Kasus Pedofil Online, Kak Seto: Jangan Lihat Umur Tersangka

Sabtu, 18 Maret 2017 | 00:13 WIB
Kasus Pedofil Online, Kak Seto: Jangan Lihat Umur Tersangka
Ilustrasi kekerasan terhadap anak. TEMPO/Ary Setiawan

TEMPO.CO, Jakarta - Kasus pedofilia melalui akun Facebook Official Loly Candy's 18+ diungkap oleh Polda Metro Jaya.Para tersangka berjumlah empat orang, yaitu WW als SNL als MBU (27), DS alias IL INY (24), DF alias TK alias DY (17), dan SHDW Alias SH DT (16).

Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia Seto Mulyadi sempat berbicara dengan empat tersangka sebelum Polda Metro Jaya merilis kasus tersebut. Kak Seto mengungkapkan bahwa salah satu dari mereka pernah mengalami pelecehan seksual.

Baca : Korban Pedofil Grup Facebook Loly Candys 18+ Bertambah

"Itu yang umur 17 tahun mengaku kepada kami," katanya saat berkunjung ke Polda Bali, Jum'at, 17 Maret 2017.

Seto menjelaskan motivasi para tersangka, selain kebutuhan biologis juga faktor keuntungan ekonomi yang menggiurkan. "Itu di-upload sebar, satu kali $ 15, berapa keuntungan ekonomi kalau beratus-ratus kali," ujarnya.

Ihwal adanya dua tersangka yang berumur 16 dan 17 tahun, Seto menuturkan karena mereka tidak berdaya dalam bujuk rayu dua tersangka lainnya WW dan DS. "Paling mudah dibujuk, dipaksa, diancam ya (mereka) anak-anak," tuturnya.



Simak juga : Polri Gandeng FBI Telusuri Kejahatan Pedofilia di Facebook.

Menurut dia pihak kepolisian perlu memperhatikan proses hukum untuk dua tersangka yang masih berumur 16 dan 17 tahun itu. Terkait undang-undang sistem peradilan pidana anak, bagi Seto, umur tersangka jangan dilihat sekedar dalam aspek angka.

"Tapi juga kualitasnya. Bisa saja anak, tapi kalau kejahatan sudah begitu dahsyat, dan sebetulnya kematangan psikologinya sudah melebihi usianya, itu mungkin bisa saja dikenakan sanksi," katanya. "Jadi melihat dari berbagai sudut."

BRAM SETIAWAN

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan