Senin, 19 Februari 2018

Penyidik Telusuri Motif Pengiriman Uang Asma kepada Saracen  

Oleh :

Tempo.co

Kamis, 14 September 2017 07:59 WIB
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Penyidik Telusuri Motif Pengiriman Uang Asma kepada Saracen  

    Asma Dewi. facebook.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Badan Reserse Kriminal Kepolisian RI menelusuri motif pengiriman uang oleh Asma Dewi, 52 tahun, kepada grup Saracen. "Untuk kegiatan apa saja uang itu?" kata juru bicara Markas Besar Polri, Brigadir Jenderal Rikwanto, saat ditemui di Sekolah Polisi Negara, Pekanbaru, Rabu, 13 September 2017. Penyidik juga mencari tahu kemungkinan pengiriman uang itu untuk mencapai target tertentu.

    Asma Dewi tidak termasuk dalam struktur organisasi Saracen. Namun diperkirakan dia memiliki kepentingan dengan kelompok tersangka penerima pesanan ujaran kebencian itu. "Diduga memesan sesuatu dari Saracen," ujar Rikwanto.

    Baca:
    PPATK: Masih Banyak yang akan Dijadikan Tersangka...
    Gerindra Dikaitkan dengan Saracen, Fadli Zon: Usut Saja

    Penyidik Bareskrim menangkap Asma di rumah kakaknya di Kompleks Polri Ampera Raya, Jakarta Selatan, pada Jumat, 8 September 2017. Asma ditangkap karena diduga menyebarkan ujaran kebencian bermuatan SARA melalui jejaring sosial Facebook.

    Jejak Asma Dewi terendus polisi setelah tim penyidik menemukan  ibu rumah tangga itu pernah mentransfer uang Rp 75 juta kepada NS, anggota inti Saracen. "Kami sedang kembangkan terus asal uang itu."

    Baca:
    ICW Curigai Komposisi Majelis Hakim Konstitusi Pemutus...
    KPK Ingatkan Demokrat: 32 Pesakitan Itu Aktor Politik

    Laporan hasil analisis Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) menemukan adanya pengiriman uang itu kepada salah satu pentolan Saracen. Laporan itu telah diserahkan PPATK kepada Bareskrim pada Rabu, 13 September, 2017.

    RIYAN NOFITRA



     

     

    Selengkapnya
    Grafis

    JR Saragih dan 4 Calon Kepala Daerah Terganjal Ijazah dan Korupsi

    JR Saragih dicoret dari daftar peserta pemilihan gubernur Sumut oleh KPU karena masalah ijazah, tiga calon lain tersandung dugaan korupsi.