Kereta Cepat Jakarta-Bandung, Jokowi Kaji Teknologi Cina

Rabu, 25 Maret 2015 | 01:48 WIB
Kereta Cepat Jakarta-Bandung, Jokowi Kaji Teknologi Cina
Wali Kota Bandung Ridwan Kamil, seusai melakukan pertemuan dengan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama. Balai Kota DKI Jakarta, 16 September 2014. TEMPO/Aditia Noviansyah

TEMPO.CO, Bandung - Wali Kota Bandung Ridwan Kamil mengatakan sejauh ini baru investor Cina yang responsif menanggapi rencana pengadaan kereta cepat oleh Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN). "Pak Presiden (Joko Widodo) sedang mengkaji teknologi dari Cina. Ya, Kota Bandung tinggal terima manfaatnya saja," ujar Ridwan saat ditemui di Restoran D'Palm, Jalan Lombok, Bandung, Selasa, 24 Maret 2015.

Emil, sapaan akrab Ridwan, mengatakan rencana tersebut paling cepat akan dilakukan tahun depan. Pekan lalu, Menteri BUMN Rini Soemarno mengundang Ridwan untuk membicarakan hal tersebut di ruangannya.

Proyek ini rencananya akan melibatkan seluruh perusahaan BUMN. Ridwan mengaku menanggapi rencana itu dengan positif.

Di Jakarta, kata Ridwan, stasiun kereta cepat akan dipasang di daerah Cawang. Sementara itu, di Bandung, stasiun kereta cepat akan dipasang di kawasan Gede Bage.

Ridwan pun mengatakan rencana ini dapat disinergikan dengan rencana Bank Indonesia dan PT Kereta Api Indonesia yang hendak menjadikan kereta sebagai pengangkut logistik saja.

"Kalau Bandung jadi pusat ekonomi pasti butuh kereta barang. Jadi bisa saja nanti kereta cepat buat manusia, jalur lama dominasinya barang, bisa saja," ujar Ridwan.

Pada Maret 2014, BI berencana merumuskan sistem distribusi logistik nasional dengan menggunakan jasa kereta api. Deputi Gubernur BI saat itu, Ronald Waas, mengatakan cara tersebut dapat menghemat biaya dan waktu distribusi setiap perusahaan. "Perusahaan mesti menyiapkan gudang dekat dengan stasiun pengangkatan logistik," ujar Ronald, saat menggelar jumpa pers, di Bandung, Rabu, 26 Maret 2014.

PERSIANA GALIH

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan