Selasa, 22 September 2020

UNHCR Selesaikan Masalah Pengungsi Timor Leste

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta:Ada 4.323 jumlah anak Timor Timur yang berpisah dari orang tuanya, dan tersebar di seluruh Indonesia sejak dilakukannya jajak pendapat pada 1999 hingga Desember 2002. Beberapa di antaranya telah dibantu untuk bisa kembali bersama dengan keluarganya. Tetapi, yang berusia lebih 16 tahun diberi kebebasan untuk memutuskan ikut negara mana: Indonesia atau Timor Leste. Demikian diungkap Achmad Romsan, External Relation Officer UNHCR (United Nation High Commissioner for Refugees) Perwakilan Indonesia kepada Tempo News Room, usai menghadiri acara bertajuk Situasi dan Kondisi Pengungsi Timor-Timur di Timor Barat setelah Penghentian Bantuan, di Jakarta, Rabu (15/1). Achmad menjelaskan, pihaknya telah melaksanakan resettlement programme (program pengembalian) yang ditandai dengan diberhentikannya bantuan dana bagi para pengungsi dari UNHCR akhir November lalu. Sehingga mulai Desember kemarin telah dilakukan pengembalian para pengungsi dengan memberikan opsi kepada para pengungsi untuk memilih negara tempat domisili: Indonesia atau Timor Leste. Seperti diketahui, UNHCR mulai bertanggung jawab terhadap pengungsi Tiimor Timur mulai November 2001 pasca jajak pendapat dan kerusuhan di Timor-Timur. Sekitar 80 ribu pengungsi diungsikan ke Atambua, Nusa Tenggara Timur atau Timor Barat. Antara November 2001-November 2002, 50 ribu pengungsi memilih kembali ke Timor Timur. Dengan angka tertinggi pada April 2002, yakni sekitar 6.073 orang. Dari jumlah itu, sisanya sekitar 30 ribu pengungsi masih berada di lokasi pengungsian. Menurut Achmad, dari sisa pengungsi itu sudah dikembalikan ke negara tujuannya, baik Indonesia ataupun Timor Leste. Dan, tidak ada satupun yang tidak memilih kedua-duanya sehingga dapat dikatakan tidak ada lagi pengungsi di Indonesia, dan pekerjaan UNHCR sudah selesai, kata dia. Meski begitu, UNHCR masih terus mengamati perkembangan para pengungsi yang telah kembali ke negara pilihannya masing-masing. Untuk Indonesia, pihaknya telah bekerjasama dengan Departemen Pemukiman dan Prasarana Wilayah dan Kantor Menko Kesra untuk menangani masalah pengungsi. Para pengungsi itu diikutsertakan dalam program transmigrasi di seluruh kawasan di Indonesia. Program itu telah dilaksanakan dan sejauh ini berjalan dengan baik, kata Achmad. Dalam kesempatan itu, perwakilan tertinggi UNHCR untuk Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Timor Leste, Filipina dan Singapura, Robert P. Ashe, menyatakan pihaknya telah melakukan beberapa kegiatan besar di Indonesia. Antara lain, melakukan kegiatan di Timor Leste, seperti mengurusi dan mengembalikan pengungsi ke Timor Leste dan melakukan kampanye informasi dan rekonsiliasi pada masyarakat luas. Selain itu, juga mengurusi pengungsi dan pencari suaka, pelatihan bagi polisi di Indonesia bekerjasama dengan Depkeh HAM untuk menegakkan hak asasi dan hukum pengungsi, mempromosikan hukum pengungsi internasional, program contigency untuk daerah konflik. Lalu, Robert menyebutkan, pencari suaka dan pengungsi dari luar negeri di Indonesia sampai dengan akhir Desember lalu berjumlah sekitar 736 orang. Sebagian besar dari mereka berasal Irak, katanya. Sebelumnya, UNHCR telah menyelesaikan sekitar 2.233 orang pencari suaka dan pengungsi dari luar negeri di Indonesia. (Diah A. Candraningrum-Tempo News Room)

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Utak-atik Definisi Kematian Akibat Covid-19, Bandingkan dengan Uraian WHO

    Wacana definisi kematian akibat Covid-19 sempat disinggung dalam rakor penanganan pandemi. Hal itu mempengaruhi angka keberhasilan penanganan pandemi.