warna biru untuk bagian luar dan interior gerbong. Hal itu dipilih untuk menambah kesan elegan kereta Buatan PT INKA, Madiun itu. Sebelum memutuskan warna, desain, dan penghilangan motif songket, Alex mengaku telah meminta persetujuan peserta rapat di Griya Agung, Senin, 20 Maret 2017.

Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia Edi Sukmoro mengatakan akan menyampaikan kesepakatan mengenai warna dan penambahan moncong kereta kepada pihak PT INKA. Nantinya, untuk satu train set, hasil karya anak bangsa ini berkapasitas 534 penumpang. Dalam satu train set, kata Edi, terdapat tiga kereta, serta total ada 8 train set.

"Jadi nantinya 24 kereta yang akan beroperasi," ujarnya.

Baca: Dievaluasi Konsultan, Nilai Kontrak LRT Sumsel Turun

Edi menjelaskan, proyek LRT tersebut akan menghabiskan dana hingga Rp 384 miliar. Sedangkan pengerjaan kereta dilakukan anak usahanya, PT INKA. Meskipun LRT Palembang sebagai proyek pertamanya, Edi menjamin kualitasnya tidak akan kalah dengan buatan Korea, Jepang, ataupun Eropa. Pasalnya, sebagian besar komponen kereta didatangkan dari luar negeri.

"Badan kereta akan menggunakan teknologi Bombardier Canada," ucapnya.

PARLIZA HENDRAWAN

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan