Anggota DPR Pertanyakan Surat Pemberhentian Ahok  

Rabu, 08 Februari 2017 | 18:23 WIB
Anggota DPR Pertanyakan Surat Pemberhentian Ahok  
Terdakwa dugaan kasus penistaan agama yang juga Gubernur nonaktif DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok menjalani sidang ke-9 yang beragenda mendengarkan keterangan saksi, di Auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta, 7 Februari 2017. Foto: Grandyos Zafna/Pool

TEMPO.CO, Jakarta - Anggota Komisi Pemerintahan Dewan Perwakilan Rakyat, Yandri Susanto, mempertanyakan status Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang belum diberhentikan sementara. Menurut Yandri, Ahok harus diberhentikan karena terdakwa penistaan agama dengan ancaman hukuman lima tahun. "Kalau ancaman lima tahun harus diberhentikan sementara. Saya tidak tahu kalau jaksa atau majelis hakim mengirim pemberitahuan ke Mendagri," kata Yandri di Kompleks Parlemen, Senayan, Rabu, 8 Februari 2017.

Menurut Yandri, Kementerian Dalam Negeri perlu segera mengeluarkan surat pemberhentian sementara. Terlebih lagi, jika Ahok masuk putaran kedua pemilihan kepala daerah. "Saya pertanyakan kenapa Mendagri tidak mengeluarkan surat itu?"

Baca:
11 Februari, Ahok Aktif Gubernur DKI Lagi
Somasi 3 x 24 Jam Tak Digubris, ACTA Ancam Gugat Mendagri

Sebelumnya, Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo belum bisa memastikan kembalinya jabatan Ahok setelah masa kampanye pilkada DKI Jakarta 2017. Masa kampanye berakhir pada 11 Januari mendatang, sedangkan Ahok masih menjalani persidangan.

"Saya tetap berpegang pada aturan. Kami menunggu tuntutan jaksa setelah (keterangan) saksi-saksi ini," kata Tjahjo. Pemberhentian sementara hanya akan dilakukan jika Basuki dikenai tuntutan lebih dari lima tahun.

Baca juga:
Ahok Ingin Ketemu, KH Ma`ruf Amin: Saya Sibuk, Banyak Urusan
Ketua GNPF MUI, Pencucian Uang, dan Dana Aksi Bela Islam

Berdasarkan Pasal 83 Undang-Undang (UU) Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, kepala daerah atau wakil kepala daerah dapat diberhentikan sementara jika menjadi terdakwa dengan ancaman pidana penjara minimal lima tahun.

ARKHELAUS WISNU



 

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan