Hendropriyono: Teroris Melemah Setelah Noordin Mati  

Jum'at, 16 Juli 2010 | 09:06 WIB
Hendropriyono: Teroris Melemah Setelah Noordin Mati  
A.M Hendropriyono. TEMPO/Dimas Aryo

TEMPO Interaktif, Jakarta - Eks Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Jenderal (Purn) A M Hendropriyono mengatakan bahwa sekarang pergerakan teroris di Indonesia sudah melemah khusunya setelah Noordin M Top mati.

"Kepolisian melalui Densus 88 telah melakukan langkah-langkah pencegahan sehingga memberikan rasa aman kepada masyarakat," kata Hendro usai peluncuran buku "Temanku Teroris?" karya Noor Huda Ismail  di Jakarta, Kamis (15/7)

Ia memberikan apresiasi kepada kepolisian yang telah berkomitmen dalam memberantas teroris.

Menurut Hendro  pergerakan teroris setelah kematian Noordin M Top dan terakhir tertangkapnya Abdullah Sonata merupakan sebuah prestasi bagi kepolisian.

Sehingga dengan prestasi ini teroris tumbuh agak lebih lambat ini merupakan tanda kegiatan anti teror yang dilakukan Densus 88 sangat efektif.

Hendro mengatakan, teroris sekarang telah merubah strateginya dengan fokus kepada sasarannya.

"Saat ini mereka(teroris) mulai menggunakan strategi pembunuhan yang sebelumnya menggunakan pengeboman," kata Hendro.

Hendro mengatakan, teroris merubah strateginya karena dari sisi metode, menggunakan bom semakin tidak populer sehingga masyarakat semakin benci.

Menurut Hendro, jika diibaratkan sebuah pohon teroris itu daun, akarnya adalah ideologi, dan tanah habitatnya sehingga idelogi menjadi hal yang harus diperhatikan karena itu dasarnya.

Kata Hendro, salah satu faktor berkembangnya teroris selain ideologi yang sangat kuat yaitu peperangan yang terjadi di timur tengah seperti di Afganistan dan Palestina.

Saat ini, kata Hendro, banyak orang yang memberikan penilaian menyimpang berdasarkan prasangka-prasangka saja dalam menilai pergerakan terorisme.

Lanjut Hendro, seharusnya kita menilai berdasarkan fakta-fakta yang ada karena kebenaran itu hanya ada bila diungkapkan oleh orang yang mempunyai wawasan yang luas.

WDA | ANTARA

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan