KPK Cegah Staf Khusus Ahok, Sunny Tanuwidjaja

Kamis, 07 April 2016 | 18:32 WIB
KPK Cegah Staf Khusus Ahok, Sunny Tanuwidjaja
Sunny Tanuwidjaja. Jfcc.info

TEMPO.CO, Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi mencegah staf khusus Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, Sunny Tanuwidjaja, dan Direktur Utama PT Agung Sedayu Group Richard Halim Kusuma ke luar negeri.

"KPK kembali mengajukan pencegahan terhadap dua orang, yaitu Richard Halim Kusuma, Dirut PT Agung Sedayu Group, dan Sunny Tanuwidjaja, staf khusus Gubernur DKI," kata Kepala Pemberitaan dan Informasi KPK Priharsa Nugraha di kantornya, Kamis, 7 April 2016. Pencegahan ini terkait dengan kasus dugaan suap pembahasan rancangan peraturan daerah tentang reklamasi yang menyeret nama Ketua Komisi D Dewan Perwakilan Rakyat Daerah DKI Mohammad Sanusi.

Pencegahan ini, ucap Priharsa, mulai 6 April 2016 dan berlaku hingga enam bulan ke depan. Priharsa menyatakan pencegahan ini bertujuan, jika sewaktu-waktu penyidik membutuhkan keterangan keduanya, mereka tidak sedang berada di luar negeri. "Penyidik menganggap keterangan mereka dapat memperdalam penyidikan," tutur Priharsa.

Baca: Ahok: Bisa Saja Ajudan Saya 'Ngadalin', tapi...

Sebelumnya, KPK mencegah bos Agung Sedayu, Sugianto Kusuma, pada 1 April 2016. Kemudian pada 4 April 2016, sopir Sanusi, Gerry Prasetya, dan sekretaris bos Agung Podomoro, Berlian, ikut dicegah.

Ahok mengakui bahwa Sunny adalah staf ahlinya. Namun Ahok mengatakan tak ada tugas khusus yang diberikan kepada Sunny. Bahkan Ahok menyamakannya seperti anak magang. Ahok juga menampik bahwa Sunny adalah staf ahli yang ia gaji. "Dia kerja sama orang lain. Sambil mengerjakan disertasi, dia ikut saya. Bagaimana sepak terjang Ahok, orang yang enggak ada partai tapi berantem lawan semua (orang)," ucapnya.

Kasus skandal suap reklamasi ini mencuat saat Komisi Pemberantasan Korupsi menangkap tangan Sanusi pada Kamis, 31 Maret 2016. Ia diduga menerima suap dari bos Agung Podomoro Land, Ariesman Widjaja, untuk memuluskan pembahasan proyek reklamasi Teluk Jakarta.

Dari hasil operasi tangkap tangan itu, KPK menyita duit Rp 1,14 miliar. KPK kemudian menetapkan tiga tersangka. Mereka adalah Sanusi, Ariesman, dan karyawan Agung Podomoro, Trinanda Prihantoro.

MAYA AYU PUSPITASARI



 




Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan