Sidang Ahok ke-15, Pengacara Hadirkan Kiai dari NU sebagai Saksi  

Senin, 20 Maret 2017 | 11:50 WIB
Sidang Ahok ke-15, Pengacara Hadirkan Kiai dari NU sebagai Saksi  
Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), terdakwa kasus dugaan penistaan agama, menjalani sidang lanjutan di Auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, 14 Maret 2017. Sidang ke-14 ini mendengarkan keterangan tiga orang saksi fakta. TEMPO/Dhemas Reviyanto

TEMPO.COJakarta - Tim kuasa hukum Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok akan menghadirkan tiga saksi ahli dalam sidang penodaan agama ke-15, Selasa, 21 Maret 2017. Dalam sidang selanjutnya, mereka juga akan menghadirkan saksi ahli. Salah satunya seorang kiai dari Nahdlatul Ulama (NU).

“Saksi fakta yang meringankan sudah cukup. Mulai saat ini semuanya (saksi) ahli,” ujar anggota tim kuasa hukum Ahok, Humphrey R. Djemat, saat dikonfirmasi Tempo, Senin, 20 Maret 2017.

Baca juga: Sidang Ahok, Saksi Panwaslu: Selebaran Provokatif Marak pada 2007

Humphrey menyebut tiga ahli yang dihadirkan besok, adalah Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Kiai Haji Ahmad Ishomuddin, Guru Besar Linguistik Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia Rahayu Surtiati, dan dosen Fakultas Hukum Universitas Katolik Parahyangan, Djisman Samosir.

Nama-nama itu juga sudah dikonfirmasi oleh Pengadilan Negeri Jakarta Utara. Sidang penodaan agama ke-15 tersebut masih akan dilangsungkan di Auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan.

Simak pula: Ahok Didakwa 2 Pasal Alternatif, Ahli Hukum Pidana: Ada Keraguan

Dalam sidang sebelumnya, tim kuasa hukum Ahok menghadirkan sejumlah saksi fakta. Mereka menghadirkan pegawai negeri sipil Kabupaten Belitung bernama Juhri. Ada pula Suyanto, yang pernah bekerja sebagai sopir keluarga Ahok di Belitung Timur, juga seorang teman lama Ahok bernama Fajrun, yang berasal dari Dusun Lenggang, Bangka Belitung.

Seorang guru dari Sekolah Dasar Negeri 17 Badau, Tanjung Pandan, Belitung Timur bernama Ferry Lukmantara pun diundang, tapi dia tak hadir.

YOHANES PASKALIS

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan