Hendropriyono Siap Diadili atas Kematian Munir  

Rabu, 29 Oktober 2014 | 06:07 WIB
Hendropriyono Siap Diadili atas Kematian Munir   
A.M Hendropriyono. dok TEMPO/Dimas Aryo

TEMPO.CO, Jakarta - Setelah mewawancarai bekas Komandan Jenderal Kopassus Prabowo Subianto, jurnalis Amerika Serikat, Allan Nairn, kembali mengguak misteri peristiwa pembunuhan aktivis Munir. Melalui wawancara Allan dengan bekas Kepala Badan Intelijen Hendropriyono, terkuak jenderal purnawiran ini mengaku bertanggung jawab secara komando dalam pembunuhan Munir pada 2004.

"Jika ada pengadilan HAM untuk saya, saya siap," ujar Hendropriyono kepada Allan dalam satu wawancara sekitar 1,5 jam, Kamis pekan lalu. (Baca: Menteri Agama Sebut Munir Paling Berjasa dalam HAM)

Seperti yang dilansir blog pribadi Allan, www.allannairn.org, Hendropriyono mengaku pembunuhan Munir bekerja sama dengan agen rahasia Amerika, CIA. "(Juga) melalui unit intelijen Indonesia, BIN," tutur Allan.

Aktivis HAM asal Malang, Jawa Timur, itu tewas di dalam pesawat Garuda dengan nomor penerbangan GA-974. Tepat 7 September 2004, pemilik nama lengkap Munir Said Thalib itu mengembuskan napas terakhir setelah mengkonsumsi makanan yang dicampur racun arsenik dalam penerbangan menuju Belanda untuk melanjutkan studi masternya di bidang hukum. Hingga kini, kasusnya tidak kunjung usai. (Baca: Penculikan Aktivis, Prabowo: Saya Bertanggung Jawab)

Menurut Allan, Hendropriyono siap menerima segala konsekuensi atas perbuatannya. Hendro juga mengaku terlibat kasus kekerasan di Timor Timur pada 1999 dan pembantaian di Talangsari tahun 1989. Hendropriyono juga menyeret sejumlah nama, seperti Purnawirawan Jenderal Wiranto dan bekas tangan kanannya, Ass'ad Ali. "Hendropriyono membawahi kedua orang itu," ujar Allan.

ANDI RUSLI







Baca juga:
Gadis Ini Tur dengan Meniduri Pria di Kota Tujuan

Dipisah, Kemendikud Tak Berubah Nama

Tak Lulus SMA, Susi Ogah Jadi Cleaning Service

Menteri Ini Ogah Disapa 'Pak Menteri,' Siapa Dia?

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan