Hendro: Teroris Bisa Jadi Pahlawan, tapi ...

Sabtu, 25 Juli 2009 | 15:47 WIB
Hendro: Teroris Bisa Jadi Pahlawan, tapi ...

TEMPO Interaktif, Yogyakarta - Di hadapan lima penguji dan tiga promotor, mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Hendropriyono menempuh ujian terbuka promosi doktor ilmu filsafat di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.

hendroHendro dinyatakan lulus dan memperoleh gelar doktornya dengan predikat cum laude untuk disertasinya yang berjudul "Terorisme dalam kajian filsafat analitika: relevansinya dengan ketahanan nasional."

"Saudara Hendropriyono memperoleh predikat cum laude oleh semua penguji dengan nilai yang sama dan tak terbantahkan," kata Prof. Dr. Kaelan MS selaku promotor di Gedung Pasca Sarjana, Sabtu, (25/7).

Begitu dinyatakan lulus, Hendropriyono langsung menjura kepada para profesor yang mengujinya. Di kampus UGM ini dia tercatat sebagai doktor yang diluluskan UGM untuk ke-1.089 kalinya. Sementara di Fakultas Ilmu Filsafat, dia doktor yang ke-51.

Ujian dibuka dan dipimpin oleh Muhtasyar Syamsudin, Dekan Fakultas Filsafat.
Bertindak sebagai promotor dalam ujian terbuka adalah Prof. Dr. Kaelan MS, Prof Dr. Lasio dan Prof Dr. Djoko Suryo. Sementara selaku penguji, Prof. Dr. Syafii Maarif, Prof. Dr. Syamsulhadi, Prof. Dr. Koento Wibisono, dan Dr. Mukhtasar Syamsudin.

Ruang sidang berkapasitas sekitar 200-an orang hari itu bertabur bintang dan orang-orang penting. Hadir di antaranya mantan Wakabareskrim Mabes Polri Irjen Goris Mere, Ketua Umum Partai Golkar Dr Akbar Tandjung, Gubernur Gorontalo Fadel Muhammad, mantan Gubernur DKI Sutiyoso, Ketua DPD RI Ginandjar Kartasasmita, mantan Ketua KPK Taufiqurahman Ruki, Letjen (Purn) Kiki Syachnakri, Mayjen Muchdi PR, dan mantan Ketua Mantiqi III JI Nasir Abbas yang menjadi narasumber Hendro dalam menyelesaikan tesisnya.

Prof Kaelan dalam sambutannya berharap dengan menyandang gelar doktor ini Hendropriyono bisa menyumbangkan tenaga dan pikirannya bagi negara, khususnya untuk meningkatkan intelijen negara. Apalagi Indonesia masih dibayangi-bayangi terorisme.

Disertasi yang disampaikan Hendro soal penyelesaian masalah terorisme, menurut Kaelan, menggunakan cara yang wisdom (bijak) dengan menggunakan kajian ilmu filsafat.

"Diharapkan dengan gelar doktor ini saudara bisa menyumbangkan tenaga dan pikiran, terutama kemampuan analisis intelijen bagi negara pasca kasus bom Hotel Marriott," kata Kaelan.

Pada kesempatan itu, Kaelan juga menyatakan rasa herannya soal momentum bom dan studi Hendro yang saling berkaitan. Saat tercatat sebagai mahasiswa UGM, Hendro masuk pertama kali disambut dengan bom Bali II. Saat mau lulus disambut bom JW Marriott jilid II. "Saya tidak tahu apa ini tantangan atau analisa saudara jadi terbukti," kata Kaelan yang disambut tertawa para hadirin.

Dalam menempuh studinya, Kaelan mengaku Hendro rajin datang dan tidak pernah diwakili oleh ajudannya. "Dia haus ilmu," kata Kaelan. Menjelang ujian, Hendro bahkan bimbingan sampai pukul 02.00 dinihari.

Hendro sendiri mengaku kaget saat dinyatakan lulus dan mendapat predikat cum laude. Dia berharap UGM membuka cabang Ilmu Filsafat teror. "Saya rasa UGM menjadi universitas pertama yang memiliki jurusan ini," kata dia.

Ketertarikannya mengkaji terorisme dalam ranah filsafat karena terorisme itu dalam sejarahnya tidak konsisten dalam opini publik. "Para teroris, pada suatu masa bisa menjadi pahlawan, tapi suatu saat bisa menjadi teroris, sehingga tidak konsisten," katanya.

Dalam literatur pun sulit menemukan definisi terorisme. Menurut Hendro, terorisme, objek, dan subjeknya manusia, maka dari itu berangkatnya adalah dari pikiran manusia. Pikiran manusia itu bisa dibaca oleh manusia. "Meski susah membaca pikiran orang, tapi bisa kita pahami melalui kata-kata, baik lisan maupun secara tertulis. Karena itu saya mengkaji terorisme dengan metode filsafat analitika bahasa," paparnya.

Menurut Hendro, bahasa yang digunakan dalam terorisme ternyata terbelah atas dua tata permainan bahasa, yaitu mengancam dan berdoa yang dipergunakan sekaligus. Tata permainan bahasa yang terbelah dalam terorisme itu menunjukkan bahwa teroris mempunyai kepribadian yang terbelah (split personality).

BERNADA RURIT

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan