Ketua PBNU Sebut Ahok Rugi karena Berpolemik dengan Ma'ruf  

Jum'at, 03 Februari 2017 | 15:26 WIB
Ketua PBNU Sebut Ahok Rugi karena Berpolemik dengan Ma'ruf   
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Said Aqil Siradj, menyampaikan pesan moral kebangsaan dan catatan akhir tahun dengan tema anak ayam tak boleh kehilangan induknya, di Gedung PBNU, Jakarta, 24 Desember 2015. TEMPO/Imam Sukamto

TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Said Aqil Sirajd, menilai Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok rugi karena berpolemik dengan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Ma'ruf Amin. Dalam sidang kedelapan kasus dugaan penodaan agama, Selasa, 31 Januari 2017, Ahok menuding Ma'ruf yang dihadirkan oleh jaksa penuntut umum sebagai saksi memberikan keterangan yang tidak benar dan tidak obyektif di persidangan.

Ahok pun mengancam akan melaporkan Ma'ruf ke polisi. Meski Ahok tak jadi melaporkan Ma'ruf ke polisi dan telah meminta maaf, serta Ma'ruf pun sudah memaafkan Ahok, menurut Said, Ahok tetap rugi.

Baca: Wawancara Ma'ruf Amin: Kalau Sudah Minta Maaf, Ya Dimaafkan

"Sudah saling memaafkan, Ahok minta maaf, Kyai Ma'ruf memaafkan. Tapi, ruginya Ahok sendiri," kata Said, saat ditemui di kantor PBNU, Jakarta Pusat, Kamis, 2 Februari 2017.

Kerugian yang dimaksud, kata Said, karena Ahok saat ini sedang bertarung maju pemilihan kepada daerah (pilkada) DKI Jakarta. Ma'ruf merupakan simbol Nahdlatul Ulama (NU) yang sangat dihormati warga NU. "Kalau menyinggung orang NU, NU enggak akan memilih dong," ujarnya.

Baca: Dari Insiden Ma'ruf Amin, Ahok Perlu Belajar Tutur Kata  

Said pun berpesan kepada Ahok. "Seorang pemimpin harus santun. Berbicara hati-hati. Mulutmu harimaumu," ucapnya. Dia pun meminta agar polemik yang terjadi antara Ahok dan Ma'ruf disikapi dengan tenang dan dewasa. "Dengan akal, bukan emosi."

HUSSEIN ABRI DONGORAN | RINA W.




Simak: 



Ma'ruf Amin Diperiksa 7 Jam, Ketua Komisi Hukum MUI Protes Keras
Ini Rekaman Suara Ahok Terkait Kesaksian Ma'ruf Amin
Klarifikasi Ahok terkait Kesaksian Ma'ruf Amin



 



 

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan