Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini


atau Daftar melalui

Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Korban Tindak Asusila Kapolsek di Bawah Tekanan

image-gnews
Ilustrasi pelecehan. huffingtonpost.co.uk
Ilustrasi pelecehan. huffingtonpost.co.uk
Iklan

TEMPO.CO , Mojokerto-Kuasa hukum karyawati Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) yang dilecehkan Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek) Gondang, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, mengaku ada tekanan sehingga korban terpaksa mencabut laporannya.

LK, 26 tahun, karyawati SPBU di Desa Pugeran, Kecamatan Gondang, Mojokerto, dilecehkan oleh Kapolsek Gondang, Ajun Komisaris Shodik Abdul Fatah, pada 18 Juli 2014. Kasus ini baru dilaporkan 19 Agustus 2014, dan pada Sabtu, 20 September 2014, dinyatakan tak cukup bukti dan korban mencabut laporannya. (Baca: Lecehkan Karyawati, Kapolsek di Mojokerto Bebas).

Salah satu kuasa hukum korban, Hari Cahyono, menyatakan suami dan keluarga korban meminta masalah ini tidak diperpanjang. “Pelapor minta masalah ini diselesaikan secara kekeluargaan. Ada tekanan psikis dari suami pelapor yang tidak ingin masalah ini berkepanjangan,” ujar Hari, Sabtu, 20 September 2014.

Sebagai kuasa hukum korban, pihaknya telah berupaya membantu korban dan menyiapkan alat bukti berupa surat pernyataan tertulis dari korban yang mengaku telah dilecehkan. “Kami sudah memberikan keterangan dan alat bukti, tapi hari ini korban menyatakan masalah ini selesai dan mencabut laporannya,” kata Hari. (Baca: Kapolsek di Mojokerto Diduga Lecehkan Petugas SPBU).

Pencabutan laporan disampaikan setelah terjadi mediasi antara korban, suami dan keluarga korban, kuasa hukum korban, manajemen SPBU tempat korban bekerja, dan Shodik. Mediasi juga melibatkan Kepala Kepolisian Resor Mojokerto Ajun Komisaris Besar, Muji Ediyanto.

Muji mengklaim dugaan pelecehan tersebut tidak terbukti dan pelapor telah mencabut laporannya. Bahkan, menurut dia, peristiwa itu hanya salah paham antara korban dengan Shodik. “Berdasarkan hasil penyelidikan di lapangan, kami tidak menemukan alat bukti yang cukup dan LK sudah menarik laporannya sehingga masalah ini dianggap selesai,” kata Muji saat jumpa pers, Sabtu.

Meski begitu, menurut Muji, setelah informasi pelecehan itu diterima, ia langsung melakukan pembinaan terhadap Shodik. “Kami evaluasi dan lakukan pembinaan kaitannya dengan etika bergaul dan sopan santun dengan masyarakat agar ke depan tidak terjadi lagi,” ujarnya.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Namun, selama jumpa pers, Shodik tak diberi kesempatan berbicara termasuk menyampaikan permohonan maaf jika dianggap perilakunya telah melecehkan korban.

Sementara itu, bos pengelola SPBU, Edi Yusef, mengatakan korban terpaksa mencabut laporannya karena takut. “Korban dan keluarganya takut dan malu kalau masalah ini banyak yang tahu,” kata pengusaha, yang juga advokat ini.

Edi yang ikut mendampingi korban menilai penyelesaian kasus itu janggal. Alat bukti yang dibutuhkan polisi sebenarnya cukup kuat, namun polisi terkesan tak menelusurinya. “Selain surat pernyataan tertulis bahwa korban dilecehkan, ada empat staf saya yang jadi saksi kejadian saat itu,” ujarnya. Namun, polisi tak sampai memintai keterangan saksi yang mengetahui kejadian.

Berdasarkan pengakuan korban ke Edi, korban dipegang tangannya lalu akan dicium saat istirahat di kantor SPBU setempat. Namun, korban langsung teriak dan menutupi wajah dengan kedua tangannya. Selain korban dan keluarga yang takut dan malu dengan kasus ini, Edi menduga ada tekanan dari pihak lain, termasuk perangkat desa yang menginginkan korban mencabut laporannya. “Kepala desanya akrab dengan kapolsek,” kata Edi. (Baca juga: Kasus Pelecehan Seksual, Gubernur Siap Diperiksa).

ISHOMUDDIN

TERPOPULER
Sindir Ahok, Prabowo: Kutu Busuk, Kutu Loncat? 

Tiba di Lokasi Kongres Gerindra, Prabowo: Kok Sepi

Kalkulasi SBY Pakai Pesawat Presiden dan Carteran ke Luar Negeri

Golkar: PPP-PAN Menjaga Ikatan Batin dengan PDIP

Iklan



Rekomendasi Artikel

Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

 

Video Pilihan

10 Perilaku Pasangan yang Merendahkan Anda dan Hubungan, Jangan Ditoleransi

23 hari lalu

Ilustrasi pasangan cemburu. Freepik.com
10 Perilaku Pasangan yang Merendahkan Anda dan Hubungan, Jangan Ditoleransi

Anda sering terluka atau mempertanyakan harga diri. Berikut perilaku pasangan yang menjadi sinyal Anda harus bersikap tegas dalam hubungan.


Tanggapan Pihak Johnny Depp atas Tuduhan Pelecehan Verbal dari Lawan Mainnya

25 hari lalu

Aktor dan produser Johnny Depp hadir dalam sesi pemotretan untuk mempromosikan film dokumenter
Tanggapan Pihak Johnny Depp atas Tuduhan Pelecehan Verbal dari Lawan Mainnya

Tanggapan Johnny Depp setelah dituduh melakukan pelecehan verbal terhadap lawan mainnya di lokasi syuting film Blow yang dirilis 23 tahun lalu.


Mantan Produser Nickelodeon Minta Maaf Atas Perilakunya yang Diungkap Serial Quiet On Set

27 hari lalu

Dan Schneider, mantan produser Nickelodeon. Foto: YouTube DanWarp
Mantan Produser Nickelodeon Minta Maaf Atas Perilakunya yang Diungkap Serial Quiet On Set

Mantan Produser Nickelodeon, Dan Schneider terseret kasus pelecehan, seksisme, rasisme, dan perlakuan tidak pantas terhadap artis cilik.


Fakultas Filsafat UGM Dalami Dugaan Kekerasan Seksual Mahasiswa dengan Korban 8 Orang

28 hari lalu

Universitas Gadjah Mada (UGM) di Yogyakarta. (FOTO ANTARA)
Fakultas Filsafat UGM Dalami Dugaan Kekerasan Seksual Mahasiswa dengan Korban 8 Orang

Fakultas Filsafat UGM menunggu laporan dari para korban untuk penanganan yang lebih tepat dan cepat.


Kilas Balik Kasus Pungli di Rutan KPK, Terbongkarnya Diawali Kejadian Pelecehan Seksual

30 hari lalu

Wakil Ketua KPK, Nurul Gufron, Sekjen KPK, Cahya Hardianto Harefa, Direktur Penindakan Asep Guntur Rahayu (kiri) dan juru bicara KPK, Ali Fikri (kanan), menghadirkan 15 orang petugas Rutan KPK resmi memakai rompi tahanan, di gedung Komisi Pemberantasan Korupsi, Jakarta, Jumat, 15 Maret 2024. TEMPO/Imam Sukamto
Kilas Balik Kasus Pungli di Rutan KPK, Terbongkarnya Diawali Kejadian Pelecehan Seksual

KPK telah menetapkan 15 tersangka kasus pungutan liar di rumah tahanan KPK. Berikut kilas baliknya, diawali kejadian pelecehan seksual.


Dugaan Pelecehan oleh Rektor Universitas Pancasila, Polisi Periksa 15 Saksi

42 hari lalu

Rektor nonaktif Universitas Pancasila Edie Toet Hendratno didampingi kuasa hukumnya usai menjalani pemeriksaan dugaan kasus pelecehan seksual di Polda Metro Jaya, Jakarta, Kamis, 29 Februari 2024. Dalam keteranganya, tudingan adanya pelecehan seksual tersebut hanya asumsi karna tidak ada bukti yang sah, ia juga mengaku kasus ini bagian dari politisasi menjelang pemilihan rektor. TEMPO/ Febri Angga Palguna
Dugaan Pelecehan oleh Rektor Universitas Pancasila, Polisi Periksa 15 Saksi

Rektor Universitas Pancasila nonaktif Edie Toet Hendratno dilaporkan dua orang atas dugaan pelecehan


Dugaan Pelecehan Seksual Oleh Dokter di Palembang, Pelapor akan Serahkan Barang Bukti

46 hari lalu

Ilustrasi Pelecehan Seksual. govexec.com
Dugaan Pelecehan Seksual Oleh Dokter di Palembang, Pelapor akan Serahkan Barang Bukti

Perkara dugaan pelecehan seksual oleh dokter di salah satu rumah sakit di Jakabaring, Palembang, terus bergulir di Polda Sumatera Selatan


Datangi Polda, Rektor Universitas Pancasila Edie Toet Bantah Lakukan Pelecehan Seksual

47 hari lalu

Rektor nonaktif Universitas Pancasila Edie Toet Hendratno alias ETH, 72 tahun, saat tiba di Polda Metro Jaya, Kamis, 29 Februari 2024. Foto: ANTARA/Ilham Kausar
Datangi Polda, Rektor Universitas Pancasila Edie Toet Bantah Lakukan Pelecehan Seksual

Rektor Universitas Pancasila nonaktif, Edie Toet Hendratno, 72 tahun, memenuhi panggilan polisi untuk diperiksa di kasus dugaan pelecehan seksual


Rektor Universitas Pancasila Diperiksa Hari Ini, Korban Bantah Ada Motif Politik

47 hari lalu

Demonstran membakar kayu dan kardus di depan Gedung Rektor Universitas Pancasila, saat demonstrasi menolak rektor yang diduga mmelakukan pelecehan di Lenteng Agung, Jakarta, 27 Februari 2024. TEMPO/Jati Mahatmaji
Rektor Universitas Pancasila Diperiksa Hari Ini, Korban Bantah Ada Motif Politik

Pengacara rektor Universitas Pancasila menuding ada motif politik karena isu pelecehan seksual ini mencuat jelang pemilihan rektor.


Yayasan Minta Rektor Universitas Pancasila Kooperatif Jalani Proses di Polisi soal Dugaan Pelecehan

49 hari lalu

Sekretaris YPPUP Yoga Satrio didampingi Plt Rektor Universitas Pancasila Sri Widyastuti (tengah) dan Warek IV Diennaryati Tjokrosuprihatono saat jumpa pers di lantai 2 Gedung Rektorat Universitas Pancasila, Kampus Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Selasa, 27 Februari 2024. TEMPO/Ricky Juliansyah
Yayasan Minta Rektor Universitas Pancasila Kooperatif Jalani Proses di Polisi soal Dugaan Pelecehan

Yayasan Universitas Pancasila meminta rektor nonaktif ETH kooperatif menjalani proses di kepolisian dalam kasus dugaan pelecehan seksual