Kamis, 21 September 2017

Sempat Ikut JAT, William Tak Suka Abubakar Ba'asyir  

Sabtu, 11 Mei 2013 | 08:58 WIB
Petugas kepolisian melakukan olah TKP di rumah terduga teroris di Kampung Baturengat, Kecamatan Margaasih,  Bandung (9/5). TEMPO/Prima Mulia

Petugas kepolisian melakukan olah TKP di rumah terduga teroris di Kampung Baturengat, Kecamatan Margaasih, Bandung (9/5). TEMPO/Prima Mulia.

TEMPO.CO, Bandung - William Maksum, salah seorang terduga teroris Bandung, disebut pernah aktif dalam acara pengajian yang digelar Jama'ah Anshorut Tauhid saat masih dipimpin Abubakar Ba'asyir beberapa tahun lalu. Untuk mengikuti pengajian ini, William sering meninggalkan anak-istrinya di Bandung.

Hal itu dikemukakan Ade Suherman, 53 tahun, ayah kandung William, saat ditemui di rumahnya, Jalan Cikoneng, Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung, Jumat, 10 Mei 2013. "William memang sering ikut pengajian sampai ke luar kota. Dia juga pernah ikut pengajian Abubakar Ba'asyir di Bandung, di Tasikmalaya, dan Ciamis beberapa tahun lalu," ujar Ade.

Namun, ia melanjutkan, setelah Ba'asyir ditangkap dan dipenjara, William mengaku berhenti mengikuti pengajian JAT. "Katanya, dia tidak setuju dan tidak suka dengan cara perjuangan Abubakar Ba'asyir," kata Ade. "Tapi, kalau sekarang sampai begini (dicokok Densus), berarti ada kegiatan dia di luar yang tidak saya ketahui."

Ade sendiri, juga keluarga, kini mengaku pasrah atas proses hukum yang bakal ditempuh William. Ia pun mengaku siap menerima apa pun putusan pengadilan kelak. "Ini takdir dan ujian Allah. Tapi saya siap mengawal supaya jangan sampai anak saya diperlakukan tidak adil. Itu pun kalau anak saya bersedia."

Ade menerangkan, William adalah anak sulung dari enam bersaudara. William lahir pada 12 April 1983. "William itu saya serap dari kata waliyun yang berarti pemimpin. Dan maksum itu artinya yang dibela Allah. Jadi pemimpin yang dibela Allah," tutur dia.

William menempuh pendidikan sekolah dasar di Cikoneng. Selepas sekolah dasar, Ade mengirim si sulung ini sekolah ke Pesantren Gontor, Jawa Timur. "Tapi, setelah lima tahun di Gontor, dia saya tarik pulang ke Bandung dan saya masukkan ke sekolah menengah atas yayasan milik saya sendiri, Yayasan Darul Hikmah di sini (Cikoneng)," kata dia.

Setamat SMA, William kuliah S-1 di jurusan Sastra Inggris Institut Agama Islam Negeri atau kini Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Jati, Kota Bandung. Lulus S-1, William sempat mengikuti program S-2 di kampus yang sama. "Tapi cuma satu semester. Katanya, ya, ingin berhenti saja kuliah," tutur Ade.

Sekitar lima tahun lalu, William menikah dengan gadis pilihannya, Petra, kini 26 tahun. Pasangan muda ini kini sudah dikaruniai dua anak berumur 4 tahun dan 1,5 tahun. Setelah menikah, Ade memberikan keluarga kecil ini sebuah rumah di kompleks Bumi Sari Indah, Baleendah, Kabupaten Bandung.

"Tapi belakangan, dia sering bepergian ke luar kota untuk ikut berbagai pengajian (selain pengajian kelompok Abubakar Ba'asyir). Karena sering ditinggal, anak-istrinya lalu saya boyong untuk tinggal di Cikoneng," kata Ade.

Ade pun mengaku sempat meminta William menjadi pengajar honorer dan kepala bagian administrasi di sekolah Yayasan Darul Hikmah selama setahun sampai 2012 lalu. William, kata dia, juga pernah menjadi pedagang kaki lima berjualan kaus, jaket, dan barang konfeksi lainnya di lapangan Gasibu dan kawasan Bale Endah.

"Tapi dia tetap sering bepergian. Saya sendiri jarang ketemu dia. Terakhir ketemu sekitar 21 Februari lalu. Waktu itu saya ajak dia umrah tapi dia enggak mau," kata Ade.

William dicokok Densus 88 dengan tudingan terlibat dalam kelompok teroris. Sebagian kelompok William disergap Densus di Cigondewah, Rabu lalu, dalam keadaan tiga orang ewas dan seorang tertangkap hidup. William sendiri, menurut Kepala Polri Jenderal Timur Pradopo, diciduk Densus di kawasan Cipacing, Sumedang, Rabu lalu.

ERICK P. HARDI


Terhangat:

Teroris
| Edsus FANS BOLA | Ahmad Fathanah | Perbudakan Buruh


Baca juga:

Ahok Kembali Tegaskan Konsep Jakarta Smart City

Kampung Deret Pertama Jokowi Ada di Petogogan

Ahok: Komnas HAM Tidak Paham Keadilan

Ahok: Pemprov Tak Perlu Datang ke Komnas HAM


Selengkapnya
Grafis

Libur Nasional 2018 dan Waktu Cuti yang Cocok Kita Ambil

Libur Nasional 2018 dan Waktu Cuti yang Cocok Kita Ambil

Tempat-tempat yang patut dikunjungi saat libur nasional tahun 2018, tamasya semakin asyik bila kita memperpanjang waktu istirahat dengan mengambil cuti.