Hendropriyono: Tak Ada Keterkaitan NII dengan Al Zaitun

Jum'at, 29 April 2011 | 19:48 WIB
Hendropriyono: Tak Ada Keterkaitan NII dengan Al Zaitun
A.M Hendropriyono. TEMPO/Dimas Aryo

TEMPO Interaktif, Jakarta - Mantan Kepala Badan Intelijen Negara, AM. Hendropriyono mengatakan selama ini Badan Intelijen Negara belum menemukan fakta keterkaitan antara Al Zaitun dengan NII (Negara Islam Indonesia).  "Belum ada fakta yang ditemukan," katanya  usai melayat Theo Safei di kediamannya, Jumat, 29 April 2011.

Ia juga mengaku sering berdialog dengan Panji Gumilang, Ketua Yayasan Al Zaitun, tetapi selalu mengenai pendidikan dan bukan ideologi. Dalam dialog itu, Gumilang juga menekankan bahwa Pondok Pesantren  Al Zaitun adalah pesantren dengan nuansa pendidikan bukan politik. Ia menunjukkan, di dalamnya ada Gedung Soekarno, Mohamad Hatta, Syahrir, dan lainnya.

Tokoh-tokoh pemerintahan juga pernah datang seperti Soeharto, B. J. Habibie, dan dirinya yang ketika itu mewakili Megawati. "Jangan menuduh lebih baik diusut," kata Hendro. Ia menyatakan, belum ditemukan fakta adanya hubungan Al Zaitun dengan NII.

Hendro memaparkan  perkembangan gerakan NII menjadi begitu luas karena terjadi pembiaran. Pembiaran itu terjadi karena semua disibukkan dengan ancaman bom. Sehingga hal-hal psikologi berupa proses brain wash tidak menjadi prioritas penanganan dibanding ancaman fisik, seperti bom Bali. "Dulu NII dianggap enteng karena tidak memakai kekerasan terbuka seperti yang dilakukan sempalannya sekarang," katanya.

Ia juga menilai, gerakan ini adalah gerakan bawah tanah yang menarik hati masyarakat, lalu merebut pemikirannya, mewadahinya dalam organisasi dan kemudian melancarkan pemberontakan. Ia juga membantah adanya isu bahwa peran intelijen ada dibalik gerakan NII. "Tidak benar," kata Hendro.

Hendro menilai saat ini tengah terjadi psychological war. Yang dimaksudkan psychological war sebagai perang yang di dalamnya ada pemutar balikkan fakta. Ia juga menilai masyarakat masih kurang cukup cerdas untuk mengenalinya.

FRANSISCO ROSARIANS

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan