16 Orang Jadi Tersangka Peredaran Pil PCC di Sultra  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Polda Sultra bersama BNN Provinsi merilis hasil tangkapan ribuan pil Tramadol dan PCC yang diduga digunakan puluhan pelajar di Kota Kendari hingga menyebabkan mereka kehilangan kesadaran. Rilis dilakukan pada Kamis 14 September 2017 di aula media center Polda Sultra. ROSNIAWANTY FIKRI/ TEMPO

    Polda Sultra bersama BNN Provinsi merilis hasil tangkapan ribuan pil Tramadol dan PCC yang diduga digunakan puluhan pelajar di Kota Kendari hingga menyebabkan mereka kehilangan kesadaran. Rilis dilakukan pada Kamis 14 September 2017 di aula media center Polda Sultra. ROSNIAWANTY FIKRI/ TEMPO

    TEMPO.CO, Kendari - Kepolisian Daerah Sulawesi Tenggara telah menetapkan 16 tersangka dalam kasus peredaran pil PCC di wilayah tersebut. Polisi juga telah membentuk satuan tugas pengawasan peredaran PCC di Sulawesi Tenggara.

    "Hingga hari ini, polisi memeriksa 50 orang saksi dan menetapkan 16 orang tersangka," kata Kepala Bidang Humas Polda Sulawesi Tenggara Ajun Komisaris Besar Sunarto kepada wartawan di kantornya, Senin, 18 September 2017.

    Sunarto mengatakan, dari para tersangka, polisi menyita 5.428 butir obat terlarang, yang terdiri atas 1.647 butir tramadol, 3.403 butir PCC, dan 738 butir promed, serta uang tunai sekitar Rp 7 juta dan satu unit telepon seluler.

    Baca juga: Polisi Didesak Jerat Pengedar PCC dengan Pasal Berlapis

    Menurut Sunarto, para tersangka mengaku menjual dan mengedarkan PCC karena desakan ekonomi.

    "Selain itu, keuntungan yang didapat dua kali lipat. Sebagai gambaran, beli satu kaleng isi seribu butir senilai Rp 600 ribu. Untung bersih Rp 1,2 juta," ujarnya.

    Para tersangka dijerat Pasal 197 juncto Pasal 106 ayat 1 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan dengan ancaman 15 tahun penjara

    Berdasarkan data terakhir, korban yang masih dirawat akibat mengonsumsi pil PCC berjumlah 76 orang. Sebelumnya, mereka dirawat di lima rumah sakit dan satu puskesmas. Semua korban yang dirawat sudah kembali ke rumah masing-masing.

    ROSNIAWANTY FIKRI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tito Karnavian Anggap OTT Kepala Daerah Bukan Prestasi Hebat

    Tito Karnavian berkata bahwa tak sulit meringkus kepala daerah melalui OTT yang dilakukan Komisi Pemerantasan Korupsi. Wakil Ketua KPK bereaksi.