Selasa, 22 September 2020

KSAL Tabur Bunga di Lokasi Gugurnya Yos Sudarso

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Sorong:Kepala Staf Angkatan Laut TNI, Laksamana Bernard Kent Sondakh, Rabu (15/1), melakukan tabur bunga di Laut Arafuru untuk memperingati Hari Dharma Samudera ke-41. Peringatan dari atas geladak KRI Tanjung Rambani untuk pertama kalinya ini dilakukan tepat di posisi pertempuran yang menewaskan Komodor Yos Sudarso, yang tenggelam dengan KRI Macan Tutul. Hadir dalam upacara itu, Komandan Korps Marinir, Mayjen TNI (Mars) Achmad Rifai; Panglima Armada Kawasan Timur, Laksamana Muda Wayan Lamtik Argala; Panglima Armada Kawasan Barat, Laksamana Muda Djoko Sumaryono; dan, Komandan Lintas Laut Militer, Laksamana Muda Mualimin Santoso. Hadir pula Kepala Staf Komando Daerah Militer XII Trikora, Brigjen TNI Nurdin Zainal; Wakil Gubernur Papua, Costan Karma; dan, Ketua DPRD Papua, Jhonibo.Sebanyak 1541 personil TNI AL ikut dalam acara ini. Untuk pertama kalinya pula, upacara peringatan ini mengundang kepala suku, tokoh adat, para veteran, dan aktivis perempuan dari Papua. Mereka, antara lain, adalah Mantan Panglima OPM, Alex Mebri, tokoh adat JJ Rahawarin, veteran perang Yonas Feneteruna, dan Eni Fere dari aktivis perempuan. Dari 50 undangan yang disebar, 37 orang yang mengikuti acara ini. Sebanyak 7 kapal parchim bekas Jerman Timur yang telah mengalami pergantian mesin baru, tiga kapal korvet, dan 1 kapal selam menyemarakkan peringatan tersebut. Kent Sondakh, yang bertindak sebagai inspektur upacara, memimpinnya dengan khidmat dan singkat. Usai upacara, Kent bersama tokoh adat, kepala suku, Ketua DPRD, dan Wakil Gubernur Papua melarung bunga ke Laut Arafuru. Suasana haru pun terjadi. Mata Kent berkaca-kaca saat melihat Yonas dan Eni menangis. "Saya sangat terharu mendengar komentar para kepala suku yang sangat polos. Kalimat pertama yang keluar dari mereka adalah gugurnya Yos Sudarso, Irian bisa kembali ke Indonesia. Sebab, pengorbanan Yos Sudarso bisa melepaskan dari cengkeraman orang Belanda. Makna pengorbanan inilah yang sering kita lupakan," papar Kent. Ia juga melihat, masyarakat sekarang sudah melupakan para pahlawan yang telah gugur. Dengan demikian, melalui upacara ini diharapkan bisa mengenang mereka kembali. Kent memprogramkan, pada tanggal 15 Januari, setiap kapal yang berada di kawasan timur agar melaksanakan acara tabur bunga di Laut Arafuru. "Yang memimpin tidak harus saya. Bisa Panglima Armada Timur, bisa Komandan Gugus Keamanan Laut," tandas pria kelahiran Tobelo ini. Seperti diketahui, peristiwa tenggelamnya KRI Macan Tutul dikenal sebagai Peristiwa Aru terjadi pada 15 Januari 1962. Yos Sudarso sebagai Deputi KSAL memimpin operasi guna menghadapi Belanda. Misi infiltrasi ini dilakukan secara rahasia. Cuma, patroli Belanda mengetahui dan menembaki kapal tersebut. Akibatnya, kapal pun tenggelam, dan Yos gugur bersama 25 awak kapal. Hingga sekarang, jenazah Yos Sudarso dan bangkai kapal tidak ditemukan. Sementara itu, kapal eks Jerman Timur yang melakukan perjalanan jauh dari Pulau Jawa ke Papua untuk pertama kalinya dinilai Kent dalam kondisi yang bagus. Kapal-kapal tersebut dapat meluncur dengan kecepatan hampir 22 knot. Kapal yang telah mengalami repowering itu, bahkan bisa mengirit biaya solar dari 30 ribu solar per hari menjadi 12 ribu solar per hari. Kapal-kapal ini, pada tanggal 17 Januari mendatang ikut operasi ampibi 2003 di Sorong. (Bernarda Rurit - Tempo News Room)

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Utak-atik Definisi Kematian Akibat Covid-19, Bandingkan dengan Uraian WHO

    Wacana definisi kematian akibat Covid-19 sempat disinggung dalam rakor penanganan pandemi. Hal itu mempengaruhi angka keberhasilan penanganan pandemi.