Taiwan Buka Lagi Kasus ABK Supriyanto, Ini Reaksi Pemerintah

Rabu, 11 Januari 2017 | 09:31 WIB
Taiwan Buka Lagi Kasus ABK Supriyanto, Ini Reaksi Pemerintah
Kisah Pilu ABK Indonesia di Kapal Taiwan. TEMPO/Tim Investigasi

TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Jenderal Pembinaan dan Penempatan Tenaga Kerja Kementerian Tenaga Kerja Hery Sudarmanto menyambut baik keputusan Pemerintah Taiwan yang akan membuka kembali kasus kematian anak buah kapal asal Indonesia. "Alhamdulillah, kalau memang kabar itu benar," katanya saat dihubungi, Selasa 10 Januari 2017.

Baca: Pembunuhan ABK Indonesia Supriyanto Akan Diselidiki Ulang

Hery mengatakan sampai saat ini timnya belum mendapat kabar resmi dari pemerintah Taiwan terkait pembukaan kasus itu. Apabila kabar itu benar, pihaknya akan berkoordinasi dengan Markas Besar Polri. "Agar tim Badan Reserse dan Krimihnal Mabes Polri yang nantinya bisa bekerja sama dengan polisi internasional menyelesaikannya," kata dia.

Hery berharap, penyelidikan ulang terhadap kasus kematian Supriyanto bisa menemukan penyebab sebenarnya. "Agar ada efek jera bagi pelaku, agar kejaian ini tidak terulang kembali," ujarnya.

INVESTIGASI: Budak Indonesia di Kapal Taiwan

Kejaksaan Taiwan memutuskan membuka kembali kasus dugaan pembunuhan terhadap Supriyanto, anak buah kapal (ABK) Fu Tzu Chun, kapal penangkap ikan berbendera Taiwan. “Kasusnya akan dibuka dan diselidiki kembali,” kata Wang Mei Yu, anggota pengawas pemerintah Taiwan, Control Yuan, kepada Tempo, Selasa, 10 Januari 2017.

Supriyanto tewas pada 25 Agustus 2015 di atas kapal tempatnya bekerja di tengah Samudra Pasifik. Sebelum meninggal, pria kelahiran Tegal 1969 itu mengalami luka parah karena beberapa kali dianiaya. Berdasarkan pengakuan Supriyanto yang direkam oleh Mualip, rekan sesama pelaut Supriyanto, ia dianiaya oleh kepala teknisi dan kapten kapal.

MITRA TARIGAN | NATALIA SANTI

Baca juga:
Soal Logo Palu-Arit, Solmet Laporkan Rizieq Syihab ke Polisi
Di Google Maps, Markas DPP FPI Tertulis Mabes Fitsa Hats



 



 



 



 

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan