Ini Alasan Kenapa Pasar Cinde Palembang Harus Diselamatkan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pasar tradisional Cinde yang melirik arsitek Thomas Kasrten dengan struktur utama memakai kontruksi cendawan seperti pasar djohar semarang. TEMPO/hmad Supardi

    Pasar tradisional Cinde yang melirik arsitek Thomas Kasrten dengan struktur utama memakai kontruksi cendawan seperti pasar djohar semarang. TEMPO/hmad Supardi

    TEMPO.CO, Jakarta - Pasar Cinde di Kota Palembang yang telah menjadi bangunan cagar budaya sebentar lagi akan dirobohkan dan berganti pasar modern Aldiron Plaza Cinde. Rencana ini menuai kritik keras dari para aktivis, akademisi dan praktisi di Sumatera Selatan.

    Mereka menilai Pasar Cinde merupakan  salah satu ikon Palembang seperti halnya Jembatan Ampera, Benteng Kuto Besak, dan Bukit Siguntang.

    Pasar Cinde sudah berumur 59 tahun da masuk sebagai salah satu cagar budaya tingkat kota sesuai SK Wali Kota Palembang Nomor 179a/KPTS/DISBUD/2017 tanggal 31 Maret 2017 dan terdaftar dalam Objek Registrasi Nasional Cagar Budaya dengan Nomor ID Pendaftaran Objek PO2016063000005 tanggal 30 Juni 2016.  

    Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Sumatera Selatan, Zubair Angkasa, menegaskan kalau Pasar Tradisonal Cinde dibongkar maka Kota Palembang kehilangan bangunan dengan arsitek yang unik. Pasar Tradisional Cinde dibangun pada 1958 dengan melirik arsitek Thomas Karsten, dengan struktur utama memakai kontruksi cendawan seperti Pasar Djohar di Semarang. Pasar ini telah menjadi ikon yang memberikan identitas masyarakat dan Kota Palembang.

    “Pasar Tradisional Cinde sebagai landmark kota. Sayanglah kalau dibongkar, cukup di revitalisasi saja,” ujarnya saat ditemui Tempo, Selasa 12 September 2017 di Universitas Muhammadiyah Palembang.

    Menurutnya, pelestarian mempertahankan keberadaan cagar budaya dan nilainya itu penting, caranya dengan perlindungan, pengembangan dan pemanfaatan.

    “Bila ada kerusakan, kehancuran dan kemusnahan, ya diselamatkan, diamankan, dipelihara dan dipugarkan. Bukan dibongkar,” tegasnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Korban Konflik Lahan Era SBY dan 4 Tahun Jokowi Versi KPA

    Konsorsium Pembaruan Agraria menyebutkan kasus konflik agraria dalam empat tahun era Jokowi jauh lebih banyak ketimbang sepuluh tahun era SBY.